b0f0428a-7a68-4ea7-b5f6-3fb0ebff8add

Strawberry Moon 2026: Keindahan Langit Nusantara yang Mengingatkan Manusia pada Kebesaran Sang Pencipta

Langit Indonesia pada malam 29 hingga 30 Juni 2026 dihiasi oleh salah satu fenomena astronomi yang paling dinantikan, yaitu Strawberry Moon, purnama penuh yang terjadi setiap bulan Juni. Apabila cuaca cerah dan langit tidak tertutup awan, masyarakat di seluruh Nusantara dapat menyaksikan keindahan bulan purnama yang tampak bersinar terang sejak matahari terbenam hingga menjelang fajar. Fenomena yang sama juga dapat diamati di berbagai belahan dunia sesuai dengan perbedaan zona waktu. (Space)

Banyak masyarakat mengira bahwa Strawberry Moon berarti bulan akan tampak berwarna merah muda seperti buah stroberi. Anggapan tersebut sebenarnya kurang tepat. Nama Strawberry Moon berasal dari tradisi masyarakat adat Amerika Utara, khususnya suku Algonquin, yang menggunakan purnama bulan Juni sebagai penanda dimulainya musim panen stroberi liar. Nama tersebut berkaitan dengan musim panen, bukan dengan warna bulan. (Space)

Secara astronomi, bulan dapat terlihat berwarna kuning keemasan, jingga, bahkan kemerahan ketika baru terbit di ufuk timur. Warna tersebut muncul karena cahaya bulan melewati lapisan atmosfer bumi yang lebih tebal sehingga terjadi hamburan cahaya. Selain itu, Strawberry Moon tahun 2026 tampak cukup rendah di langit bagi wilayah belahan bumi utara karena terjadi tidak lama setelah titik balik Matahari musim panas (summer solstice). (Live Science)

Menariknya, setiap budaya memiliki sebutan yang berbeda untuk purnama bulan Juni. Selain Strawberry Moon, masyarakat Eropa mengenalnya sebagai Rose Moon, Honey Moon, atau Mead Moon. Dalam beberapa tradisi Inggris kuno juga ditemukan sebutan Flower Moon atau Planting Moon, meskipun dalam penggunaan astronomi modern Flower Moon lebih umum digunakan untuk purnama yang terjadi pada bulan Mei. Perbedaan nama tersebut menunjukkan bahwa setiap peradaban memaknai fenomena langit sesuai dengan budaya, musim, dan kehidupan masyarakatnya. (Time and Date)

Bagi masyarakat Indonesia, Strawberry Moon bukan sekadar fenomena astronomi, tetapi juga menjadi momentum untuk meningkatkan literasi sains sekaligus menikmati keindahan ciptaan Allah SWT. Anak-anak, pelajar, mahasiswa, keluarga, hingga para pecinta fotografi dapat memanfaatkan momen ini sebagai sarana belajar mengenal tata surya, mengamati keteraturan alam semesta, serta mengabadikan panorama langit malam yang menakjubkan.

Fenomena ini juga mengingatkan manusia bahwa alam semesta bergerak dengan hukum-hukum yang sangat teratur. Peredaran bumi, bulan, dan matahari berlangsung sesuai ketentuan Sang Pencipta. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”
(QS. Ali Imran: 190).

Oleh karena itu, Strawberry Moon 2026 hendaknya tidak hanya menjadi tontonan yang indah, tetapi juga menjadi sarana memperkuat rasa syukur, meningkatkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, serta menumbuhkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. Langit yang bersih dari polusi cahaya akan membuat generasi mendatang tetap dapat menikmati berbagai fenomena astronomi yang luar biasa.

Keindahan Strawberry Moon mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan dan keimanan dapat berjalan berdampingan. Semakin manusia memahami alam semesta, semakin besar pula kekaguman terhadap kebesaran Allah SWT. Maka, marilah kita menikmati keindahan langit malam, memperluas wawasan melalui sains, dan mensyukuri setiap keajaiban ciptaan-Nya.

 

82430b1e-5656-47a4-81e2-6b82bd33f656

Sejarah Tercipta! Timnas Voli Indonesia Juara AVC Men’s Volleyball Cup 2026 Usai Tundukkan Korea Selatan

Surajimy.id – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan olahraga Indonesia. Tim Nasional bola voli putra Indonesia berhasil mencetak sejarah dengan menjuarai AVC Men’s Volleyball Cup 2026 setelah mengalahkan Korea Selatan dengan skor telak 3-0 pada laga final yang berlangsung di Veer Savarkar Sports Complex, Ahmedabad, India, Ahad (28/6/2026).  

Kemenangan ini menjadi gelar perdana Indonesia sepanjang keikutsertaan di ajang AVC Men’s Volleyball Cup. Lebih dari sekadar trofi, hasil tersebut menandai lahirnya era baru kebangkitan bola voli Indonesia di level Asia.  

