2740c1a3-e9f3-4126-9ee3-e4bec76934b3

Puasa Arafah: Sehari yang Ringan Dijalani, Dua Tahun Dosa Dijanjikan Terampuni

Puasa Arafah menjadi salah satu ibadah sunnah yang sangat dinantikan umat Islam menjelang Hari Raya Idul Adha. Dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji, puasa ini bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum besar untuk meraih ampunan Allah SWT. Di tengah kesibukan kehidupan modern, puasa Arafah mengajarkan bahwa kesempatan memperoleh pahala besar terkadang hadir melalui amalan yang tampak sederhana.

Allah SWT dalam Al-Qur’an mengingatkan tentang kemuliaan hari-hari tertentu, termasuk sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah:

وَالْفَجْرِ ۝ وَلَيَالٍ عَشْرٍ

“Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh.”
(QS. Al-Fajr: 1–2)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa “malam yang sepuluh” merujuk pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah yang di dalamnya terdapat Hari Arafah, hari yang memiliki kedudukan sangat agung dalam Islam.

Puasa Arafah bukan sekadar tradisi tahunan. Ia memiliki dasar yang kuat dari hadis sahih Rasulullah SAW. Dari Abu Qatadah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ

Artinya:

“Puasa Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”
(HR Muslim No.1162)  

Hadis sahih ini sering membuat umat Islam merenung: betapa luas rahmat Allah SWT. Hanya dengan puasa sehari, seorang hamba diberi peluang memperoleh pengampunan dosa selama dua tahun. Namun para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar tetap memerlukan taubat yang sungguh-sungguh.  

Menariknya, puasa Arafah justru tidak dianjurkan bagi jamaah haji yang sedang wukuf di Padang Arafah. Rasulullah SAW sendiri tidak berpuasa saat menjalankan wukuf agar memiliki kekuatan fisik dan fokus dalam ibadah haji.  

Dalam pandangan yang lebih luas, puasa Arafah juga mengandung pesan sosial dan spiritual yang mendalam. Saat jutaan jamaah berkumpul di Padang Arafah memohon ampun kepada Allah, umat Islam di berbagai belahan dunia ikut merasakan semangat penghambaan melalui puasa. Seolah-olah seluruh umat bergerak dalam satu irama ketakwaan.

Hari Arafah sendiri juga termasuk hari istimewa. Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ

Artinya:

“Tidak ada hari ketika Allah lebih banyak membebaskan hamba dari api neraka dibanding Hari Arafah.”
(HR Muslim)  

Puasa Arafah pada akhirnya bukan hanya tentang menahan makan dan minum. Ia adalah undangan Allah untuk membersihkan diri, memperbaiki hubungan dengan sesama, memperbanyak doa, dan menata ulang kehidupan agar lebih dekat kepada-Nya.

Di tengah banyaknya kesempatan yang sering kita lewatkan, mungkin puasa Arafah adalah pengingat bahwa satu hari yang dilakukan dengan ikhlas dapat mengubah perjalanan hidup seseorang. Karena bisa jadi, amalan kecil yang kita anggap biasa justru menjadi sebab turunnya ampunan dan kasih sayang Allah SWT.

 

e53eef48-b41a-4f8a-9b37-179b55d43e28

Kisah Inspiratif: Makan Malam Sederhana, Diskusi Besar untuk Masa Depan Pendidikan Bangkalan

Minggu malam, 24 Mei 2026, menjadi salah satu momen yang tidak hanya meninggalkan kesan mendalam, tetapi juga menghadirkan pelajaran berharga tentang arti kepemimpinan dan kepedulian terhadap pendidikan. Setelah kegiatan Stadium General Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah berlangsung di gedung pertemuan Universitas Trunojoyo Madura, suasana formal perlahan berganti menjadi lebih hangat dan bersahaja. Di sela rangkaian kunjungan kerja di kampus UTM, terselenggara makan malam bersama yang sederhana namun sarat makna.

Di satu meja makan duduk bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, Rektor Prof. Dr. Safi, SH., MH., Wakil Bupati Muhammad Fauzan Ja’far, SH., MH., serta beberapa tokoh dan pejabat yang turut mendampingi. Tidak ada sekat yang terasa. Tidak tampak jarak antara pemegang kebijakan dan masyarakat. Yang terlihat justru kebersamaan dalam satu tujuan: memikirkan masa depan pendidikan yang lebih baik.

