Screenshot

Antusiasme Warga Madura Sambut Presiden Prabowo, Potret Kedekatan Pemimpin dengan Rakyat

 

Kedatangan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, ke Kabupaten Sampang dan Kabupaten Bangkalan pada Selasa, 23 Juni 2026, menghadirkan suasana yang begitu istimewa. Ribuan masyarakat dari berbagai kalangan tampak memadati sejumlah titik yang dilalui Presiden. Mereka rela menunggu berjam-jam di bawah terik matahari demi dapat melihat secara langsung sosok pemimpin yang kini memimpin Indonesia.

Antusiasme masyarakat Madura, khususnya warga Sampang dan Bangkalan, menjadi gambaran nyata betapa besar harapan rakyat kepada Presiden Prabowo Subianto. Sejak pagi hari, masyarakat telah memadati lokasi kedatangan dan sepanjang jalur yang akan dilalui rombongan Presiden. Tidak sedikit di antara mereka yang datang bersama keluarga, anak-anak, hingga para tokoh masyarakat dan santri yang ingin menyaksikan secara langsung momen bersejarah tersebut.

Suasana semakin meriah ketika helikopter yang membawa Presiden Prabowo mendarat. Kehadiran Kepala Negara kemudian disambut dengan kendaraan kepresidenan produksi PT Pindad, yang menjadi simbol kemandirian industri pertahanan nasional. Sorak-sorai masyarakat pun menggema menyambut kedatangan orang nomor satu di Indonesia tersebut.

Yang paling membahagiakan masyarakat adalah ketika Presiden Prabowo Subianto tidak hanya sekadar melintas, tetapi juga berkenan mendekati warga yang telah lama menunggu kedatangannya. Dengan penuh keramahan, Presiden menyapa dan menyalami masyarakat yang antusias menyambutnya. Momen tersebut mencerminkan adanya hubungan emosional yang hangat antara pemimpin dan rakyatnya.

Interaksi yang terjalin secara spontan itu memperlihatkan bahwa kepemimpinan sejatinya bukan hanya soal kebijakan dan kekuasaan, tetapi juga tentang kedekatan dan perhatian kepada masyarakat. Rakyat yang menunggu dengan penuh kesabaran mendapatkan respons positif dari pemimpin yang mereka nantikan. Sebuah pemandangan yang menghadirkan optimisme dan semangat kebersamaan.

Kehadiran Presiden Prabowo di Bangkalan sendiri merupakan bagian dari agenda penutupan Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Alim Ulama Nahdlatul Ulama sebagai rangkaian persiapan menuju Muktamar Nahdlatul Ulama yang akan diselenggarakan pada 1–5 Agustus 2026 mendatang. Momentum tersebut memiliki makna penting, tidak hanya bagi warga Nahdliyin, tetapi juga bagi kehidupan kebangsaan yang menjunjung tinggi persatuan dan ukhuwah.

Lebih dari sekadar kunjungan kenegaraan, kedatangan Presiden Prabowo ke Pulau Madura diharapkan membawa dampak positif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kehadiran Kepala Negara tentu menjadi perhatian besar yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, mempercepat pembangunan, serta meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, dan berbagai sektor lainnya di Madura.

Sebagai kunjungan pertama Presiden Prabowo Subianto ke Pulau Madura sejak menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, momen ini memiliki nilai sejarah tersendiri. Kehangatan sambutan masyarakat dan kedekatan Presiden dengan rakyat menjadi pesan bahwa persatuan dan kebersamaan tetap menjadi modal utama dalam membangun Indonesia yang semakin maju.

Semoga kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Sampang dan Bangkalan membawa keberkahan bagi masyarakat Madura, memperkuat persaudaraan antarwarga, serta menghadirkan kesejahteraan yang semakin nyata bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Pemimpin yang dicintai rakyat adalah pemimpin yang hadir di tengah masyarakat, mendengarkan harapan mereka, dan memberikan harapan baru bagi masa depan bangsa.”

9bc29cd1-a613-4bea-823e-781a19b524f7

Turnamen Tenis Meja Galatama PTMSI Bangkalan Berlangsung Meriah, Farouq Raih Juara Pertama

Bangkalan – Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) Kabupaten Bangkalan sukses menggelar Turnamen Tenis Meja Galatama pada Minggu (21/6/2026) di Bangkalan Plaza. Kejuaraan yang dimulai pukul 10.00 WIB hingga selesai tersebut berlangsung meriah dan mendapat antusiasme tinggi dari para atlet maupun masyarakat pecinta tenis meja.

Turnamen Galatama kali ini diikuti oleh atlet-atlet tenis meja dari berbagai wilayah di Kabupaten Bangkalan. Tidak hanya menghadirkan persaingan yang kompetitif, kejuaraan tersebut juga menjadi ajang silaturahmi dan pembinaan bagi para pemain dari berbagai tingkatan.