Pada pertandingan puncak, skuad Merah Putih tampil disiplin dan penuh semangat. Setelah melalui set pertama yang berlangsung sengit, Indonesia mampu mengendalikan permainan hingga akhirnya menyudahi perlawanan Korea Selatan dalam tiga set langsung dengan skor 34-32, 25-16, dan 25-23.  

Keberhasilan ini terasa semakin istimewa karena Indonesia mampu membalas kekalahan dari Korea Selatan yang sempat terjadi pada fase grup. Mental juara yang ditunjukkan para pemain membuktikan bahwa kerja keras, kekompakan, dan strategi pelatih mampu mengubah hasil secara luar biasa.  

Pelatih Indonesia, Toiran Gonzales Ridel, mengungkapkan rasa bangga atas pencapaian anak asuhnya. Ia menyebut gelar tersebut sebagai sejarah baru bagi bola voli Indonesia dan mendedikasikannya kepada seluruh pemain serta masyarakat Indonesia yang terus memberikan dukungan.  

Keberhasilan ini juga menjadi bukti bahwa pembinaan olahraga nasional mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan. Perpaduan pemain muda dan senior membuat permainan Indonesia semakin matang dan mampu bersaing dengan kekuatan-kekuatan besar Asia.

Gelar juara AVC Men’s Volleyball Cup 2026 diharapkan menjadi motivasi bagi seluruh atlet Indonesia untuk terus mengharumkan nama bangsa di berbagai ajang internasional. Dukungan masyarakat, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan olahraga diharapkan terus mengalir agar prestasi seperti ini dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan pada kompetisi dunia berikutnya.  

Semoga keberhasilan Timnas Voli Putra Indonesia menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berprestasi, menjunjung sportivitas, dan membawa Merah Putih semakin disegani di pentas olahraga dunia.

5ce79ebb-c1ef-4a2a-9f72-bf1c8cd7129e

Tenis Meja Bangkalan Kembali Berjaya di Madura Muslim Games #04, Dokter Yusfik Raih Juara Pertama

Pamekasan – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan atlet tenis meja Kabupaten Bangkalan. Dalam ajang Madura Muslim Games (MMG) #04 yang berlangsung di SMAN 3 Pamekasan dan Masjid Al-Arqom, Ahad (28/6/2026), Dokter Yusfik dari Kabupaten Bangkalan berhasil meraih gelar juara pertama cabang olahraga tenis meja.

Turnamen yang mengusung tema “Dengan Olahraga Bersama, Kita Kuatkan Pondasi Ukhuwah Islamiyah” ini berlangsung meriah dan diikuti oleh para atlet tenis meja dari berbagai kabupaten di Pulau Madura. Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat tali silaturahmi, memperkuat persaudaraan, dan menumbuhkan semangat sportivitas di kalangan atlet.

Keberhasilan Dokter H. Yusfik menjadi juara semakin menegaskan bahwa pembinaan tenis meja di Kabupaten Bangkalan terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Dalam beberapa kejuaraan tingkat Madura, atlet-atlet Bangkalan mampu tampil kompetitif dan konsisten membawa pulang prestasi yang membanggakan.

Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa olahraga tenis meja di Bangkalan semakin semarak dan semakin diminati oleh masyarakat. Antusiasme para atlet, komunitas, dan pecinta tenis meja menjadi modal penting dalam melahirkan bibit-bibit atlet berprestasi yang mampu mengharumkan nama daerah di berbagai ajang.

Lebih dari sekadar mengejar kemenangan, turnamen ini juga mengajarkan pentingnya menjaga ukhuwah, menjunjung tinggi sportivitas, serta membangun persaudaraan melalui olahraga. Semangat inilah yang menjadi nilai utama Madura Muslim Games sebagai wadah mempertemukan para atlet dalam suasana kompetitif yang sehat dan penuh kekeluargaan.

Semoga prestasi yang diraih atlet Bangkalan menjadi motivasi bagi generasi muda untuk terus mencintai olahraga, khususnya tenis meja. Dengan pembinaan yang berkelanjutan dan dukungan dari seluruh elemen masyarakat, diharapkan tenis meja Kabupaten Bangkalan akan terus maju, melahirkan atlet-atlet berprestasi, dan semakin mengharumkan nama Bangkalan di tingkat regional maupun nasional.

b802083b-3ebc-4c0e-974a-ffbaea1d5070

SEPAK BOLA MENJADI JEMBATAN DAMAI DI TENGAH GELOMBANG KONFLIK

Oleh: Suraji, M.Pd.

