4fc24f64-6445-435d-9ec9-6e9caf5400e4

Turnamen Tenis Meja Ganda Putra Bangkalan Berlangsung Meriah, Jurda dan Fikar Raih Juara Pertama

BANGKALAN – Turnamen Tenis Meja Ganda Putra tingkat Kabupaten Bangkalan yang digelar di Bangkalan Plaza pada Minggu, 10 Mei 2026 berlangsung meriah dan penuh semangat sportivitas. Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB hingga selesai tersebut diikuti oleh banyak atlet tenis meja terbaik dari berbagai wilayah di Kabupaten Bangkalan.

Turnamen ini menjadi salah satu ajang bergengsi bagi para pecinta olahraga tenis meja di Bangkalan karena hampir seluruh petenis meja terbaik turut ambil bagian dalam kompetisi tersebut. Antusiasme peserta maupun penonton menambah semarak jalannya pertandingan sejak babak awal hingga partai final.

Pasangan Jurda dan Fikar berhasil tampil impresif dan keluar sebagai juara pertama setelah menunjukkan permainan yang solid dan konsisten sepanjang turnamen. Sementara posisi juara kedua diraih oleh pasangan Puji dan Rohim yang juga tampil sangat kompetitif. Adapun juara ketiga berhasil diraih pasangan ganda putra asal wilayah timur Kabupaten Bangkalan, yakni dari Blega, yaitu Haji Syukron CS.

Ketatnya persaingan antar peserta membuat turnamen kali ini berlangsung sangat menarik. Banyak pertandingan berlangsung sengit dan menghibur sehingga mendapat apresiasi dari para peserta maupun penonton yang hadir.

Ketua Umum PTMSI Kabupaten Bangkalan, dr. Prima Nugroho, menyampaikan apresiasi kepada seluruh atlet yang telah berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Ia juga mengucapkan selamat kepada para pemenang yang telah menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam turnamen kali ini.

“Terima kasih kepada seluruh atlet yang telah ikut berpartisipasi dan menjaga sportivitas selama pertandingan berlangsung. Selamat kepada para juara yang berhasil meraih prestasi terbaik,” ujarnya.

Sementara itu, panitia pelaksana, Husnul Yakin, turut menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan membantu menyukseskan kegiatan tersebut.

Ia berharap turnamen tenis meja di Kabupaten Bangkalan ke depan akan semakin berkembang dan semakin menarik, terlebih dalam beberapa minggu mendatang akan digelar turnamen antarklub tingkat Kabupaten Bangkalan yang diprediksi berlangsung lebih bergengsi dan kompetitif.

Turnamen ini sekaligus menjadi ajang pemanasan dan persiapan para atlet menjelang kompetisi antarklub yang akan datang, serta menjadi bukti bahwa olahraga tenis meja masih sangat diminati masyarakat dan atlet di Kabupaten Bangkalan.

IMG-20260504-WA0001

“Di Antara Rel dan Bahasa: Kisah Perjalanan Pulang yang Menyatukan Indonesia dan Aljazair”

Perjalanan pulang itu terasa berbeda. Sore 2 Mei 2026, selepas mengikuti wisuda tahap kedua pascasarjana dan kegiatan Kemendikdasmen di Taman Blambangan, saya melangkah menuju stasiun di Banyuwangi dengan hati penuh syukur sekaligus lelah yang terbayar. Hari itu bukan sekadar penutup rangkaian kegiatan akademik mahasiswa saya, tetapi juga awal dari sebuah perjalanan reflektif menuju Surabaya.

Kereta yang saya naiki, rangkaian Blambangan Express, berangkat tepat pukul 16.15 WIB. Saya duduk di kursi yang sudah ditentukan, bersiap menikmati perjalanan sekitar lima jam. Namun, perjalanan ini ternyata bukan sekadar perpindahan dari satu kota ke kota lain—melainkan perjalanan lintas budaya dan perspektif.

Di samping saya duduk seorang guru asal Aljazair bernama Mr. Houari Boum. Ia baru dua minggu berada di Indonesia. Dari awal perkenalan, kami langsung menyadari satu hal: bahasa akan menjadi jembatan sekaligus tantangan. Ia berbicara dalam bahasa Inggris dengan cukup fasih, sementara saya berusaha menyesuaikan kemampuan saya yang tidak sefasih beliau. Namun justru di situlah letak keindahannya—kami sama-sama belajar, saling memahami, dan saling menghargai keterbatasan.