Suasana pertandingan semakin semarak karena mempertandingkan seluruh kelas, mulai dari kelas B, kelas A hingga kelas A Plus. Hal ini menjadikan setiap laga berlangsung menarik dan menghibur, sehingga para penonton yang memadati arena pertandingan di Bangkalan Plaza dapat menikmati permainan-permainan berkualitas yang diperagakan para atlet.

Setelah melalui pertandingan yang berlangsung sengit, Farouq berhasil keluar sebagai juara pertama. Posisi juara kedua diraih oleh Yunus, sedangkan juara ketiga bersama ditempati oleh Puji Perdana dan Tanto.

Ketua Umum PTMSI Kabupaten Bangkalan, dr. Prima Nugroho, menyampaikan apresiasi atas suksesnya pelaksanaan Turnamen Galatama tersebut. Menurutnya, kegiatan ini menjadi salah satu wadah penting untuk meningkatkan kemampuan sekaligus menjaga semangat kompetitif para atlet tenis meja di Kabupaten Bangkalan.

“Turnamen Galatama ini merupakan ajang yang sangat positif bagi pembinaan atlet. Kami mengapresiasi seluruh peserta yang telah menunjukkan semangat sportivitas dan permainan yang menarik. Semoga kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga mampu meningkatkan prestasi atlet tenis meja Kabupaten Bangkalan di tingkat yang lebih tinggi,” ujar dr. Prima Nugroho.

Dengan terselenggaranya Turnamen Galatama PTMSI Kabupaten Bangkalan tahun 2026, diharapkan akan semakin banyak lahir atlet-atlet potensial yang mampu mengharumkan nama Kabupaten Bangkalan di berbagai kejuaraan, baik tingkat regional maupun nasional. Selain menjadi sarana kompetisi, turnamen ini juga menjadi hiburan olahraga yang menarik bagi masyarakat dan memperkuat semangat kebersamaan di kalangan pecinta tenis meja di Kota Dzikir dan Shalawat.

37adc4c4-c71e-4749-8ed3-b34a22925ee4

Ziarah kepada Jamaah Haji: Tradisi Khas Indonesia yang Sarat Doa dan Persaudaraan

Kepulangan jamaah haji selalu menghadirkan suasana yang penuh kebahagiaan. Tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi masyarakat sekitar yang ikut merasakan kegembiraan atas selesainya rukun Islam kelima tersebut. Di Indonesia, khususnya di Madura, terdapat tradisi yang telah berlangsung turun-temurun, yaitu silaturahmi atau “ziarah haji” kepada orang yang baru kembali dari Tanah Suci.

Tradisi ini bukanlah ziarah ke makam, melainkan kunjungan kepada saudara, tetangga, atau kerabat yang baru pulang dari Makkah. Masyarakat datang berbondong-bondong untuk mengucapkan selamat, menikmati jamuan sederhana, menerima oleh-oleh, mendengarkan kisah perjalanan spiritual, serta yang paling utama meminta doa dan keberkahan dari jamaah haji yang diyakini baru saja menyelesaikan ibadah yang sangat mulia.

Di Madura, tradisi tersebut memiliki nuansa yang sangat khas. Bahkan, dalam beberapa hari setelah kepulangan jamaah, rumah seorang haji hampir tidak pernah sepi dari tamu. Mereka datang dari berbagai kalangan, mulai dari keluarga dekat, tetangga, sahabat, hingga masyarakat yang memiliki hubungan sosial yang jauh. Kehadiran mereka bukan semata-mata untuk menikmati hidangan atau memperoleh buah tangan, melainkan sebagai bentuk penghormatan dan ikhtiar memperoleh doa agar kelak diberi kesempatan yang sama untuk menunaikan ibadah haji.

Tradisi ini sesungguhnya memiliki akar dalam khazanah Islam. Para ulama mazhab Syafi’i menjelaskan bahwa orang yang baru pulang dari haji dianjurkan untuk mendoakan kaum muslimin lainnya, sedangkan orang yang belum berhaji dianjurkan meminta doa kepada mereka. Bahkan, sebagian ulama menyebutkan bahwa keutamaan tersebut berlangsung hingga empat puluh hari setelah kepulangan jamaah haji. (Jurnal Daarul Huda⁠)

Menariknya, tradisi seperti ini hampir tidak ditemukan dalam skala yang sama di Arab Saudi ataupun sebagian besar negara Timur Tengah. Di sana, kepulangan jamaah haji umumnya hanya disambut oleh keluarga dekat dan kerabat terdekat secara sederhana. Tidak ada tradisi kunjungan massal selama berhari-hari, tidak pula kebiasaan menjamu tamu dalam jumlah besar sebagaimana yang lazim dilakukan masyarakat Indonesia.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia telah berhasil memadukan nilai-nilai Islam dengan budaya lokal yang menjunjung tinggi silaturahmi, gotong royong, dan penghormatan terhadap sesama. Budaya ini menjadi kekayaan sosial yang tidak dimiliki oleh semua bangsa muslim di dunia.

