b74bb111-25a0-434f-84e7-6e263d598d1c

Langkah Sederhana yang Menggerakkan Harapan Besar

Langkah Sederhana yang Menggerakkan Harapan Besar

Pada pagi yang cerah, Jumat, 1 Mei 2026 pukul 10.00 WIB, Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan menjadi saksi sebuah peristiwa yang tak sekadar seremoni, tetapi penuh makna dan inspirasi. Ratusan warga, siswa, dan santri berkumpul dengan penuh antusias menyambut kedatangan Abdul Mu’ti.

Namun, yang membuat momen ini begitu istimewa bukan hanya peresmian Masjid Al Huda Muhammadiyah, melainkan langkah sederhana yang sarat keteladanan.

Dari rumah Haji Suparman, sang menteri memilih berjalan kaki sejauh kurang lebih 300 meter menuju masjid. Di tengah iringan Kyai Rik Suhadi, jajaran pimpinan Muhammadiyah, serta Forkopimda Kabupaten Bangkalan, langkah itu menjadi simbol kedekatan seorang pemimpin dengan rakyatnya.

Sepanjang perjalanan, suasana terasa begitu hidup. Siswa-siswi Madrasah Al Huda, santri dan santriwati Pondok Pesantren Babussalam, serta keluarga besar perguruan Muhammadiyah berdiri berjejer dengan wajah ceria. Tangan-tangan kecil terulur penuh harap.

Dan di situlah keistimewaannya.

Sang menteri tidak sekadar melambaikan tangan. Ia berhenti, menyalami hampir setiap orang yang menyambutnya. Senyum hangatnya menyapa, menjadikan jarak antara pemimpin dan rakyat seakan hilang begitu saja.

Doa-doa pun mengalir tulus dari anak-anak.

“Pak Menteri, doakan saya agar bisa jadi menteri pendidikan nanti…”

Kalimat polos itu menggambarkan betapa kehadiran seorang pemimpin mampu menumbuhkan mimpi besar di hati generasi muda.

Langkah kaki sepanjang 300 meter itu bukan sekadar perjalanan fisik. Itu adalah perjalanan nilai—tentang kerendahan hati, kepedulian, dan komitmen terhadap pendidikan.

Hari itu, di Burneh, pendidikan tidak hanya dibicarakan, tetapi benar-benar dirasakan.

Dari jabat tangan, dari senyuman, dari doa-doa kecil yang terucap, lahir harapan besar: bahwa pendidikan Indonesia akan terus maju, merata, dan memberi kesempatan kepada setiap anak bangsa untuk bermimpi setinggi-tingginya.

Terima kasih, Bapak Menteri.
Langkah sederhana Anda di pagi hari itu telah menyalakan cahaya besar bagi masa depan pendidikan Indonesia.

Pendidikan Bermutu untuk Semua.

8ca857c9-72d7-4804-a1a6-03c1edd888e3

Saat Kereta Mengajarkan Kesabaran dan Keteguhan

Perjalanan pulang itu dimulai dari Stasiun Rogojampi, tepat pukul 16.16 WIB. Kereta KA Blambangan Ekspres kelas eksekutif perlahan bergerak meninggalkan Banyuwangi, membawa bukan hanya tubuh yang lelah, tetapi juga pikiran yang penuh cerita.

Langit sore tampak mendung. Awan gelap menggantung rendah, seolah ikut menemani suasana hati yang belum sepenuhnya tenang. Perjalanan kali ini memang tidak berjalan semulus rencana. Ada dinamika di kampus yang sempat menguji kesabaran—hal yang sebenarnya biasa dalam kehidupan, tetapi tetap saja menyisakan ruang untuk merenung.

Namun justru di situlah maknanya.

Saat kereta mulai melaju lebih cepat, pemandangan berubah menjadi terapi yang tak ternilai. Hamparan persawahan terbentang luas, pegunungan berdiri kokoh di kejauhan, dan langit yang perlahan berubah dari abu-abu menjadi gelap. Semua seperti mengingatkan bahwa kehidupan selalu memiliki dua sisi: tantangan dan keindahan.