Percakapan kami mengalir dari hal sederhana hingga mendalam. Ia bercerita tentang kehidupan sosial di Aljazair, tentang bagaimana masyarakatnya memegang teguh nilai budaya dan agama. Saya pun berbagi tentang Indonesia—tentang keberagaman, gotong royong, hingga dinamika pendidikan. Kami juga menyentuh topik politik luar negeri, membandingkan bagaimana kedua negara memandang dunia dan perannya masing-masing.

Di tengah perjalanan, saya menunjukkan sebuah video YouTube tentang kerapan sapi Madura. Matanya berbinar melihat tradisi yang begitu unik dan penuh semangat. Ia tampak sangat tertarik, bahkan beberapa kali bertanya detail tentang makna budaya di balik perlombaan tersebut. Dari situ, saya merasa bahwa budaya lokal yang sering kita anggap biasa ternyata mampu memukau mata dunia.

Yang paling mengesankan bukan hanya isi percakapan kami, tetapi suasana kebersamaan yang terbangun. Dua orang dari latar belakang berbeda, bahasa berbeda, bahkan benua berbeda—duduk berdampingan dalam satu gerbong kereta, berbagi cerita, tawa, dan pemahaman baru. Perjalanan yang awalnya terasa panjang justru terasa singkat karena dipenuhi makna.

Saat kereta mulai mendekati Surabaya sekitar pukul 21.30 WIB, saya menyadari bahwa perjalanan ini telah memberi lebih dari sekadar perpindahan fisik. Ia memberi pelajaran tentang keterbukaan, keberanian berkomunikasi, dan pentingnya menjalin hubungan lintas budaya.

Kadang, inspirasi tidak datang dari panggung besar atau forum resmi, tetapi justru dari kursi kereta yang sederhana—dari percakapan tulus antara dua insan yang ingin saling belajar.
Dan malam itu, saya pulang bukan hanya membawa gelar dan pengalaman akademik, tetapi juga membawa cerita yang akan terus hidup dalam ingatan.

IMG-20260502-WA0018

Wisuda Tahap II Universitas Bakti Indonesia Banyuwangi Berlangsung Khidmat dan Penuh Kebahagiaan

Wisuda Tahap II Universitas Bakti Indonesia Banyuwangi Berlangsung Khidmat dan Penuh Kebahagiaan

Banyuwangi, 2 Mei 2026 — Universitas Bakti Indonesia Banyuwangi kembali menggelar prosesi wisuda tahap II yang berlangsung dengan penuh khidmat dan suasana haru bahagia. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 2 Mei 2026, bertempat di Hotel Aston Banyuwangi, dimulai pukul 07.00 WIB hingga selesai.

Acara wisuda ini menjadi momen istimewa bagi para wisudawan dan wisudawati yang telah berhasil menyelesaikan perjalanan akademiknya. Tampak raut wajah sumringah dan kebahagiaan yang terpancar dari para peserta wisuda, sebagai bentuk rasa syukur atas perjuangan panjang dalam menyelesaikan beban studi yang selama ini menjadi tanggung jawab mereka.

Prosesi berjalan lancar dengan dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas, dosen, serta keluarga wisudawan yang turut memberikan dukungan dan kebanggaan atas capaian tersebut. Momentum ini tidak hanya menjadi seremoni akademik, tetapi juga simbol keberhasilan, kedewasaan, dan kesiapan untuk melangkah ke jenjang kehidupan berikutnya.

Dalam kesempatan ini, disampaikan ucapan selamat kepada seluruh wisudawan Universitas Bakti Indonesia Banyuwangi. Diharapkan ilmu yang telah diperoleh dapat memberikan manfaat luas bagi masyarakat serta mampu berkontribusi dalam memajukan dunia pendidikan dan pembangunan bangsa.

Dengan semangat baru dan bekal ilmu yang dimiliki, para lulusan diharapkan terus berkembang, berinovasi, dan menjadi agen perubahan yang membawa kemajuan di berbagai bidang. Selamat kepada para wisudawan, semoga sukses selalu menyertai langkah ke depan dan semakin maju dalam berkarya untuk negeri.

b74bb111-25a0-434f-84e7-6e263d598d1c

Langkah Sederhana yang Menggerakkan Harapan Besar

Langkah Sederhana yang Menggerakkan Harapan Besar

Pada pagi yang cerah, Jumat, 1 Mei 2026 pukul 10.00 WIB, Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan menjadi saksi sebuah peristiwa yang tak sekadar seremoni, tetapi penuh makna dan inspirasi. Ratusan warga, siswa, dan santri berkumpul dengan penuh antusias menyambut kedatangan Abdul Mu’ti.