Namun demikian, tradisi meminta doa dan mencari keberkahan hendaknya dipahami secara proporsional. Keberkahan sesungguhnya berasal dari Allah SWT, sedangkan jamaah haji hanyalah saudara sesama muslim yang baru saja menyelesaikan ibadah mulia dan diharapkan memperoleh predikat haji mabrur. Karena itu, penghormatan kepada mereka tidak boleh melahirkan sikap berlebihan yang dapat mengarah kepada pengkultusan individu.

Pada hakikatnya, tradisi ziarah haji di Madura dan Indonesia merupakan simbol kuatnya ukhuwah Islamiyah. Rumah seorang haji berubah menjadi ruang silaturahmi yang mempertemukan keluarga yang lama tidak bertemu, tetangga yang jarang berkunjung, bahkan sahabat lama yang terpisah oleh waktu. Di sana, makanan menjadi sarana berbagi, oleh-oleh menjadi simbol kasih sayang, dan doa menjadi perekat persaudaraan.

Di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis, tradisi semacam ini patut dijaga dan dilestarikan. Sebab, nilai terbesar dari ziarah kepada jamaah haji bukanlah pada hidangan yang tersaji atau oleh-oleh yang dibawa, melainkan pada terbangunnya ikatan persaudaraan dan tumbuhnya harapan bersama agar semakin banyak umat Islam yang mendapat panggilan suci ke Baitullah.

Mungkin inilah salah satu wajah Islam Indonesia yang paling indah: Islam yang ramah, penuh kekeluargaan, dan menjadikan silaturahmi sebagai bagian dari ibadah serta sumber keberkahan bagi kehidupan bersama. (beritasatu.com⁠)

IMG-20260615-WA0017

“Kelas Kosong, Guru Tetap Hadir: Rutinitas yang Sia-Sia atau Sekadar Formalitas Birokrasi?”

Oleh: Suraji, Praktisi Pendidikan

Setiap akhir tahun pelajaran maupun masa libur semester, polemik mengenai apakah guru harus tetap masuk sekolah atau mengikuti libur peserta didik selalu kembali muncul. Perdebatan ini hampir terjadi di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Bangkalan. Ada daerah yang memberikan libur kepada guru sesuai kalender pendidikan, tetapi ada pula yang mewajibkan guru tetap hadir ke sekolah meskipun tidak ada peserta didik dan tidak berlangsung kegiatan pembelajaran.

Perbedaan kebijakan tersebut lahir dari adanya perbedaan penafsiran terhadap berbagai regulasi yang berlaku. Di satu sisi, pemerintah daerah berpedoman pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara, Peraturan Presiden Nomor 21 Tahun 2023, serta ketentuan sebelumnya dalam PP Nomor 11 Tahun 2017 dan PP Nomor 17 Tahun 2020. Regulasi tersebut menegaskan bahwa ASN memiliki kewajiban memenuhi jam kerja sebesar 37,5 jam per minggu sehingga aspek kehadiran menjadi salah satu ukuran kinerja.

Konsekuensinya, guru sebagai ASN dipandang tetap harus hadir di sekolah sekalipun peserta didik sedang libur dan tidak ada kegiatan belajar mengajar. Kehadiran fisik dianggap sebagai bentuk pemenuhan kewajiban jam kerja.

Namun di sisi lain, terdapat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional serta Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang menempatkan guru sebagai tenaga profesional. Dalam regulasi tersebut, guru juga memiliki hak untuk memperoleh waktu istirahat, cuti, dan pengembangan diri sebagai bagian dari hak profesinya.

Di sinilah letak paradoks yang selama ini terjadi. Guru dituntut memenuhi kewajiban sebagai ASN, tetapi pada saat yang sama memiliki hak-hak profesional yang dijamin oleh undang-undang. Akibatnya, muncul perbedaan kebijakan di berbagai daerah.

Di Provinsi Jawa Timur misalnya, terdapat sejumlah kabupaten dan kota yang memberlakukan libur guru mengikuti kalender pendidikan. Ketika peserta didik libur dan tidak ada aktivitas sekolah, guru juga diberikan kesempatan untuk beristirahat. Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Bangkalan lebih berpedoman pada regulasi ASN sehingga guru tetap diwajibkan hadir ke sekolah selama jam kerja berlangsung.