 

Di tengah memanasnya hubungan politik antara Iran dan Amerika Serikat, sebuah peristiwa kecil di Piala Dunia 2026 justru menyampaikan pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar hasil pertandingan. Tim nasional Iran meninggalkan secarik surat tulisan tangan di ruang ganti Stadion SoFi, Los Angeles, setelah pertandingan melawan Belgia. Surat itu kemudian menjadi viral di berbagai media internasional karena isinya tidak dipenuhi kemarahan, melainkan rasa syukur, penghormatan, dan seruan perdamaian. (Reuters)

Dalam surat tersebut, para pemain Iran mengucapkan terima kasih kepada Kota Los Angeles atas keramahan yang mereka terima selama berada di Amerika Serikat. Mereka menulis bahwa datang dengan kebanggaan, bertanding dengan kehormatan, dan pulang dengan martabat. Di akhir surat, mereka menyampaikan harapan agar perdamaian, rasa hormat, dan persahabatan dapat tumbuh di antara seluruh bangsa di dunia. (Reuters)

Pesan tersebut menjadi begitu bermakna karena lahir di tengah situasi yang tidak mudah. Tim Iran harus menghadapi berbagai pembatasan perjalanan dan logistik selama mengikuti Piala Dunia. Mereka bahkan tidak dapat bermarkas penuh di Amerika Serikat dan harus bolak-balik dari Tijuana, Meksiko, menuju lokasi pertandingan di Amerika akibat aturan yang diberlakukan terhadap delegasi Iran. Sebagian ofisial tim juga tidak memperoleh izin masuk sebagaimana delegasi negara lain. (Reuters)

Namun yang menarik, di balik ketegangan politik itu, masyarakat Amerika tetap memperlihatkan wajah kemanusiaannya. Kota Los Angeles memberikan sambutan yang baik kepada para pemain Iran sebagai tamu olahraga dunia. Penyelenggara tetap memberikan pelayanan profesional, keamanan, dan fasilitas pertandingan sebagaimana kepada seluruh peserta lainnya. Inilah wajah lain dari sebuah bangsa: politik boleh berbeda, tetapi nilai kemanusiaan tetap dijunjung tinggi. (Reuters)

Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa konflik antarnegara tidak boleh menghilangkan penghormatan terhadap manusia. Pemerintah dapat berbeda pandangan, tetapi rakyat tidak harus saling membenci. Dunia olahraga justru memperlihatkan bahwa kompetisi dapat berlangsung secara sportif tanpa harus mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan.

Sepak bola kembali membuktikan dirinya sebagai bahasa universal. Ketika diplomasi mengalami jalan buntu, olahraga mampu membuka ruang dialog yang lebih sejuk. Satu pertandingan mampu mempertemukan ribuan orang dari berbagai latar belakang budaya, agama, bahasa, dan ideologi dalam suasana saling menghormati.

Bagi Indonesia, pelajaran ini sangat berharga. Bangsa kita sejak lama menjunjung tinggi politik luar negeri yang bebas dan aktif serta mengedepankan perdamaian dunia sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Nilai tersebut sejalan dengan semangat yang diperlihatkan para pemain Iran melalui surat sederhana yang menyentuh hati masyarakat dunia.

Dalam perspektif Islam, pesan damai tersebut juga sejalan dengan firman Allah SWT:

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah.”
(QS. Al-Anfal: 61)

Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa seorang Muslim adalah orang yang membuat orang lain merasa aman dari lisan dan tangannya. Nilai-nilai inilah yang seharusnya menjadi fondasi kehidupan masyarakat dunia, termasuk dalam hubungan antarbangsa.

Surat yang ditinggalkan para pemain Iran bukanlah sekadar ucapan terima kasih kepada Los Angeles. Surat itu merupakan pengingat bahwa di tengah perang, masih ada harapan. Di tengah konflik, masih ada rasa hormat. Dan di tengah perbedaan politik, masih ada ruang bagi persaudaraan kemanusiaan.

Pada akhirnya, kemenangan terbesar dalam olahraga bukan hanya mengangkat trofi, melainkan ketika pertandingan mampu melahirkan saling pengertian. Dunia tidak hanya membutuhkan juara di lapangan hijau, tetapi juga para duta perdamaian yang mampu menunjukkan bahwa kemanusiaan selalu lebih besar daripada permusuhan. Itulah pesan yang berhasil disampaikan Tim Nasional Iran kepada dunia melalui secarik surat yang sederhana, namun sarat makna. (Reuters)

Screenshot

Antusiasme Warga Madura Sambut Presiden Prabowo, Potret Kedekatan Pemimpin dengan Rakyat

 

Kedatangan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, ke Kabupaten Sampang dan Kabupaten Bangkalan pada Selasa, 23 Juni 2026, menghadirkan suasana yang begitu istimewa. Ribuan masyarakat dari berbagai kalangan tampak memadati sejumlah titik yang dilalui Presiden. Mereka rela menunggu berjam-jam di bawah terik matahari demi dapat melihat secara langsung sosok pemimpin yang kini memimpin Indonesia.