Di dalam kabin eksekutif yang nyaman, perjalanan lima jam terasa seperti perjalanan batin. Dari sore menuju malam, dari terang menuju gelap, lalu nanti kembali ke cahaya. Setiap detik membawa pesan: bahwa kesabaran bukan sekadar menahan, tetapi juga memahami.

Sesekali, lampu-lampu kecil di desa yang dilewati mulai menyala. Seperti harapan-harapan kecil yang muncul di tengah gelapnya perjalanan. Di momen itu, hati mulai lebih lapang. Apa yang terjadi sebelumnya tidak lagi terasa berat, melainkan menjadi pelajaran berharga.

Kereta terus melaju menuju Surabaya, dengan estimasi tiba pukul 21.30 WIB. Malam menyambut dengan tenang, seolah memberi penegasan bahwa setiap perjalanan pasti sampai pada tujuannya.

Dan dari perjalanan ini, ada satu hal yang semakin kuat tertanam:

bahwa hidup bukan tentang seberapa mulus jalan yang kita tempuh, tetapi tentang bagaimana kita tetap tegak lurus pada kebenaran, tetap sabar dalam ujian, dan tetap bergerak maju meski dalam kondisi tidak sempurna.

Perjalanan panjang ini bukan sekadar perpindahan dari Banyuwangi ke Surabaya, tetapi juga perjalanan menuju kedewasaan berpikir.

Terus berkarya, terus melangkah, dan terus menyalakan cahaya dalam diri—karena masa depan yang lebih bersinar tidak datang begitu saja, tetapi dibangun dari perjalanan-perjalanan seperti ini.

bdeeee0f-a0a1-4fb3-8157-191dd40a8a48

Yudisium Tahap II Universitas Bakti Indonesia Banyuwangi Berlangsung Khidmat, Diikuti Ratusan Peserta

Banyuwangi, 25 April 2026 – Universitas Bakti Indonesia (UBI) Banyuwangi kembali menyelenggarakan Yudisium Gelombang II atau Tahap II Tahun Akademik 2025–2026 pada Sabtu (25/4). Kegiatan ini berlangsung di aula Gedung Universitas Bakti Indonesia Banyuwangi mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai, dengan suasana yang khidmat dan penuh haru.

Acara yudisium tersebut diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai program studi, baik diploma, sarjana, maupun pascasarjana. Prosesi ini menjadi momentum penting sebagai penanda kelulusan mahasiswa sebelum memasuki tahap wisuda.

Menariknya, pada yudisium kali ini, jumlah peserta terbanyak berasal dari program sarjana, khususnya Program Studi Administrasi Pendidikan. Hal ini menunjukkan tingginya minat serta komitmen mahasiswa dalam bidang pendidikan.

Selain itu, yudisium juga diikuti oleh mahasiswa dari berbagai daerah, termasuk tujuh mahasiswa asal Bangkalan dan satu mahasiswa dari Kabupaten Sampang yang turut hadir dan dinyatakan lulus dalam prosesi tersebut.

Salah satu peserta yudisium, Musdalifah, mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaannya karena dapat menyelesaikan studi hingga tahap akhir. Ia menyampaikan bahwa proses perkuliahan yang dijalaninya menggunakan sistem blended learning, yakni perpaduan antara pembelajaran daring dan luring.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa menyelesaikan perkuliahan dan mengikuti yudisium di UBI Banyuwangi. Prosesnya tidak mudah, karena harus menempuh jarak yang jauh serta membagi waktu, tenaga, dan pikiran. Namun dengan kesabaran dan ketekunan, semua bisa dilalui,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa masa studi yang ditempuh selama dua tahun menjadi pengalaman berharga yang penuh perjuangan, terutama dalam menyesuaikan diri dengan sistem pembelajaran berbasis teknologi.

Sementara itu, peserta yudisium lainnya, Ibu Ely, turut menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada seluruh pihak kampus.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada para dosen, rektor, dan yayasan yang telah memfasilitasi kami untuk bisa berkuliah secara profesional dan serius. Semua ini demi kemajuan pendidikan yang lebih baik,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh lulusan mampu mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh selama masa studi dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam menjalankan tugas sebagai pendidik yang profesional, berintegritas, dan berdaya saing.