Perbedaan kebijakan tersebut sebenarnya menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk melakukan harmonisasi regulasi. Sebab, secara historis sejak masa awal sistem pendidikan nasional, guru memang diberikan hak untuk menikmati masa libur dan cuti. Bahkan pekerjaan administratif seperti penyusunan perangkat pembelajaran, evaluasi hasil belajar, maupun tugas lainnya pada umumnya telah diselesaikan sebelum memasuki masa liburan.

Karena itu, diperlukan legal opinion dan kebijakan yang lebih tegas dari pemerintah agar tidak terjadi multitafsir setiap tahun. Kehadiran guru semestinya tidak semata-mata diukur dari kehadiran fisik di sekolah, tetapi lebih pada pemenuhan beban kerja profesional yang meliputi jam tatap muka, tugas tambahan, serta aktivitas administrasi pendidikan.

Dalam konteks efisiensi anggaran yang saat ini menjadi perhatian pemerintah, termasuk di tengah berbagai tantangan global dan konflik internasional yang berdampak pada perekonomian, sudah saatnya dipertimbangkan model kerja yang lebih fleksibel. Salah satu alternatif yang layak dikaji adalah penerapan Work From Home (WFH) bagi guru selama masa libur peserta didik.

Kebijakan tersebut tidak hanya lebih ekonomis dan efisien, tetapi juga memberikan kesempatan bagi guru untuk beristirahat, meningkatkan kompetensi, serta mempersiapkan diri menghadapi semester berikutnya. Dengan demikian, keseimbangan antara hak profesional guru dan kewajiban sebagai ASN dapat terjaga secara proporsional.

Sudah saatnya pemerintah, khususnya Dinas Pendidikan Kabupaten Bangkalan, bersama pemerintah pusat melakukan kajian dan penyelarasan regulasi agar polemik tahunan mengenai libur guru tidak terus berulang. Sebab, tujuan utama pendidikan bukan sekadar memastikan guru hadir di ruang sekolah yang kosong, melainkan memastikan guru tetap memiliki kualitas, semangat, dan kesiapan terbaik untuk mendidik generasi bangsa.

Persoalan ini pada akhirnya bukan sekadar tentang masuk atau tidak masuk sekolah saat libur semester, tetapi tentang bagaimana negara memandang profesi guru sebagai profesi yang harus dihargai sekaligus dikelola secara adil dan manusiawi.

66105374-da08-48cb-9feb-72cb198e3915

Wamendikdasmen Tegaskan Arah Baru Pendidikan Nasional: Berkualitas, Berkeadilan, dan Merata

Surabaya, 14 Juni 2026 — Resepsi Milad ke-3 Maklumat Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur yang diselenggarakan di Hotel Santika Surabaya, Ahad (14/6/2026), berlangsung semarak dan penuh nuansa kebangsaan. Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional mulai dari Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, anggota DPR RI, anggota DPD RI, Wakil Gubernur Jawa Timur, para rektor perguruan tinggi, hingga berbagai tokoh masyarakat dan kader Muhammadiyah dari berbagai daerah.

Kehadiran para tokoh tersebut menunjukkan besarnya perhatian terhadap perkembangan LHKP PWM Jawa Timur beserta media yang dikelolanya, yakni Maklumat.id, yang dalam usia relatif muda telah menunjukkan kiprah yang signifikan dalam ruang publik dan media kontemporer.

Dalam sambutannya, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Makmun Murod, M.Si., memberikan apresiasi atas perjalanan Maklumat.id yang dinilai mampu tumbuh menjadi media yang produktif dan konsisten menghadirkan narasi-narasi yang mencerahkan. Menurutnya, kehadiran media yang lahir dari rahim Muhammadiyah tersebut menjadi bagian penting dalam mengawal kehidupan kebangsaan sekaligus memperkuat literasi masyarakat di tengah derasnya arus informasi digital.

Apresiasi serupa juga disampaikan oleh Dr. H. Emil Elestianto Dardak, B.Bus., M.Sc., Ph.D., Wakil Gubernur Jawa Timur. Emil Dardak menilai Maklumat.id merupakan pendatang baru di dunia media, namun mampu menunjukkan produktivitas yang luar biasa dalam pergulatan media kontemporer yang sangat dinamis. Di tengah persaingan yang semakin ketat, keberadaan media yang mengedepankan nilai-nilai kebangsaan, moderasi, dan pencerahan menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat.

Maklumat.id telah menunjukkan bahwa media yang lahir dari semangat dakwah dan intelektualitas mampu bersaing dan memberikan kontribusi positif bagi ruang publik,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah dalam arahannya menyampaikan refleksi panjang mengenai perjalanan kebijakan pendidikan nasional sejak masa Orde Lama hingga era saat ini. Menurutnya, berbagai perubahan kebijakan yang terjadi selama beberapa dekade telah membawa dampak besar terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia.