Antusiasme masyarakat Madura, khususnya warga Sampang dan Bangkalan, menjadi gambaran nyata betapa besar harapan rakyat kepada Presiden Prabowo Subianto. Sejak pagi hari, masyarakat telah memadati lokasi kedatangan dan sepanjang jalur yang akan dilalui rombongan Presiden. Tidak sedikit di antara mereka yang datang bersama keluarga, anak-anak, hingga para tokoh masyarakat dan santri yang ingin menyaksikan secara langsung momen bersejarah tersebut.

Suasana semakin meriah ketika helikopter yang membawa Presiden Prabowo mendarat. Kehadiran Kepala Negara kemudian disambut dengan kendaraan kepresidenan produksi PT Pindad, yang menjadi simbol kemandirian industri pertahanan nasional. Sorak-sorai masyarakat pun menggema menyambut kedatangan orang nomor satu di Indonesia tersebut.

Yang paling membahagiakan masyarakat adalah ketika Presiden Prabowo Subianto tidak hanya sekadar melintas, tetapi juga berkenan mendekati warga yang telah lama menunggu kedatangannya. Dengan penuh keramahan, Presiden menyapa dan menyalami masyarakat yang antusias menyambutnya. Momen tersebut mencerminkan adanya hubungan emosional yang hangat antara pemimpin dan rakyatnya.

Interaksi yang terjalin secara spontan itu memperlihatkan bahwa kepemimpinan sejatinya bukan hanya soal kebijakan dan kekuasaan, tetapi juga tentang kedekatan dan perhatian kepada masyarakat. Rakyat yang menunggu dengan penuh kesabaran mendapatkan respons positif dari pemimpin yang mereka nantikan. Sebuah pemandangan yang menghadirkan optimisme dan semangat kebersamaan.

Kehadiran Presiden Prabowo di Bangkalan sendiri merupakan bagian dari agenda penutupan Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Alim Ulama Nahdlatul Ulama sebagai rangkaian persiapan menuju Muktamar Nahdlatul Ulama yang akan diselenggarakan pada 1–5 Agustus 2026 mendatang. Momentum tersebut memiliki makna penting, tidak hanya bagi warga Nahdliyin, tetapi juga bagi kehidupan kebangsaan yang menjunjung tinggi persatuan dan ukhuwah.

Lebih dari sekadar kunjungan kenegaraan, kedatangan Presiden Prabowo ke Pulau Madura diharapkan membawa dampak positif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kehadiran Kepala Negara tentu menjadi perhatian besar yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, mempercepat pembangunan, serta meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, dan berbagai sektor lainnya di Madura.

Sebagai kunjungan pertama Presiden Prabowo Subianto ke Pulau Madura sejak menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, momen ini memiliki nilai sejarah tersendiri. Kehangatan sambutan masyarakat dan kedekatan Presiden dengan rakyat menjadi pesan bahwa persatuan dan kebersamaan tetap menjadi modal utama dalam membangun Indonesia yang semakin maju.

Semoga kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Sampang dan Bangkalan membawa keberkahan bagi masyarakat Madura, memperkuat persaudaraan antarwarga, serta menghadirkan kesejahteraan yang semakin nyata bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Pemimpin yang dicintai rakyat adalah pemimpin yang hadir di tengah masyarakat, mendengarkan harapan mereka, dan memberikan harapan baru bagi masa depan bangsa.”

9bc29cd1-a613-4bea-823e-781a19b524f7

Turnamen Tenis Meja Galatama PTMSI Bangkalan Berlangsung Meriah, Farouq Raih Juara Pertama

Bangkalan – Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) Kabupaten Bangkalan sukses menggelar Turnamen Tenis Meja Galatama pada Minggu (21/6/2026) di Bangkalan Plaza. Kejuaraan yang dimulai pukul 10.00 WIB hingga selesai tersebut berlangsung meriah dan mendapat antusiasme tinggi dari para atlet maupun masyarakat pecinta tenis meja.

Turnamen Galatama kali ini diikuti oleh atlet-atlet tenis meja dari berbagai wilayah di Kabupaten Bangkalan. Tidak hanya menghadirkan persaingan yang kompetitif, kejuaraan tersebut juga menjadi ajang silaturahmi dan pembinaan bagi para pemain dari berbagai tingkatan.

Suasana pertandingan semakin semarak karena mempertandingkan seluruh kelas, mulai dari kelas B, kelas A hingga kelas A Plus. Hal ini menjadikan setiap laga berlangsung menarik dan menghibur, sehingga para penonton yang memadati arena pertandingan di Bangkalan Plaza dapat menikmati permainan-permainan berkualitas yang diperagakan para atlet.