Namun, yang membuat momen ini begitu istimewa bukan hanya peresmian Masjid Al Huda Muhammadiyah, melainkan langkah sederhana yang sarat keteladanan.

Dari rumah Haji Suparman, sang menteri memilih berjalan kaki sejauh kurang lebih 300 meter menuju masjid. Di tengah iringan Kyai Rik Suhadi, jajaran pimpinan Muhammadiyah, serta Forkopimda Kabupaten Bangkalan, langkah itu menjadi simbol kedekatan seorang pemimpin dengan rakyatnya.

Sepanjang perjalanan, suasana terasa begitu hidup. Siswa-siswi Madrasah Al Huda, santri dan santriwati Pondok Pesantren Babussalam, serta keluarga besar perguruan Muhammadiyah berdiri berjejer dengan wajah ceria. Tangan-tangan kecil terulur penuh harap.

Dan di situlah keistimewaannya.

Sang menteri tidak sekadar melambaikan tangan. Ia berhenti, menyalami hampir setiap orang yang menyambutnya. Senyum hangatnya menyapa, menjadikan jarak antara pemimpin dan rakyat seakan hilang begitu saja.

Doa-doa pun mengalir tulus dari anak-anak.

“Pak Menteri, doakan saya agar bisa jadi menteri pendidikan nanti…”

Kalimat polos itu menggambarkan betapa kehadiran seorang pemimpin mampu menumbuhkan mimpi besar di hati generasi muda.

Langkah kaki sepanjang 300 meter itu bukan sekadar perjalanan fisik. Itu adalah perjalanan nilai—tentang kerendahan hati, kepedulian, dan komitmen terhadap pendidikan.

Hari itu, di Burneh, pendidikan tidak hanya dibicarakan, tetapi benar-benar dirasakan.

Dari jabat tangan, dari senyuman, dari doa-doa kecil yang terucap, lahir harapan besar: bahwa pendidikan Indonesia akan terus maju, merata, dan memberi kesempatan kepada setiap anak bangsa untuk bermimpi setinggi-tingginya.

Terima kasih, Bapak Menteri.
Langkah sederhana Anda di pagi hari itu telah menyalakan cahaya besar bagi masa depan pendidikan Indonesia.

Pendidikan Bermutu untuk Semua.

8ca857c9-72d7-4804-a1a6-03c1edd888e3

Saat Kereta Mengajarkan Kesabaran dan Keteguhan

Perjalanan pulang itu dimulai dari Stasiun Rogojampi, tepat pukul 16.16 WIB. Kereta KA Blambangan Ekspres kelas eksekutif perlahan bergerak meninggalkan Banyuwangi, membawa bukan hanya tubuh yang lelah, tetapi juga pikiran yang penuh cerita.

Langit sore tampak mendung. Awan gelap menggantung rendah, seolah ikut menemani suasana hati yang belum sepenuhnya tenang. Perjalanan kali ini memang tidak berjalan semulus rencana. Ada dinamika di kampus yang sempat menguji kesabaran—hal yang sebenarnya biasa dalam kehidupan, tetapi tetap saja menyisakan ruang untuk merenung.

Namun justru di situlah maknanya.

Saat kereta mulai melaju lebih cepat, pemandangan berubah menjadi terapi yang tak ternilai. Hamparan persawahan terbentang luas, pegunungan berdiri kokoh di kejauhan, dan langit yang perlahan berubah dari abu-abu menjadi gelap. Semua seperti mengingatkan bahwa kehidupan selalu memiliki dua sisi: tantangan dan keindahan.

Di dalam kabin eksekutif yang nyaman, perjalanan lima jam terasa seperti perjalanan batin. Dari sore menuju malam, dari terang menuju gelap, lalu nanti kembali ke cahaya. Setiap detik membawa pesan: bahwa kesabaran bukan sekadar menahan, tetapi juga memahami.

Sesekali, lampu-lampu kecil di desa yang dilewati mulai menyala. Seperti harapan-harapan kecil yang muncul di tengah gelapnya perjalanan. Di momen itu, hati mulai lebih lapang. Apa yang terjadi sebelumnya tidak lagi terasa berat, melainkan menjadi pelajaran berharga.