Ia menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya menghadirkan pendidikan yang bermutu untuk semua serta pendidikan yang berkeadilan melalui pemerataan akses dan kualitas yang proporsional di seluruh wilayah Indonesia. Upaya tersebut menjadi bagian dari cita-cita besar bangsa untuk memastikan setiap anak Indonesia memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas tanpa terkecuali.

Selain isu pendidikan, para pemateri lainnya juga menyoroti situasi kebangsaan terkini dan dinamika geopolitik internasional yang berkembang begitu cepat. Berbagai tantangan global yang terjadi saat ini menuntut bangsa Indonesia untuk semakin memperkuat persatuan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta membangun kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, dan seluruh komponen bangsa.

Pada kesempatan tersebut, perkembangan pergerakan LHKP PWM Jawa Timur juga mendapat perhatian khusus. Dalam usia yang baru menginjak tiga tahun, lembaga ini dinilai telah menunjukkan perkembangan yang sangat menggembirakan. Melalui berbagai program kaderisasi dan penguatan wawasan kebangsaan, LHKP PWM Jawa Timur telah berhasil melahirkan banyak kader yang kini berkiprah di berbagai sektor strategis, baik di lingkungan pemerintahan, dunia pendidikan, organisasi kemasyarakatan, maupun bidang lainnya.

Capaian tersebut menjadi bukti bahwa gerakan kaderisasi yang dilakukan secara konsisten mampu melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa. Karena itu, berbagai pihak memberikan apresiasi sekaligus berharap agar LHKP PWM Jawa Timur terus memperkuat sinergi dengan seluruh elemen bangsa.

Resepsi Milad ke-3 Maklumat LHKP PWM Jawa Timur ini tidak sekadar menjadi peringatan hari lahir, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkokoh kolaborasi, memperluas jejaring, serta menghadirkan gagasan-gagasan strategis demi terwujudnya Indonesia yang lebih maju, berkeadilan, dan berkemajuan.

e290998c-f167-4113-a517-2510ed313266

Kuota Rombel dan Hak Anak Bersekolah: Regulasi Tidak Boleh Menjadi Penghalang

Setiap tahun ajaran baru, persoalan daya tampung sekolah kembali menjadi perhatian masyarakat. Di berbagai daerah, tidak sedikit sekolah dasar yang menjadi pilihan utama warga sehingga jumlah pendaftar jauh melampaui kuota rombongan belajar (rombel) yang tersedia. Akibatnya, muncul pertanyaan mendasar: apakah keterbatasan kuota harus berujung pada tertutupnya akses pendidikan bagi sebagian anak?

Pemerintah sebenarnya telah menetapkan standar jumlah peserta didik SD sebanyak maksimal 28 siswa per rombel. Ketentuan tersebut dimaksudkan untuk menjaga mutu layanan pendidikan agar proses pembelajaran berlangsung secara efektif. Namun, realitas di lapangan sering kali menunjukkan kondisi yang berbeda. Sebaran penduduk yang tidak merata, keterbatasan jumlah sekolah di suatu wilayah, serta tingginya minat masyarakat terhadap sekolah tertentu membuat standar tersebut tidak selalu dapat diterapkan secara ideal.

Menariknya, regulasi terbaru justru memberikan ruang bagi daerah untuk mengakomodasi kondisi-kondisi khusus tersebut. Melalui Permendikdasmen Nomor 26 Tahun 2025 yang kemudian ditindaklanjuti dengan Kepmendikdasmen Nomor 14 Tahun 2026, pemerintah membuka mekanisme verifikasi dan validasi bagi satuan pendidikan yang mengalami kondisi pengecualian. Dengan kata lain, ketentuan mengenai jumlah murid dan jumlah rombel bukanlah aturan yang kaku tanpa solusi.

Dalam Bab I huruf E angka 3 Kepmendikdasmen Nomor 14 Tahun 2026 dijelaskan bahwa kondisi pengecualian merupakan keadaan tertentu yang bersifat objektif, berdasarkan kebutuhan riil di wilayah, dan bersifat sementara yang memungkinkan satuan pendidikan melebihi ketentuan maksimal jumlah peserta didik per rombel maupun jumlah rombel. Ketentuan ini menunjukkan bahwa negara memahami adanya dinamika dan kebutuhan yang berbeda-beda di setiap daerah.

Karena itu, kuota dalam Dapodik seharusnya tidak dipahami sebagai sesuatu yang sepenuhnya tertutup untuk disesuaikan. Regulasi telah menyediakan mekanisme yang memungkinkan pemerintah daerah mengusulkan penyesuaian berdasarkan hasil verifikasi dan validasi. Dengan demikian, yang dibutuhkan adalah komunikasi dan koordinasi yang baik antara sekolah, pemerintah daerah, serta kementerian agar kebutuhan masyarakat dapat terlayani tanpa mengabaikan standar mutu pendidikan.