Yudisium ini tidak hanya menjadi seremoni akademik, tetapi juga menjadi simbol keberhasilan, perjuangan, dan awal pengabdian para lulusan kepada masyarakat.

5d312647-cb9d-4c1f-9e18-ae4296941d16

Wedang Jahe dan Deadline: Kisah Perjalanan yang Tak Biasa

Perjalanan malam itu dimulai dari Surabaya dengan suasana yang tak biasa—sunyi, sedikit tergesa, tapi juga penuh harap. Saya menaiki kereta eksekutif Wijaya Kusuma menuju Banyuwangi, sebuah perjalanan yang sudah saya tahu akan panjang, namun ternyata menyimpan cerita tersendiri.

Begitu duduk di kursi, satu hal langsung terasa: dingin. AC di gerbong eksekutif benar-benar “niat”—menusuk sampai ke tulang. Sayangnya, saya datang dengan persiapan yang kurang matang. Jaket tertinggal. Awalnya mencoba bertahan, tapi semakin malam, hawa dingin semakin tak bersahabat. Akhirnya, dengan sedikit rasa pasrah, saya memutuskan menyewa selimut dari petugas kereta. Sebuah keputusan kecil yang terasa seperti penyelamat malam itu.

Kereta melaju perlahan meninggalkan Surabaya, membawa saya ke arah timur pulau Jawa. Perjalanan sekitar lima jam menuju Banyuwangi memang bukan waktu yang sebentar. Tapi justru di situlah letak keistimewaannya. Di dalam ruang terbatas itu, waktu seakan melambat—memberi ruang untuk berpikir, merenung, dan menyelesaikan hal-hal yang selama ini tertunda.

Saya mulai membuka buku, mencoba membaca beberapa halaman. Lalu beralih ke gadget, mengecek pekerjaan yang belum selesai. Bahkan sempat mengedit jurnal yang sudah lama menunggu revisi. Aneh tapi nyata, di tengah dinginnya kabin dan gemuruh rel, justru fokus terasa lebih tajam. Tidak ada distraksi berlebihan—hanya saya, pekerjaan, dan perjalanan.

Sesekali, suasana dihangatkan oleh wedang jahe yang dijual di kereta. Hangatnya merambat perlahan, menyeimbangkan dinginnya AC yang tak kunjung kompromi. Perpaduan sederhana, tapi cukup membuat malam itu terasa lebih bersahabat.

Perjalanan kali ini saya jalani sendiri. Rombongan lain sudah berangkat lebih dulu. Saya hanya menyusul, mendampingi teman-teman mahasiswa UBI yang akan menjalani momen penting: yudisium. Meski sendiri, perjalanan ini justru memberi ruang refleksi yang lebih dalam. Tentang perjuangan, tentang proses, dan tentang bagaimana setiap langkah kecil tetap berarti.

Dan benar saja, lima jam yang terasa panjang itu ternyata sangat produktif. Tugas-tugas yang menumpuk perlahan terselesaikan. Hal-hal yang tertunda akhirnya menemukan titik akhir. Seolah perjalanan ini bukan hanya perpindahan tempat, tapi juga penyelesaian tanggung jawab.

Akhirnya, kereta tiba di Banyuwangi. Malam mulai berganti menuju pagi. Ada rasa lega, ada rasa syukur, dan tentu saja—ada cerita yang akan selalu diingat.

Selamat untuk teman-teman yang hari ini melaksanakan yudisium. Semoga gelar master yang diraih bukan sekadar titel, tetapi menjadi jalan untuk meningkatkan kompetensi, memperluas manfaat, dan memberikan kontribusi nyata bagi banyak orang.

IMG-20260417-WA0008

Membangun Pendidikan Bermutu untuk Semua: Langkah Nyata dan Terukur

Pendidikan Bermutu untuk Semua: Langkah Nyata dan Terukur

Dalam beberapa waktu terakhir, publik pendidikan di Indonesia mulai merasakan arah perubahan yang semakin jelas. Di bawah kepemimpinan Abdul Mu’ti, upaya pembenahan pendidikan nasional menunjukkan progres yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Meskipun belum genap dua tahun menjabat sejak Oktober 2024, berbagai program strategis telah dijalankan secara masif, terstruktur, dan berdampak langsung pada satuan pendidikan di seluruh Indonesia.