Kereta terus melaju menuju Surabaya, dengan estimasi tiba pukul 21.30 WIB. Malam menyambut dengan tenang, seolah memberi penegasan bahwa setiap perjalanan pasti sampai pada tujuannya.

Dan dari perjalanan ini, ada satu hal yang semakin kuat tertanam:

bahwa hidup bukan tentang seberapa mulus jalan yang kita tempuh, tetapi tentang bagaimana kita tetap tegak lurus pada kebenaran, tetap sabar dalam ujian, dan tetap bergerak maju meski dalam kondisi tidak sempurna.

Perjalanan panjang ini bukan sekadar perpindahan dari Banyuwangi ke Surabaya, tetapi juga perjalanan menuju kedewasaan berpikir.

Terus berkarya, terus melangkah, dan terus menyalakan cahaya dalam diri—karena masa depan yang lebih bersinar tidak datang begitu saja, tetapi dibangun dari perjalanan-perjalanan seperti ini.

bdeeee0f-a0a1-4fb3-8157-191dd40a8a48

Yudisium Tahap II Universitas Bakti Indonesia Banyuwangi Berlangsung Khidmat, Diikuti Ratusan Peserta

Banyuwangi, 25 April 2026 – Universitas Bakti Indonesia (UBI) Banyuwangi kembali menyelenggarakan Yudisium Gelombang II atau Tahap II Tahun Akademik 2025–2026 pada Sabtu (25/4). Kegiatan ini berlangsung di aula Gedung Universitas Bakti Indonesia Banyuwangi mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai, dengan suasana yang khidmat dan penuh haru.

Acara yudisium tersebut diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai program studi, baik diploma, sarjana, maupun pascasarjana. Prosesi ini menjadi momentum penting sebagai penanda kelulusan mahasiswa sebelum memasuki tahap wisuda.

Menariknya, pada yudisium kali ini, jumlah peserta terbanyak berasal dari program sarjana, khususnya Program Studi Administrasi Pendidikan. Hal ini menunjukkan tingginya minat serta komitmen mahasiswa dalam bidang pendidikan.

Selain itu, yudisium juga diikuti oleh mahasiswa dari berbagai daerah, termasuk tujuh mahasiswa asal Bangkalan dan satu mahasiswa dari Kabupaten Sampang yang turut hadir dan dinyatakan lulus dalam prosesi tersebut.

Salah satu peserta yudisium, Musdalifah, mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaannya karena dapat menyelesaikan studi hingga tahap akhir. Ia menyampaikan bahwa proses perkuliahan yang dijalaninya menggunakan sistem blended learning, yakni perpaduan antara pembelajaran daring dan luring.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa menyelesaikan perkuliahan dan mengikuti yudisium di UBI Banyuwangi. Prosesnya tidak mudah, karena harus menempuh jarak yang jauh serta membagi waktu, tenaga, dan pikiran. Namun dengan kesabaran dan ketekunan, semua bisa dilalui,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa masa studi yang ditempuh selama dua tahun menjadi pengalaman berharga yang penuh perjuangan, terutama dalam menyesuaikan diri dengan sistem pembelajaran berbasis teknologi.

Sementara itu, peserta yudisium lainnya, Ibu Ely, turut menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada seluruh pihak kampus.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada para dosen, rektor, dan yayasan yang telah memfasilitasi kami untuk bisa berkuliah secara profesional dan serius. Semua ini demi kemajuan pendidikan yang lebih baik,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh lulusan mampu mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh selama masa studi dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam menjalankan tugas sebagai pendidik yang profesional, berintegritas, dan berdaya saing.

Yudisium ini tidak hanya menjadi seremoni akademik, tetapi juga menjadi simbol keberhasilan, perjuangan, dan awal pengabdian para lulusan kepada masyarakat.

5d312647-cb9d-4c1f-9e18-ae4296941d16

Wedang Jahe dan Deadline: Kisah Perjalanan yang Tak Biasa

Perjalanan malam itu dimulai dari Surabaya dengan suasana yang tak biasa—sunyi, sedikit tergesa, tapi juga penuh harap. Saya menaiki kereta eksekutif Wijaya Kusuma menuju Banyuwangi, sebuah perjalanan yang sudah saya tahu akan panjang, namun ternyata menyimpan cerita tersendiri.