Pada akhirnya, pendidikan tidak semata-mata berbicara tentang angka dan kuota, tetapi tentang memastikan setiap anak memperoleh haknya untuk belajar. Regulasi telah menyediakan ruang bagi kondisi-kondisi khusus melalui mekanisme pengecualian. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan satuan pendidikan menjadi kunci agar standar mutu tetap terjaga tanpa mengorbankan akses pendidikan bagi anak-anak Indonesia.

Suraji
Praktisi Pendidikan

de9af393-9bdb-468d-bea9-b75cdc48fa04

Menembus Jalan Berliku Demi Menyalakan Semangat Menulis

Menembus Jalan Berliku Demi Menyalakan Semangat Menulis

Oleh: Siti Rohimah, S.Pd., Kepala SDN Langkap 3 Kecamatan Burneh

Tidak semua perjalanan menuju ilmu selalu mulus. Ada kalanya, jalan yang harus ditempuh penuh tantangan dan rintangan. Namun, justru dari perjalanan itulah tersimpan kisah yang menginspirasi dan memberikan makna mendalam.

Begitulah yang saya rasakan ketika bersama Ibu Vera, Kepala SDN Langkap 5, menghadiri Workshop Penulisan Artikel Ilmiah yang diselenggarakan oleh KKG Guslah 4 Kecamatan Burneh di UPTD SDN Binoh 1 pada Kamis, 11 Juni 2026.

Perjalanan menuju lokasi ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Jalan utama dari Desa Langkap menuju Binoh sedang dalam perbaikan sehingga akses utama ditutup. Kami pun harus mencari jalan alternatif. Jalan tersebut berkelok-kelok, sempit, dan melewati pematang sawah serta rumah-rumah penduduk. Bahkan beberapa kali kami berpapasan dengan kendaraan lain sehingga salah satu mobil harus mengalah untuk mencari ruang yang cukup agar dapat saling melintas.

Situasi seperti itu bukan hanya terjadi saat berangkat, tetapi juga saat perjalanan pulang. Namun, semua itu tidak mengurangi semangat kami untuk menimba ilmu. Justru perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa untuk memperoleh sesuatu yang bernilai, terkadang dibutuhkan perjuangan dan kesungguhan.

Sesampainya di lokasi, rasa lelah seakan terbayar lunas. Workshop yang menghadirkan Suraji, M.Pd. sebagai narasumber tersebut memberikan pengalaman yang sangat berharga. Materi tentang menulis artikel ilmiah disampaikan dengan cara yang sederhana, mudah dipahami, dan langsung dapat dipraktikkan. Suasana kegiatan berlangsung santai namun tetap serius, sehingga membuat seluruh peserta merasa nyaman untuk belajar dan berdiskusi.

Hal yang paling menarik bagi saya adalah tumbuhnya keberanian untuk mulai menulis artikel ilmiah dan menerbitkannya pada jurnal penelitian. Selama ini, banyak guru memiliki pengalaman dan inovasi pembelajaran yang luar biasa, namun belum banyak yang terdokumentasi dalam bentuk tulisan ilmiah. Padahal, melalui tulisan itulah gagasan dan inovasi dapat dibaca, dipelajari, dan memberikan manfaat bagi banyak orang.

Workshop ini menyadarkan saya bahwa menulis bukanlah sesuatu yang sulit. Menulis adalah keterampilan yang bisa dipelajari dan dibiasakan. Yang terpenting adalah memiliki kemauan untuk memulai.

Pengalaman berharga ini menjadi harapan positif yang ingin saya maksimalkan implementasinya di SDN Langkap 3. Saya ingin menumbuhkan budaya literasi dan pembiasaan menulis bersama teman-teman guru. Saya percaya bahwa guru bukan hanya mengajar di kelas, tetapi juga dapat menjadi penulis yang mampu menghasilkan karya ilmiah dan melahirkan berbagai inovasi pembelajaran.

Perjalanan melalui jalan yang sempit dan berliku menuju Binoh pada hari itu seakan menjadi simbol perjalanan seorang guru dalam menulis. Memang tidak selalu mudah, terkadang ada hambatan dan tantangan. Namun, selama ada semangat, kemauan, dan keyakinan, maka tujuan akan dapat dicapai.

Karena sesungguhnya, ilmu yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh akan melahirkan manfaat yang besar. Dan dari sebuah perjalanan sederhana menembus pematang sawah dan jalan alternatif yang sempit, saya belajar bahwa semangat untuk terus belajar dan menulis tidak boleh berhenti.

Semoga langkah kecil ini menjadi awal lahirnya lebih banyak guru penulis, lebih banyak karya ilmiah, dan lebih banyak inovasi yang dapat menginspirasi dunia pendidikan Indonesia.