Setelah melalui pertandingan yang berlangsung sengit, Farouq berhasil keluar sebagai juara pertama. Posisi juara kedua diraih oleh Yunus, sedangkan juara ketiga bersama ditempati oleh Puji Perdana dan Tanto.

Ketua Umum PTMSI Kabupaten Bangkalan, dr. Prima Nugroho, menyampaikan apresiasi atas suksesnya pelaksanaan Turnamen Galatama tersebut. Menurutnya, kegiatan ini menjadi salah satu wadah penting untuk meningkatkan kemampuan sekaligus menjaga semangat kompetitif para atlet tenis meja di Kabupaten Bangkalan.

“Turnamen Galatama ini merupakan ajang yang sangat positif bagi pembinaan atlet. Kami mengapresiasi seluruh peserta yang telah menunjukkan semangat sportivitas dan permainan yang menarik. Semoga kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga mampu meningkatkan prestasi atlet tenis meja Kabupaten Bangkalan di tingkat yang lebih tinggi,” ujar dr. Prima Nugroho.

Dengan terselenggaranya Turnamen Galatama PTMSI Kabupaten Bangkalan tahun 2026, diharapkan akan semakin banyak lahir atlet-atlet potensial yang mampu mengharumkan nama Kabupaten Bangkalan di berbagai kejuaraan, baik tingkat regional maupun nasional. Selain menjadi sarana kompetisi, turnamen ini juga menjadi hiburan olahraga yang menarik bagi masyarakat dan memperkuat semangat kebersamaan di kalangan pecinta tenis meja di Kota Dzikir dan Shalawat.

37adc4c4-c71e-4749-8ed3-b34a22925ee4

Ziarah kepada Jamaah Haji: Tradisi Khas Indonesia yang Sarat Doa dan Persaudaraan

Kepulangan jamaah haji selalu menghadirkan suasana yang penuh kebahagiaan. Tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi masyarakat sekitar yang ikut merasakan kegembiraan atas selesainya rukun Islam kelima tersebut. Di Indonesia, khususnya di Madura, terdapat tradisi yang telah berlangsung turun-temurun, yaitu silaturahmi atau “ziarah haji” kepada orang yang baru kembali dari Tanah Suci.

Tradisi ini bukanlah ziarah ke makam, melainkan kunjungan kepada saudara, tetangga, atau kerabat yang baru pulang dari Makkah. Masyarakat datang berbondong-bondong untuk mengucapkan selamat, menikmati jamuan sederhana, menerima oleh-oleh, mendengarkan kisah perjalanan spiritual, serta yang paling utama meminta doa dan keberkahan dari jamaah haji yang diyakini baru saja menyelesaikan ibadah yang sangat mulia.

Di Madura, tradisi tersebut memiliki nuansa yang sangat khas. Bahkan, dalam beberapa hari setelah kepulangan jamaah, rumah seorang haji hampir tidak pernah sepi dari tamu. Mereka datang dari berbagai kalangan, mulai dari keluarga dekat, tetangga, sahabat, hingga masyarakat yang memiliki hubungan sosial yang jauh. Kehadiran mereka bukan semata-mata untuk menikmati hidangan atau memperoleh buah tangan, melainkan sebagai bentuk penghormatan dan ikhtiar memperoleh doa agar kelak diberi kesempatan yang sama untuk menunaikan ibadah haji.

Tradisi ini sesungguhnya memiliki akar dalam khazanah Islam. Para ulama mazhab Syafi’i menjelaskan bahwa orang yang baru pulang dari haji dianjurkan untuk mendoakan kaum muslimin lainnya, sedangkan orang yang belum berhaji dianjurkan meminta doa kepada mereka. Bahkan, sebagian ulama menyebutkan bahwa keutamaan tersebut berlangsung hingga empat puluh hari setelah kepulangan jamaah haji. (Jurnal Daarul Huda⁠)

Menariknya, tradisi seperti ini hampir tidak ditemukan dalam skala yang sama di Arab Saudi ataupun sebagian besar negara Timur Tengah. Di sana, kepulangan jamaah haji umumnya hanya disambut oleh keluarga dekat dan kerabat terdekat secara sederhana. Tidak ada tradisi kunjungan massal selama berhari-hari, tidak pula kebiasaan menjamu tamu dalam jumlah besar sebagaimana yang lazim dilakukan masyarakat Indonesia.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia telah berhasil memadukan nilai-nilai Islam dengan budaya lokal yang menjunjung tinggi silaturahmi, gotong royong, dan penghormatan terhadap sesama. Budaya ini menjadi kekayaan sosial yang tidak dimiliki oleh semua bangsa muslim di dunia.