Salah satu capaian penting adalah percepatan digitalisasi pendidikan. Data menunjukkan ratusan ribu satuan pendidikan telah menerima perangkat digital. Tidak hanya itu, ribuan sekolah kini telah mendapatkan akses internet serta dukungan listrik sebagai fondasi utama pembelajaran berbasis teknologi. Ini bukan sekadar distribusi alat, melainkan investasi jangka panjang untuk menciptakan ekosistem pembelajaran modern.

Masuknya perangkat seperti layar interaktif berbasis Android, bantuan laptop untuk sekolah, serta konektivitas internet telah mengubah wajah kelas. Guru kini memiliki lebih banyak pilihan metode pembelajaran, sementara siswa mendapatkan pengalaman belajar yang lebih kontekstual, visual, dan menarik. Transformasi ini secara perlahan mendorong peningkatan kompetensi siswa, baik dari sisi literasi, numerasi, maupun keterampilan digital.

Revitalisasi Sekolah: Menjawab Masalah yang Menumpuk

Tidak dapat dipungkiri, persoalan infrastruktur pendidikan di Indonesia telah berlangsung bertahun-tahun. Banyak sekolah mengalami kerusakan, keterbatasan ruang belajar, hingga fasilitas yang tidak layak.

Namun melalui program revitalisasi sekolah, pemerintah mulai menjawab persoalan tersebut secara konkret. Tahun 2025 saja, lebih dari 16 ribu satuan pendidikan telah tersentuh program ini. Dan yang lebih progresif, pada tahun 2026 ditargetkan 60.000 sekolah akan menerima revitalisasi.

Langkah ini menunjukkan bahwa pembenahan pendidikan tidak dilakukan secara instan, melainkan melalui pendekatan bertahap namun terukur. Seperti yang sering disampaikan, “membenahi pendidikan nasional bukan kerja instan.” Ini adalah kerja besar yang membutuhkan konsistensi kebijakan dan keberanian eksekusi.

Dampak Nyata: Dari Sarana ke Mutu Pembelajaran

Program bantuan sarana dan prasarana tidak berhenti pada aspek fisik semata. Dampak yang mulai terlihat adalah meningkatnya kualitas proses pembelajaran di kelas. Dengan dukungan teknologi:

  Guru lebih kreatif dalam menyampaikan materi

  Siswa lebih aktif dan partisipatif

  Akses terhadap sumber belajar semakin luas

  Pembelajaran menjadi lebih relevan dengan era digital

Di sinilah letak kekuatan kebijakan saat ini: menghubungkan antara sarana dengan mutu pembelajaran. Artinya, pembangunan tidak hanya terlihat secara kasat mata, tetapi juga terasa dalam peningkatan kualitas pendidikan.

Pendidikan Bukan Panggung Drama, Ini Masa Depan Bangsa

Narasi yang dibangun melalui berbagai program ini juga mengingatkan bahwa pendidikan bukan sekadar isu politik atau bahan perdebatan sesaat. Pendidikan adalah fondasi masa depan bangsa.

Karena itu, kritik tentu tetap diperlukan, namun harus berbasis data yang utuh, bukan potongan narasi yang justru menyesatkan. Upaya besar yang sedang berjalan ini membutuhkan dukungan semua pihak: pemerintah, guru, orang tua, dan masyarakat.

 Optimisme Pendidikan Indonesia

Dengan tagline “Pendidikan bermutu untuk semua”, arah kebijakan saat ini menunjukkan optimisme yang kuat. Pemerataan akses, penguatan sarana, serta peningkatan kualitas pembelajaran menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Perjalanan masih panjang, tantangan masih banyak, namun fondasi sudah mulai dibangun dengan serius. Dan jika konsistensi ini terus dijaga, bukan tidak mungkin Indonesia akan melahirkan generasi yang lebih unggul, adaptif, dan siap menghadapi masa depan.