Begitu duduk di kursi, satu hal langsung terasa: dingin. AC di gerbong eksekutif benar-benar “niat”—menusuk sampai ke tulang. Sayangnya, saya datang dengan persiapan yang kurang matang. Jaket tertinggal. Awalnya mencoba bertahan, tapi semakin malam, hawa dingin semakin tak bersahabat. Akhirnya, dengan sedikit rasa pasrah, saya memutuskan menyewa selimut dari petugas kereta. Sebuah keputusan kecil yang terasa seperti penyelamat malam itu.

Kereta melaju perlahan meninggalkan Surabaya, membawa saya ke arah timur pulau Jawa. Perjalanan sekitar lima jam menuju Banyuwangi memang bukan waktu yang sebentar. Tapi justru di situlah letak keistimewaannya. Di dalam ruang terbatas itu, waktu seakan melambat—memberi ruang untuk berpikir, merenung, dan menyelesaikan hal-hal yang selama ini tertunda.

Saya mulai membuka buku, mencoba membaca beberapa halaman. Lalu beralih ke gadget, mengecek pekerjaan yang belum selesai. Bahkan sempat mengedit jurnal yang sudah lama menunggu revisi. Aneh tapi nyata, di tengah dinginnya kabin dan gemuruh rel, justru fokus terasa lebih tajam. Tidak ada distraksi berlebihan—hanya saya, pekerjaan, dan perjalanan.

Sesekali, suasana dihangatkan oleh wedang jahe yang dijual di kereta. Hangatnya merambat perlahan, menyeimbangkan dinginnya AC yang tak kunjung kompromi. Perpaduan sederhana, tapi cukup membuat malam itu terasa lebih bersahabat.

Perjalanan kali ini saya jalani sendiri. Rombongan lain sudah berangkat lebih dulu. Saya hanya menyusul, mendampingi teman-teman mahasiswa UBI yang akan menjalani momen penting: yudisium. Meski sendiri, perjalanan ini justru memberi ruang refleksi yang lebih dalam. Tentang perjuangan, tentang proses, dan tentang bagaimana setiap langkah kecil tetap berarti.

Dan benar saja, lima jam yang terasa panjang itu ternyata sangat produktif. Tugas-tugas yang menumpuk perlahan terselesaikan. Hal-hal yang tertunda akhirnya menemukan titik akhir. Seolah perjalanan ini bukan hanya perpindahan tempat, tapi juga penyelesaian tanggung jawab.

Akhirnya, kereta tiba di Banyuwangi. Malam mulai berganti menuju pagi. Ada rasa lega, ada rasa syukur, dan tentu saja—ada cerita yang akan selalu diingat.

Selamat untuk teman-teman yang hari ini melaksanakan yudisium. Semoga gelar master yang diraih bukan sekadar titel, tetapi menjadi jalan untuk meningkatkan kompetensi, memperluas manfaat, dan memberikan kontribusi nyata bagi banyak orang.

IMG-20260417-WA0008

Membangun Pendidikan Bermutu untuk Semua: Langkah Nyata dan Terukur

Pendidikan Bermutu untuk Semua: Langkah Nyata dan Terukur

Dalam beberapa waktu terakhir, publik pendidikan di Indonesia mulai merasakan arah perubahan yang semakin jelas. Di bawah kepemimpinan Abdul Mu’ti, upaya pembenahan pendidikan nasional menunjukkan progres yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Meskipun belum genap dua tahun menjabat sejak Oktober 2024, berbagai program strategis telah dijalankan secara masif, terstruktur, dan berdampak langsung pada satuan pendidikan di seluruh Indonesia.

Salah satu capaian penting adalah percepatan digitalisasi pendidikan. Data menunjukkan ratusan ribu satuan pendidikan telah menerima perangkat digital. Tidak hanya itu, ribuan sekolah kini telah mendapatkan akses internet serta dukungan listrik sebagai fondasi utama pembelajaran berbasis teknologi. Ini bukan sekadar distribusi alat, melainkan investasi jangka panjang untuk menciptakan ekosistem pembelajaran modern.

Masuknya perangkat seperti layar interaktif berbasis Android, bantuan laptop untuk sekolah, serta konektivitas internet telah mengubah wajah kelas. Guru kini memiliki lebih banyak pilihan metode pembelajaran, sementara siswa mendapatkan pengalaman belajar yang lebih kontekstual, visual, dan menarik. Transformasi ini secara perlahan mendorong peningkatan kompetensi siswa, baik dari sisi literasi, numerasi, maupun keterampilan digital.