43941334-1d30-43f2-98fa-1856aec6c08b

Workshop Penulisan Artikel yang Mudah dan Praktis di KKG Guslah 4 Burneh Berlangsung Sukses dan Penuh Semangat

Workshop Penulisan Artikel yang Mudah dan Praktis di KKG Guslah 4 Burneh Berlangsung Sukses dan Penuh Semangat

Bangkalan – Semangat menulis dan meningkatkan budaya literasi guru kembali ditunjukkan melalui kegiatan Workshop Penulisan Artikel yang Mudah dan Praktis yang diselenggarakan oleh Kelompok Kerja Guru (KKG) Guslah 4 Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 11 Juni 2026 mulai pukul 09.00 WIB tersebut bertempat di UPTD SDN Binoh 1 Kecamatan Burneh.

Workshop ini dihadiri oleh seluruh perwakilan guru dari setiap lembaga pendidikan yang tergabung dalam Guslah 4. Antusiasme peserta begitu tinggi sejak awal hingga akhir kegiatan. Suasana workshop berlangsung santai namun tetap serius, sehingga materi yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh seluruh peserta.

Menariknya, kegiatan ini memiliki kesepakatan bersama yang cukup unik. Peserta tidak diperbolehkan meninggalkan ruangan sebelum memiliki ide judul artikel dan mampu menyusun outline atau kerangka tulisan yang akan dikembangkan menjadi sebuah artikel. Kesepakatan tersebut ternyata mampu memacu semangat peserta untuk benar-benar memulai tradisi menulis.

Narasumber kegiatan, Suraji, M.Pd, menyampaikan materi tentang teknik menulis artikel yang mudah dan praktis. Dengan pendekatan yang sederhana dan aplikatif, peserta diajak memahami langkah-langkah menemukan ide, menentukan judul, hingga menyusun kerangka tulisan secara sistematis. Tidak hanya menerima materi, para peserta juga langsung mempraktikkan penyusunan artikel mereka masing-masing.

Sebagai bentuk apresiasi, peserta yang berhasil menyelesaikan tugas dan mempresentasikan judul artikelnya memperoleh hadiah berupa buku karya Suraji, M.Pd. Pemberian hadiah tersebut semakin menambah motivasi peserta untuk terus mengembangkan kemampuan menulis.

Kepala UPTD SDN Binoh 1, Ibu Mahabbah, mengapresiasi semangat seluruh peserta yang mengikuti workshop. Menurutnya, hasil kegiatan sangat maksimal karena seluruh peserta telah memahami materi yang disampaikan dan mampu menghasilkan ide tulisan yang siap dikembangkan lebih lanjut.

“Semangat peserta luar biasa. Alhamdulillah hasilnya maksimal karena semua peserta sudah sangat memahami materi yang disampaikan. Ini menjadi modal penting untuk membangun budaya menulis di kalangan guru,” ungkapnya.

Sementara itu, Syaiful Arif berharap seluruh peserta dapat segera mengimplementasikan hasil workshop dengan menyelesaikan artikel yang telah dirancang. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya berhenti pada penyusunan artikel semata, tetapi juga menjadi bagian dari persiapan penyusunan jurnal ilmiah melalui program “Menulis Bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah” yang rencananya akan diserahkan pada momentum Hari Guru Nasional mendatang.

Menurutnya, gerakan menulis ini merupakan langkah strategis dalam meningkatkan profesionalisme guru sekaligus memperkuat budaya akademik di lingkungan pendidikan dasar.

Kegiatan workshop yang berlangsung dengan penuh semangat tersebut akhirnya ditutup dengan keberhasilan seluruh peserta menghasilkan judul dan outline artikel masing-masing. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa menulis bukanlah sesuatu yang sulit apabila dilakukan dengan kemauan, pendampingan, dan komitmen bersama.

Workshop KKG Guslah 4 Kecamatan Burneh ini menjadi contoh bahwa budaya menulis di kalangan guru dapat tumbuh melalui kegiatan yang sederhana, menyenangkan, dan berorientasi pada hasil nyata. Dari Binoh, semangat literasi guru terus menyala untuk menghadirkan pendidikan yang semakin berkualitas dan bermakna bagi generasi masa depan.

28a44922-48de-4462-b8fa-930ea29e48db

Loyalitas atau Kompetensi? Kritik Mantan Ketua BEM UGM Layak Menjadi Bahan Evaluasi

Pernyataan mantan Ketua BEM UGM dalam dialog publik mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyebut bahwa kebijakan saat ini cenderung lebih mengutamakan loyalitas daripada kompetensi menjadi kritik yang patut dicermati secara objektif. Terlepas dari pro dan kontra yang muncul, kritik tersebut sesungguhnya menyentuh persoalan mendasar dalam tata kelola pemerintahan, yakni bagaimana negara menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat.