Screenshot_20260412_163508_WhatsApp

Turnamen Tenis Meja Halal Bihalal Cup 2026 Semarakkan Bangkalan Plaza

Bangkalan, 12 April 2026 — Turnamen Tenis Meja Halal Bihalal Cup 2026 sukses digelar dengan meriah di Bangkalan Plaza pada Minggu (12/4). Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB dan berakhir pukul 17.05 WIB ini diikuti oleh puluhan atlet tenis meja dari berbagai kecamatan se-Kabupaten Bangkalan.

Turnamen ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus kompetisi sehat bagi para pecinta tenis meja di Bangkalan. Sejak pagi, suasana lokasi pertandingan sudah dipadati peserta dan penonton yang antusias menyaksikan jalannya pertandingan demi pertandingan yang berlangsung sengit namun tetap menjunjung tinggi sportivitas.

Berdasarkan hasil akhir pertandingan, Iqbal berhasil meraih juara pertama, disusul oleh dokter Prima sebagai juara kedua, dan Jazuli menempati posisi juara ketiga bersama diky. Ketiga pemenang tersebut tampil impresif sepanjang turnamen dan mampu menunjukkan kemampuan terbaik mereka di hadapan para penonton.

Hal yang menarik dan menjadi daya tarik tersendiri dalam turnamen ini adalah pemberian hadiah unik berupa topi koboi kepada para juara 1 hingga juara 3. Momen para pemenang mengenakan topi koboi tersebut sukses mengundang perhatian dan gelak tawa penonton, sekaligus menambah kesan meriah dan berbeda dari turnamen pada umumnya.

Turnamen Halal Bihalal Cup 2026 ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga mempererat hubungan silaturahmi antar atlet tenis meja se-Kabupaten Bangkalan. Peserta yang datang dari berbagai kecamatan turut menyemarakkan kegiatan ini sehingga suasana kebersamaan terasa begitu kental sepanjang acara.

Busro selaku panitia pelaksana menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh peserta, panitia, serta pihak yang telah berpartisipasi dalam menyukseskan turnamen ini. Ia berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara rutin guna meningkatkan prestasi sekaligus memperkuat kebersamaan para atlet tenis meja di Bangkalan.
“Semoga melalui kegiatan ini, semangat kebersamaan dan sportivitas terus terjaga, serta tenis meja di Bangkalan semakin berjaya,” ujarnya.

Dengan penuh kehangatan dan semangat halal bihalal, Turnamen Tenis Meja Halal Bihalal Cup 2026 menjadi salah satu momentum berharga dalam membangun solidaritas dan prestasi olahraga di Kabupaten Bangkalan.

IMG-20260412-WA0037

Subuh Berjamaah di Masjid Al Huda Burneh Kian Semarak, Jamaah Disuguhi Kopi Hangat hingga Ketupat Manggisan

Burneh, Bangkalan — Kegiatan sholat Subuh berjamaah di Masjid Al Huda, Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan, semakin menunjukkan geliat yang menggembirakan. Selain dihadiri jamaah yang kian bertambah, suasana kebersamaan juga terasa hangat dengan adanya sajian kopi, teh, makanan ringan, hingga ketupat khas daerah Manggisan yang disediakan bagi para jamaah.

Masjid Al Huda yang berada di bawah naungan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Burneh ini kini menjadi pusat kegiatan ibadah yang tidak hanya khusyuk, tetapi juga penuh kebersamaan. Terlebih, dengan bangunan masjid yang baru dan representatif, para jamaah semakin bersemangat untuk istiqomah hadir, khususnya pada waktu sholat Subuh.

Kegiatan sholat Subuh berjamaah ini juga dilanjutkan dengan amalan waktu syuruq atau sholat Isyroq, sehingga para jamaah baru meninggalkan masjid setelah rangkaian ibadah selesai. Hal ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri yang memperkuat semangat ibadah di kalangan masyarakat.

Menariknya, sejak awal pembangunan hingga masjid berdiri megah seperti sekarang, tradisi berbagi atau sedekah dari para jamaah terus terjaga. Berbagai hidangan seperti kopi hangat, teh, aneka snack, bahkan sarapan pagi kerap disajikan secara sukarela oleh para dermawan untuk jamaah Subuh.