Namun demikian, tradisi meminta doa dan mencari keberkahan hendaknya dipahami secara proporsional. Keberkahan sesungguhnya berasal dari Allah SWT, sedangkan jamaah haji hanyalah saudara sesama muslim yang baru saja menyelesaikan ibadah mulia dan diharapkan memperoleh predikat haji mabrur. Karena itu, penghormatan kepada mereka tidak boleh melahirkan sikap berlebihan yang dapat mengarah kepada pengkultusan individu.

Pada hakikatnya, tradisi ziarah haji di Madura dan Indonesia merupakan simbol kuatnya ukhuwah Islamiyah. Rumah seorang haji berubah menjadi ruang silaturahmi yang mempertemukan keluarga yang lama tidak bertemu, tetangga yang jarang berkunjung, bahkan sahabat lama yang terpisah oleh waktu. Di sana, makanan menjadi sarana berbagi, oleh-oleh menjadi simbol kasih sayang, dan doa menjadi perekat persaudaraan.

Di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis, tradisi semacam ini patut dijaga dan dilestarikan. Sebab, nilai terbesar dari ziarah kepada jamaah haji bukanlah pada hidangan yang tersaji atau oleh-oleh yang dibawa, melainkan pada terbangunnya ikatan persaudaraan dan tumbuhnya harapan bersama agar semakin banyak umat Islam yang mendapat panggilan suci ke Baitullah.

Mungkin inilah salah satu wajah Islam Indonesia yang paling indah: Islam yang ramah, penuh kekeluargaan, dan menjadikan silaturahmi sebagai bagian dari ibadah serta sumber keberkahan bagi kehidupan bersama. (beritasatu.com⁠)

IMG-20260615-WA0017

“Kelas Kosong, Guru Tetap Hadir: Rutinitas yang Sia-Sia atau Sekadar Formalitas Birokrasi?”

Oleh: Suraji, Praktisi Pendidikan

Setiap akhir tahun pelajaran maupun masa libur semester, polemik mengenai apakah guru harus tetap masuk sekolah atau mengikuti libur peserta didik selalu kembali muncul. Perdebatan ini hampir terjadi di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Bangkalan. Ada daerah yang memberikan libur kepada guru sesuai kalender pendidikan, tetapi ada pula yang mewajibkan guru tetap hadir ke sekolah meskipun tidak ada peserta didik dan tidak berlangsung kegiatan pembelajaran.

Perbedaan kebijakan tersebut lahir dari adanya perbedaan penafsiran terhadap berbagai regulasi yang berlaku. Di satu sisi, pemerintah daerah berpedoman pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara, Peraturan Presiden Nomor 21 Tahun 2023, serta ketentuan sebelumnya dalam PP Nomor 11 Tahun 2017 dan PP Nomor 17 Tahun 2020. Regulasi tersebut menegaskan bahwa ASN memiliki kewajiban memenuhi jam kerja sebesar 37,5 jam per minggu sehingga aspek kehadiran menjadi salah satu ukuran kinerja.

Konsekuensinya, guru sebagai ASN dipandang tetap harus hadir di sekolah sekalipun peserta didik sedang libur dan tidak ada kegiatan belajar mengajar. Kehadiran fisik dianggap sebagai bentuk pemenuhan kewajiban jam kerja.

Namun di sisi lain, terdapat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional serta Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang menempatkan guru sebagai tenaga profesional. Dalam regulasi tersebut, guru juga memiliki hak untuk memperoleh waktu istirahat, cuti, dan pengembangan diri sebagai bagian dari hak profesinya.

Di sinilah letak paradoks yang selama ini terjadi. Guru dituntut memenuhi kewajiban sebagai ASN, tetapi pada saat yang sama memiliki hak-hak profesional yang dijamin oleh undang-undang. Akibatnya, muncul perbedaan kebijakan di berbagai daerah.

Di Provinsi Jawa Timur misalnya, terdapat sejumlah kabupaten dan kota yang memberlakukan libur guru mengikuti kalender pendidikan. Ketika peserta didik libur dan tidak ada aktivitas sekolah, guru juga diberikan kesempatan untuk beristirahat. Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Bangkalan lebih berpedoman pada regulasi ASN sehingga guru tetap diwajibkan hadir ke sekolah selama jam kerja berlangsung.

Perbedaan kebijakan tersebut sebenarnya menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk melakukan harmonisasi regulasi. Sebab, secara historis sejak masa awal sistem pendidikan nasional, guru memang diberikan hak untuk menikmati masa libur dan cuti. Bahkan pekerjaan administratif seperti penyusunan perangkat pembelajaran, evaluasi hasil belajar, maupun tugas lainnya pada umumnya telah diselesaikan sebelum memasuki masa liburan.

Karena itu, diperlukan legal opinion dan kebijakan yang lebih tegas dari pemerintah agar tidak terjadi multitafsir setiap tahun. Kehadiran guru semestinya tidak semata-mata diukur dari kehadiran fisik di sekolah, tetapi lebih pada pemenuhan beban kerja profesional yang meliputi jam tatap muka, tugas tambahan, serta aktivitas administrasi pendidikan.