Dalam setiap program strategis nasional, kompetensi merupakan syarat utama keberhasilan. Program sebesar MBG membutuhkan perencanaan yang matang, pengawasan yang ketat, serta pelaksana yang memiliki pengalaman dan keahlian di bidangnya. Ketika kompetensi tidak menjadi pertimbangan utama, maka risiko terjadinya kesalahan perencanaan, pemborosan anggaran, dan ketidaktepatan sasaran akan semakin besar.

Di sisi lain, loyalitas memang diperlukan dalam sebuah pemerintahan. Seorang pemimpin membutuhkan tim yang memiliki komitmen terhadap visi dan agenda pembangunan yang telah ditetapkan. Namun loyalitas tidak boleh dimaknai sebagai kedekatan personal atau sekadar kesamaan pilihan politik. Loyalitas yang sehat justru harus berjalan beriringan dengan profesionalisme dan kapasitas kerja.

Apa yang disampaikan mantan Ketua BEM UGM dapat dibaca sebagai peringatan agar pemerintah tidak terjebak pada praktik yang mengesampingkan meritokrasi. Sebab sejarah menunjukkan bahwa bangsa-bangsa yang maju adalah bangsa yang memberi ruang kepada orang-orang terbaik untuk mengelola urusan publik, tanpa terlalu dibatasi oleh faktor kedekatan maupun afiliasi.

Karena itu, kritik tersebut semestinya tidak dipandang sebagai serangan politik semata, melainkan sebagai masukan untuk memperkuat kualitas pemerintahan. Masyarakat tentu berharap setiap kebijakan strategis nasional dijalankan oleh figur-figur yang tidak hanya loyal terhadap negara dan konstitusi, tetapi juga memiliki kompetensi yang teruji.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah program bukan ditentukan oleh seberapa loyal para pelaksananya kepada kekuasaan, melainkan seberapa besar manfaat yang dirasakan rakyat. Loyalitas dapat menjaga soliditas, tetapi kompetensilah yang menentukan kualitas hasil kerja. Keduanya harus berjalan bersama, bukan saling menggantikan.

8e366508-7fb9-4b43-a078-07477344febb

Kisah Inspiratif: Guru dan Kepala Sekolah Burneh Belajar Bersama di Lembah Tumpang

Semangat kebersamaan dan penguatan kapasitas pendidikan tampak jelas ketika rombongan guru dan kepala sekolah SD se-Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan, melakukan perjalanan edukatif ke Lembah Tumpang, Kabupaten Malang. Kegiatan ini bukan sekadar wisata, melainkan bagian dari upaya membangun kapasitas (capacity building) guru dan kepala sekolah dalam menghadapi tantangan pendidikan yang terus berkembang.

Di tengah suasana alam yang sejuk dan menenangkan, para peserta memanfaatkan setiap momen untuk berdiskusi mengenai berbagai isu pendidikan. Percakapan hangat tentang transformasi pembelajaran, penguatan literasi, peningkatan kompetensi guru, hingga strategi menciptakan sekolah yang ramah dan inovatif mengalir di sela-sela kegiatan. Tidak ada sekat antara kepala sekolah dan guru; semuanya duduk bersama sebagai pembelajar yang memiliki tujuan yang sama, yakni memajukan pendidikan.

Keindahan Lembah Tumpang menjadi latar yang sempurna untuk memperkuat semangat kolaborasi. Di antara replika candi dan gemericik air pegunungan, lahir berbagai gagasan baru tentang bagaimana menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna bagi siswa. Para peserta menyadari bahwa pendidikan yang berkualitas tidak hanya dibangun melalui kebijakan, tetapi juga melalui kemauan untuk terus belajar, berbagi pengalaman, dan berinovasi.

Perjalanan ini menjadi bukti bahwa guru dan kepala sekolah tidak pernah berhenti belajar. Mereka rela meluangkan waktu, menempuh perjalanan jauh, dan berdiskusi secara intens demi meningkatkan kualitas layanan pendidikan di sekolah masing-masing. Semangat tersebut mencerminkan komitmen kuat insan pendidikan Kecamatan Burneh untuk terus tumbuh dan berkembang bersama.

Kegiatan capacity building ini diharapkan menjadi energi baru bagi seluruh peserta. Sepulang dari Malang, mereka tidak hanya membawa kenangan indah tentang Lembah Tumpang, tetapi juga membawa inspirasi, gagasan, dan semangat perubahan yang akan diterapkan di sekolah masing-masing. Sebab sejatinya, perjalanan terbaik bukanlah tentang sejauh mana kita melangkah, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat kita bawa pulang untuk kemajuan pendidikan dan masa depan anak-anak bangsa.