Revitalisasi Sekolah: Menjawab Masalah yang Menumpuk

Tidak dapat dipungkiri, persoalan infrastruktur pendidikan di Indonesia telah berlangsung bertahun-tahun. Banyak sekolah mengalami kerusakan, keterbatasan ruang belajar, hingga fasilitas yang tidak layak.

Namun melalui program revitalisasi sekolah, pemerintah mulai menjawab persoalan tersebut secara konkret. Tahun 2025 saja, lebih dari 16 ribu satuan pendidikan telah tersentuh program ini. Dan yang lebih progresif, pada tahun 2026 ditargetkan 60.000 sekolah akan menerima revitalisasi.

Langkah ini menunjukkan bahwa pembenahan pendidikan tidak dilakukan secara instan, melainkan melalui pendekatan bertahap namun terukur. Seperti yang sering disampaikan, “membenahi pendidikan nasional bukan kerja instan.” Ini adalah kerja besar yang membutuhkan konsistensi kebijakan dan keberanian eksekusi.

Dampak Nyata: Dari Sarana ke Mutu Pembelajaran

Program bantuan sarana dan prasarana tidak berhenti pada aspek fisik semata. Dampak yang mulai terlihat adalah meningkatnya kualitas proses pembelajaran di kelas. Dengan dukungan teknologi:

  Guru lebih kreatif dalam menyampaikan materi

  Siswa lebih aktif dan partisipatif

  Akses terhadap sumber belajar semakin luas

  Pembelajaran menjadi lebih relevan dengan era digital

Di sinilah letak kekuatan kebijakan saat ini: menghubungkan antara sarana dengan mutu pembelajaran. Artinya, pembangunan tidak hanya terlihat secara kasat mata, tetapi juga terasa dalam peningkatan kualitas pendidikan.

Pendidikan Bukan Panggung Drama, Ini Masa Depan Bangsa

Narasi yang dibangun melalui berbagai program ini juga mengingatkan bahwa pendidikan bukan sekadar isu politik atau bahan perdebatan sesaat. Pendidikan adalah fondasi masa depan bangsa.

Karena itu, kritik tentu tetap diperlukan, namun harus berbasis data yang utuh, bukan potongan narasi yang justru menyesatkan. Upaya besar yang sedang berjalan ini membutuhkan dukungan semua pihak: pemerintah, guru, orang tua, dan masyarakat.

 Optimisme Pendidikan Indonesia

Dengan tagline “Pendidikan bermutu untuk semua”, arah kebijakan saat ini menunjukkan optimisme yang kuat. Pemerataan akses, penguatan sarana, serta peningkatan kualitas pembelajaran menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Perjalanan masih panjang, tantangan masih banyak, namun fondasi sudah mulai dibangun dengan serius. Dan jika konsistensi ini terus dijaga, bukan tidak mungkin Indonesia akan melahirkan generasi yang lebih unggul, adaptif, dan siap menghadapi masa depan.

Screenshot_20260412_163508_WhatsApp

Turnamen Tenis Meja Halal Bihalal Cup 2026 Semarakkan Bangkalan Plaza

Bangkalan, 12 April 2026 — Turnamen Tenis Meja Halal Bihalal Cup 2026 sukses digelar dengan meriah di Bangkalan Plaza pada Minggu (12/4). Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB dan berakhir pukul 17.05 WIB ini diikuti oleh puluhan atlet tenis meja dari berbagai kecamatan se-Kabupaten Bangkalan.

Turnamen ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus kompetisi sehat bagi para pecinta tenis meja di Bangkalan. Sejak pagi, suasana lokasi pertandingan sudah dipadati peserta dan penonton yang antusias menyaksikan jalannya pertandingan demi pertandingan yang berlangsung sengit namun tetap menjunjung tinggi sportivitas.

Berdasarkan hasil akhir pertandingan, Iqbal berhasil meraih juara pertama, disusul oleh dokter Prima sebagai juara kedua, dan Jazuli menempati posisi juara ketiga bersama diky. Ketiga pemenang tersebut tampil impresif sepanjang turnamen dan mampu menunjukkan kemampuan terbaik mereka di hadapan para penonton.