Setiap hari Minggu, kegiatan ini semakin semarak dengan adanya kuliah Subuh atau tausiyah yang memberikan pencerahan spiritual bagi jamaah. Sementara di hari lainnya, meskipun tanpa kuliah Subuh, antusiasme jamaah tetap tinggi untuk hadir dan bersilaturahmi.

Setelah rangkaian ibadah, para jamaah tampak akrab menikmati hidangan yang merupakan sedekah dari hamba Allah. Momen ini tidak hanya mempererat ukhuwah Islamiyah, tetapi juga menjadi sarana berbagi rezeki dan kebahagiaan di antara sesama.

H. Suparman, selaku arsitek Masjid Al Huda yang baru, menyampaikan rasa syukurnya atas perkembangan positif tersebut. Ia mengungkapkan bahwa jumlah jamaah yang terus meningkat serta kuatnya jalinan silaturahmi menjadi bukti bahwa masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat kebersamaan umat.

“Alhamdulillah, jamaah semakin banyak dan silaturahmi semakin kuat. Adanya sedekah berupa kopi, teh hangat, snack hingga sarapan pagi ini semakin menambah semarak kegiatan sholat Subuh berjamaah di Masjid Al Huda,” ujarnya.

Dengan semangat kebersamaan dan keikhlasan berbagi, Masjid Al Huda Burneh terus menjadi inspirasi gerakan memakmurkan masjid, khususnya dalam menghidupkan sholat Subuh berjamaah di tengah masyarakat.

IMG-20260407-WA0009

Ketua PDM Bangkalan Bertemu Rektor UMSurabaya, Diskusi Hangat Terjalin di Tengah Takziah Almarhum Muhammad Mirdasy

Ketua PDM Bangkalan Bertemu Rektor UMSurabaya, Diskusi Hangat Terjalin di Tengah Takziah Almarhum Muhammad Mirdasy

Pandaan — Suasana duka menyelimuti kediaman almarhum Muhammad Mirdasy di Pandaan, Selasa (7/4/2026). Almarhum yang menjabat sebagai Ketua LHKP Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur tersebut wafat sehari sebelumnya di Rumah Sakit Muhammadiyah Malang, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Muhammadiyah dan para aktivis gerakan Islam.

Rombongan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bangkalan turut hadir untuk menyampaikan belasungkawa secara langsung. Dengan menggunakan satu mobil, rombongan bergerak menuju rumah duka sebagai bentuk empati dan penghormatan terakhir kepada almarhum yang dikenal luas sebagai sosok aktivis yang konsisten dalam gerakan dakwah dan pemberdayaan umat.

Di lokasi, tampak ribuan pelayat dari berbagai daerah di Jawa Timur memadati rumah duka. Kehadiran para pentakziyah tidak hanya menunjukkan rasa kehilangan yang mendalam, tetapi juga menjadi momentum silaturahim keluarga besar Muhammadiyah se-Jawa Timur. Para kolega, sahabat, dan kader persyarikatan yang pernah berjuang bersama almarhum tampak saling menguatkan dalam suasana haru.

Menariknya, pada saat yang sama hadir pula rombongan dari Universitas Muhammadiyah Surabaya yang dipimpin langsung oleh Rektor beserta jajaran Wakil Rektor dan beberapa dekan. Kehadiran mereka tidak lepas dari jejak pengabdian almarhum yang pernah menjadi bagian dari civitas akademika kampus tersebut sebagai dosen.

Di tengah suasana duka, terjalin pertemuan hangat antara Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bangkalan dengan Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya. Pertemuan yang sebelumnya direncanakan namun sulit terealisasi itu akhirnya terjadi secara tidak terduga dalam momentum takziah.

Percakapan yang berlangsung santai namun penuh makna tersebut berkembang menjadi diskusi yang menarik. Keduanya membahas berbagai hal, mulai dari penguatan sinergi kelembagaan, pengembangan pendidikan, hingga mengenang kebersamaan dengan almarhum yang pernah satu generasi dalam gerakan Pemuda Muhammadiyah.

“Momentum ini memang tidak direncanakan, tetapi justru menghadirkan ruang silaturahim yang sangat bermakna. Banyak hal yang kami diskusikan dan insya Allah akan kami lanjutkan dalam komunikasi yang lebih intens di kesempatan berikutnya,” ungkap salah satu perwakilan rombongan PDM Bangkalan.