Dalam konteks efisiensi anggaran yang saat ini menjadi perhatian pemerintah, termasuk di tengah berbagai tantangan global dan konflik internasional yang berdampak pada perekonomian, sudah saatnya dipertimbangkan model kerja yang lebih fleksibel. Salah satu alternatif yang layak dikaji adalah penerapan Work From Home (WFH) bagi guru selama masa libur peserta didik.

Kebijakan tersebut tidak hanya lebih ekonomis dan efisien, tetapi juga memberikan kesempatan bagi guru untuk beristirahat, meningkatkan kompetensi, serta mempersiapkan diri menghadapi semester berikutnya. Dengan demikian, keseimbangan antara hak profesional guru dan kewajiban sebagai ASN dapat terjaga secara proporsional.

Sudah saatnya pemerintah, khususnya Dinas Pendidikan Kabupaten Bangkalan, bersama pemerintah pusat melakukan kajian dan penyelarasan regulasi agar polemik tahunan mengenai libur guru tidak terus berulang. Sebab, tujuan utama pendidikan bukan sekadar memastikan guru hadir di ruang sekolah yang kosong, melainkan memastikan guru tetap memiliki kualitas, semangat, dan kesiapan terbaik untuk mendidik generasi bangsa.

Persoalan ini pada akhirnya bukan sekadar tentang masuk atau tidak masuk sekolah saat libur semester, tetapi tentang bagaimana negara memandang profesi guru sebagai profesi yang harus dihargai sekaligus dikelola secara adil dan manusiawi.

66105374-da08-48cb-9feb-72cb198e3915

Wamendikdasmen Tegaskan Arah Baru Pendidikan Nasional: Berkualitas, Berkeadilan, dan Merata

Surabaya, 14 Juni 2026 — Resepsi Milad ke-3 Maklumat Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur yang diselenggarakan di Hotel Santika Surabaya, Ahad (14/6/2026), berlangsung semarak dan penuh nuansa kebangsaan. Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional mulai dari Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, anggota DPR RI, anggota DPD RI, Wakil Gubernur Jawa Timur, para rektor perguruan tinggi, hingga berbagai tokoh masyarakat dan kader Muhammadiyah dari berbagai daerah.

Kehadiran para tokoh tersebut menunjukkan besarnya perhatian terhadap perkembangan LHKP PWM Jawa Timur beserta media yang dikelolanya, yakni Maklumat.id, yang dalam usia relatif muda telah menunjukkan kiprah yang signifikan dalam ruang publik dan media kontemporer.

Dalam sambutannya, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Makmun Murod, M.Si., memberikan apresiasi atas perjalanan Maklumat.id yang dinilai mampu tumbuh menjadi media yang produktif dan konsisten menghadirkan narasi-narasi yang mencerahkan. Menurutnya, kehadiran media yang lahir dari rahim Muhammadiyah tersebut menjadi bagian penting dalam mengawal kehidupan kebangsaan sekaligus memperkuat literasi masyarakat di tengah derasnya arus informasi digital.

Apresiasi serupa juga disampaikan oleh Dr. H. Emil Elestianto Dardak, B.Bus., M.Sc., Ph.D., Wakil Gubernur Jawa Timur. Emil Dardak menilai Maklumat.id merupakan pendatang baru di dunia media, namun mampu menunjukkan produktivitas yang luar biasa dalam pergulatan media kontemporer yang sangat dinamis. Di tengah persaingan yang semakin ketat, keberadaan media yang mengedepankan nilai-nilai kebangsaan, moderasi, dan pencerahan menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat.

“Maklumat.id telah menunjukkan bahwa media yang lahir dari semangat dakwah dan intelektualitas mampu bersaing dan memberikan kontribusi positif bagi ruang publik,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah dalam arahannya menyampaikan refleksi panjang mengenai perjalanan kebijakan pendidikan nasional sejak masa Orde Lama hingga era saat ini. Menurutnya, berbagai perubahan kebijakan yang terjadi selama beberapa dekade telah membawa dampak besar terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia.

Ia menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya menghadirkan pendidikan yang bermutu untuk semua serta pendidikan yang berkeadilan melalui pemerataan akses dan kualitas yang proporsional di seluruh wilayah Indonesia. Upaya tersebut menjadi bagian dari cita-cita besar bangsa untuk memastikan setiap anak Indonesia memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas tanpa terkecuali.

Selain isu pendidikan, para pemateri lainnya juga menyoroti situasi kebangsaan terkini dan dinamika geopolitik internasional yang berkembang begitu cepat. Berbagai tantangan global yang terjadi saat ini menuntut bangsa Indonesia untuk semakin memperkuat persatuan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta membangun kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, dan seluruh komponen bangsa.