Hal yang menarik dan menjadi daya tarik tersendiri dalam turnamen ini adalah pemberian hadiah unik berupa topi koboi kepada para juara 1 hingga juara 3. Momen para pemenang mengenakan topi koboi tersebut sukses mengundang perhatian dan gelak tawa penonton, sekaligus menambah kesan meriah dan berbeda dari turnamen pada umumnya.

Turnamen Halal Bihalal Cup 2026 ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga mempererat hubungan silaturahmi antar atlet tenis meja se-Kabupaten Bangkalan. Peserta yang datang dari berbagai kecamatan turut menyemarakkan kegiatan ini sehingga suasana kebersamaan terasa begitu kental sepanjang acara.

Busro selaku panitia pelaksana menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh peserta, panitia, serta pihak yang telah berpartisipasi dalam menyukseskan turnamen ini. Ia berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara rutin guna meningkatkan prestasi sekaligus memperkuat kebersamaan para atlet tenis meja di Bangkalan.
“Semoga melalui kegiatan ini, semangat kebersamaan dan sportivitas terus terjaga, serta tenis meja di Bangkalan semakin berjaya,” ujarnya.

Dengan penuh kehangatan dan semangat halal bihalal, Turnamen Tenis Meja Halal Bihalal Cup 2026 menjadi salah satu momentum berharga dalam membangun solidaritas dan prestasi olahraga di Kabupaten Bangkalan.

IMG-20260412-WA0037

Subuh Berjamaah di Masjid Al Huda Burneh Kian Semarak, Jamaah Disuguhi Kopi Hangat hingga Ketupat Manggisan

Burneh, Bangkalan — Kegiatan sholat Subuh berjamaah di Masjid Al Huda, Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan, semakin menunjukkan geliat yang menggembirakan. Selain dihadiri jamaah yang kian bertambah, suasana kebersamaan juga terasa hangat dengan adanya sajian kopi, teh, makanan ringan, hingga ketupat khas daerah Manggisan yang disediakan bagi para jamaah.

Masjid Al Huda yang berada di bawah naungan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Burneh ini kini menjadi pusat kegiatan ibadah yang tidak hanya khusyuk, tetapi juga penuh kebersamaan. Terlebih, dengan bangunan masjid yang baru dan representatif, para jamaah semakin bersemangat untuk istiqomah hadir, khususnya pada waktu sholat Subuh.

Kegiatan sholat Subuh berjamaah ini juga dilanjutkan dengan amalan waktu syuruq atau sholat Isyroq, sehingga para jamaah baru meninggalkan masjid setelah rangkaian ibadah selesai. Hal ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri yang memperkuat semangat ibadah di kalangan masyarakat.

Menariknya, sejak awal pembangunan hingga masjid berdiri megah seperti sekarang, tradisi berbagi atau sedekah dari para jamaah terus terjaga. Berbagai hidangan seperti kopi hangat, teh, aneka snack, bahkan sarapan pagi kerap disajikan secara sukarela oleh para dermawan untuk jamaah Subuh.

Setiap hari Minggu, kegiatan ini semakin semarak dengan adanya kuliah Subuh atau tausiyah yang memberikan pencerahan spiritual bagi jamaah. Sementara di hari lainnya, meskipun tanpa kuliah Subuh, antusiasme jamaah tetap tinggi untuk hadir dan bersilaturahmi.

Setelah rangkaian ibadah, para jamaah tampak akrab menikmati hidangan yang merupakan sedekah dari hamba Allah. Momen ini tidak hanya mempererat ukhuwah Islamiyah, tetapi juga menjadi sarana berbagi rezeki dan kebahagiaan di antara sesama.

H. Suparman, selaku arsitek Masjid Al Huda yang baru, menyampaikan rasa syukurnya atas perkembangan positif tersebut. Ia mengungkapkan bahwa jumlah jamaah yang terus meningkat serta kuatnya jalinan silaturahmi menjadi bukti bahwa masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat kebersamaan umat.

“Alhamdulillah, jamaah semakin banyak dan silaturahmi semakin kuat. Adanya sedekah berupa kopi, teh hangat, snack hingga sarapan pagi ini semakin menambah semarak kegiatan sholat Subuh berjamaah di Masjid Al Huda,” ujarnya.

Dengan semangat kebersamaan dan keikhlasan berbagi, Masjid Al Huda Burneh terus menjadi inspirasi gerakan memakmurkan masjid, khususnya dalam menghidupkan sholat Subuh berjamaah di tengah masyarakat.