Pertemuan tersebut ditutup dengan komitmen untuk terus menjalin komunikasi dan memperkuat kolaborasi ke depan. Keduanya sepakat bahwa nilai-nilai perjuangan yang telah ditanamkan oleh almarhum harus terus dilanjutkan dalam kerja nyata di bidang dakwah dan pendidikan.

Sementara itu, para pentakziyah yang hadir secara bergantian menyampaikan doa dan penghormatan terakhir. Mereka juga memberikan dukungan moril kepada keluarga almarhum agar diberikan ketabahan dan keikhlasan dalam menghadapi musibah ini.

Kepergian almarhum menjadi kehilangan besar, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi gerakan Muhammadiyah dan aktivis pemuda Islam. Namun demikian, semangat perjuangan, dedikasi, dan komitmen beliau dalam dakwah amar ma’ruf nahi munkar diyakini akan terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi penerus.

20260406_204234

Kepergian Muhammad Mirdasy Jadi Kehilangan Besar, Mendikdasmen dan Tokoh Pendidikan Sampaikan Duka

Malang – Duka mendalam menyelimuti keluarga besar Muhammadiyah atas wafatnya Muhammad Mirdasy pada Senin (6/4/2026). Sosok aktivis muda yang dikenal gigih dalam dakwah dan gerakan kepemudaan Islam itu meninggalkan jejak perjuangan yang kuat di berbagai lini.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia turut menyampaikan belasungkawa atas kepergian almarhum. Ia menilai Muhammad Mirdasy sebagai figur muda yang memiliki komitmen tinggi dalam memperjuangkan nilai-nilai keislaman dan kemajuan umat.

“Almarhum bukan hanya kader Muhammadiyah, tetapi juga aktivis pemuda Islam yang konsisten menggerakkan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar dengan pendekatan intelektual dan sosial,” ujarnya.

Menurutnya, kepergian Mirdasy menjadi kehilangan besar, terutama di tengah kebutuhan bangsa terhadap sosok pemuda yang memiliki integritas, keberanian, dan visi keumatan yang kuat.

Semasa hidupnya, Muhammad Mirdasy dikenal aktif dalam berbagai aktivitas organisasi, baik di lingkungan Muhammadiyah maupun jejaring gerakan pemuda Islam yang lebih luas. Ia memiliki perhatian besar terhadap isu-isu strategis umat, termasuk penguatan ideologi, pendidikan, dan peran pemuda dalam kehidupan berbangsa.

Kiprahnya tidak hanya terbatas pada ruang organisasi, tetapi juga merambah pada gerakan sosial dan pemikiran, menjadikannya sebagai salah satu figur muda yang diperhitungkan dalam dinamika dakwah dan gerakan Islam berkemajuan.

Sementara itu, praktisi pendidikan Kabupaten Bangkalan, Suraji, M.Pd, turut menyampaikan duka cita mendalam. Ia menilai sosok Mirdasy sebagai representasi pemuda Islam yang utuh: ideologis, aktif, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap masa depan umat.

“Kepergian beliau adalah kehilangan besar bagi kita semua, khususnya kalangan pemuda Islam. Almarhum adalah sosok yang tidak hanya berpikir, tetapi juga bergerak. Komitmennya terhadap perjuangan dakwah dan pembinaan generasi muda patut menjadi teladan,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa Mirdasy adalah figur yang mampu menjembatani antara gerakan intelektual dan gerakan sosial, sehingga kehadirannya sangat dirasakan dalam berbagai aktivitas keumatan.

“Beliau memiliki keberanian dalam menyuarakan kebenaran dan konsistensi dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam berkemajuan. Ini yang hari ini sangat dibutuhkan oleh generasi muda,” tambahnya.

Ucapan duka dan doa terus mengalir dari berbagai kalangan. Banyak pihak berharap agar perjuangan dan nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh almarhum dapat terus dilanjutkan oleh generasi penerus.

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa beliau, menerima seluruh amal ibadahnya, melapangkan kuburnya, serta menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya,” pungkasnya.