Pada kesempatan tersebut, perkembangan pergerakan LHKP PWM Jawa Timur juga mendapat perhatian khusus. Dalam usia yang baru menginjak tiga tahun, lembaga ini dinilai telah menunjukkan perkembangan yang sangat menggembirakan. Melalui berbagai program kaderisasi dan penguatan wawasan kebangsaan, LHKP PWM Jawa Timur telah berhasil melahirkan banyak kader yang kini berkiprah di berbagai sektor strategis, baik di lingkungan pemerintahan, dunia pendidikan, organisasi kemasyarakatan, maupun bidang lainnya.

Capaian tersebut menjadi bukti bahwa gerakan kaderisasi yang dilakukan secara konsisten mampu melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa. Karena itu, berbagai pihak memberikan apresiasi sekaligus berharap agar LHKP PWM Jawa Timur terus memperkuat sinergi dengan seluruh elemen bangsa.

Resepsi Milad ke-3 Maklumat LHKP PWM Jawa Timur ini tidak sekadar menjadi peringatan hari lahir, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkokoh kolaborasi, memperluas jejaring, serta menghadirkan gagasan-gagasan strategis demi terwujudnya Indonesia yang lebih maju, berkeadilan, dan berkemajuan.

e290998c-f167-4113-a517-2510ed313266

Kuota Rombel dan Hak Anak Bersekolah: Regulasi Tidak Boleh Menjadi Penghalang

Setiap tahun ajaran baru, persoalan daya tampung sekolah kembali menjadi perhatian masyarakat. Di berbagai daerah, tidak sedikit sekolah dasar yang menjadi pilihan utama warga sehingga jumlah pendaftar jauh melampaui kuota rombongan belajar (rombel) yang tersedia. Akibatnya, muncul pertanyaan mendasar: apakah keterbatasan kuota harus berujung pada tertutupnya akses pendidikan bagi sebagian anak?

Pemerintah sebenarnya telah menetapkan standar jumlah peserta didik SD sebanyak maksimal 28 siswa per rombel. Ketentuan tersebut dimaksudkan untuk menjaga mutu layanan pendidikan agar proses pembelajaran berlangsung secara efektif. Namun, realitas di lapangan sering kali menunjukkan kondisi yang berbeda. Sebaran penduduk yang tidak merata, keterbatasan jumlah sekolah di suatu wilayah, serta tingginya minat masyarakat terhadap sekolah tertentu membuat standar tersebut tidak selalu dapat diterapkan secara ideal.

Menariknya, regulasi terbaru justru memberikan ruang bagi daerah untuk mengakomodasi kondisi-kondisi khusus tersebut. Melalui Permendikdasmen Nomor 26 Tahun 2025 yang kemudian ditindaklanjuti dengan Kepmendikdasmen Nomor 14 Tahun 2026, pemerintah membuka mekanisme verifikasi dan validasi bagi satuan pendidikan yang mengalami kondisi pengecualian. Dengan kata lain, ketentuan mengenai jumlah murid dan jumlah rombel bukanlah aturan yang kaku tanpa solusi.

Dalam Bab I huruf E angka 3 Kepmendikdasmen Nomor 14 Tahun 2026 dijelaskan bahwa kondisi pengecualian merupakan keadaan tertentu yang bersifat objektif, berdasarkan kebutuhan riil di wilayah, dan bersifat sementara yang memungkinkan satuan pendidikan melebihi ketentuan maksimal jumlah peserta didik per rombel maupun jumlah rombel. Ketentuan ini menunjukkan bahwa negara memahami adanya dinamika dan kebutuhan yang berbeda-beda di setiap daerah.

Karena itu, kuota dalam Dapodik seharusnya tidak dipahami sebagai sesuatu yang sepenuhnya tertutup untuk disesuaikan. Regulasi telah menyediakan mekanisme yang memungkinkan pemerintah daerah mengusulkan penyesuaian berdasarkan hasil verifikasi dan validasi. Dengan demikian, yang dibutuhkan adalah komunikasi dan koordinasi yang baik antara sekolah, pemerintah daerah, serta kementerian agar kebutuhan masyarakat dapat terlayani tanpa mengabaikan standar mutu pendidikan.

Pada akhirnya, pendidikan tidak semata-mata berbicara tentang angka dan kuota, tetapi tentang memastikan setiap anak memperoleh haknya untuk belajar. Regulasi telah menyediakan ruang bagi kondisi-kondisi khusus melalui mekanisme pengecualian. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan satuan pendidikan menjadi kunci agar standar mutu tetap terjaga tanpa mengorbankan akses pendidikan bagi anak-anak Indonesia.

Suraji
Praktisi Pendidikan