IMG-20260406-WA0042

Aktivis Muhammadiyah dan Tokoh Pemuda Islam Muhammad Mirdasy Wafat, Tinggalkan Jejak Perjuangan Organisasi dan Politik

BANGKALAN – Kabar duka menyelimuti keluarga besar Muhammadiyah dan kalangan aktivis pemuda Islam. Muhammad Mirdasy, tokoh yang dikenal luas sebagai aktivis dakwah, organisator, sekaligus pejuang politik umat, wafat pada Senin (6/4/2026) pukul 14.22 WIB di RS UMM.

Kepergian almarhum tidak hanya dirasakan oleh Muhammadiyah Jawa Timur, tetapi juga oleh seluruh elemen pemuda Islam yang selama ini mengenal sosoknya sebagai figur yang konsisten dalam perjuangan ideologi dan gerakan amar ma’ruf nahi munkar.

Jejak Perjuangan di Dunia Organisasi

Muhammad Mirdasy memiliki perjalanan panjang dalam dunia organisasi, khususnya di lingkungan Muhammadiyah dan kepemudaan. Ia tercatat pernah menjabat sebagai Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PWM Jawa Timur, yang menjadi salah satu motor penggerak pemikiran strategis Muhammadiyah di bidang kebijakan publik.

Selain itu, almarhum juga pernah aktif sebagai Ketua Bidang di Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah serta menjadi Wakil Ketua KNPI Jawa Timur, menunjukkan kiprahnya yang kuat dalam membina dan menggerakkan pemuda lintas organisasi.

Tidak hanya di Muhammadiyah, Mirdasy juga memimpin organisasi keumatan seperti Ketua PW Parmusi Jawa Timur serta aktif dalam berbagai lembaga sosial dan pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa pengabdiannya tidak terbatas pada satu organisasi, tetapi menjangkau seluruh gerakan pemuda Islam secara luas.

Dalam bidang dakwah kontemporer, ia juga dikenal mendorong penguatan dakwah digital melalui pelatihan influencer Muhammadiyah, sebagai bagian dari strategi syiar Islam di era media sosial.

Kiprah dalam Dunia Politik dan Kebijakan Publik

Di bidang politik, Muhammad Mirdasy dikenal sebagai aktivis yang melihat politik sebagai bagian dari jalan dakwah. Ia aktif mendorong kader Muhammadiyah untuk terlibat dalam proses politik guna memperjuangkan kebijakan publik yang berpihak kepada umat.

Secara praktis, ia memiliki pengalaman panjang di dunia politik, di antaranya pernah menjadi anggota DPRD Jawa Timur periode 2004–2009. Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Sekretaris DPW Partai NasDem Jawa Timur serta Ketua DPW Partai Perindo Jawa Timur.

Pandangan politiknya menekankan bahwa Muhammadiyah tidak boleh apatis terhadap politik, melainkan harus hadir sebagai kekuatan moral dan strategis dalam mempengaruhi kebijakan publik demi kemaslahatan umat.

Sosok Penggerak Dakwah dan Inspirasi Pemuda

Muhammad Mirdasy dikenal sebagai figur yang mampu mengintegrasikan dakwah, pemikiran akademik, dan gerakan politik dalam satu nafas perjuangan. Ia tidak hanya berbicara tentang ide, tetapi juga menggerakkan aksi nyata di tengah masyarakat.

Sejumlah tokoh menilai almarhum sebagai aktivis yang matang, dengan kapasitas kepemimpinan yang kuat serta pengalaman lintas bidang, mulai dari sosial, akademik, hingga politik.

Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi gerakan pemuda Islam. Sosoknya yang dekat dengan generasi muda dan konsisten memperjuangkan nilai-nilai keislaman serta kebangsaan akan sulit tergantikan.

“Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn. Beliau bukan hanya milik Muhammadiyah, tetapi milik seluruh pemuda Islam,” ujar salah satu aktivis muda.

Kini, Muhammad Mirdasy telah berpulang. Namun jejak perjuangannya—baik di dunia organisasi maupun politik—akan terus menjadi inspirasi bagi generasi muda Islam untuk melanjutkan dakwah dan pengabdian kepada umat dan bangsa.