Di tengah hidangan makan malam yang telah disiapkan oleh pihak kampus, perbincangan mengalir dengan sangat alami. Meski dikemas dalam suasana santai, diskusi berlangsung serius, penuh perhatian, dan kaya gagasan. Rektor UTM menyampaikan berbagai perkembangan pendidikan di Kabupaten Bangkalan serta sejumlah potensi yang dimiliki daerah tersebut. Sementara Wakil Bupati Bangkalan memaparkan kondisi nyata sarana dan prasarana pendidikan, termasuk keadaan gedung-gedung sekolah yang masih memerlukan perhatian dan penguatan.

Menariknya, dalam suasana yang penuh keakraban tersebut, Menteri Pendidikan dengan tenang menjelaskan berbagai langkah besar yang telah dan sedang dijalankan pemerintah. Beliau menyinggung program revitalisasi pendidikan, konsep pembelajaran mendalam (deep learning), implementasinya di lapangan, hingga makna besar dari tema Pendidikan Bermutu untuk Semua. Bahwa pendidikan bukan hanya tentang ruang kelas dan kurikulum, tetapi tentang memastikan setiap anak memperoleh kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang.

Pada kesempatan itu, saya, Suraji, juga memperoleh ruang untuk ikut menyampaikan pandangan. Saya sedikit menyinggung persoalan penting mengenai kebutuhan kepala sekolah di Kabupaten Bangkalan yang hingga kini masih menjadi perhatian. Saya menyampaikan bagaimana tata kelola, manajemen, serta proses rekrutmen kepala sekolah idealnya dilaksanakan sesuai regulasi yang berlaku. Sebab kepala sekolah bukan sekadar jabatan administratif, tetapi sosok pemimpin pendidikan yang menentukan arah kualitas sekolah.

Saya juga menyampaikan harapan agar kekurangan kepala sekolah yang masih terjadi dapat segera diatasi dengan mekanisme yang tepat dan sesuai aturan, sehingga kualitas pendidikan dapat semakin meningkat. Pendidikan bermutu tidak hanya dibangun dengan gedung yang baik, tetapi juga melalui kepemimpinan yang baik.

Yang paling menginspirasi dari pertemuan malam itu bukan semata isi diskusinya, melainkan suasananya. Di meja makan yang sederhana, sambil menikmati hidangan malam, lahir percakapan yang mungkin tidak selalu bisa terjadi dalam forum resmi. Tidak ada protokol yang membatasi. Tidak ada jarak yang memisahkan.

Malam itu mengajarkan satu hal penting: gagasan besar terkadang lahir dari percakapan sederhana. Solusi kadang muncul bukan hanya di ruang rapat, tetapi juga di meja makan. Karena ketika hati dipertemukan, jabatan bukan lagi pembatas.

Semoga pertemuan sederhana namun penuh makna tersebut menjadi inspirasi bahwa siapa pun dapat menyampaikan harapan dan gagasan demi pendidikan yang lebih baik. Sebab pendidikan adalah urusan bersama, dan masa depan Bangkalan yang berkualitas lahir dari keberanian untuk berdialog, mendengar, serta mencari solusi bersama.

Gedung 5 UMM-thumbnail

“Ngampus” — Ketika Dua Hari Menjadi Ruang Ikhtiar yang Lebih Bermakna

“Ngampus” — Ketika Dua Hari Menjadi Ruang Ikhtiar yang Lebih Bermakna

18–19 Mei 2026 menjadi dua hari yang terasa sangat berkesan dalam perjalanan akademik saya. Bukan karena perjalanan “ngampus” ini hanya berlangsung dua hari, sebab proses menuju tahap ini sesungguhnya telah berlangsung jauh sebelumnya melalui rangkaian perkuliahan, diskusi, bimbingan, serta perjalanan panjang yang berulang kali mengantarkan langkah ke kampus. Namun, dua hari tersebut terasa berbeda karena intensitasnya yang jauh lebih padat, lebih fokus, dan lebih maksimal dalam rangka bimbingan proposal disertasi di lingkungan Universitas Muhammadiyah Malang.

Dua hari itu seperti menjadi ruang khusus untuk memaksimalkan ikhtiar akademik. Waktu seakan dipadatkan dalam agenda yang penuh: diskusi, revisi, telaah teori, penyempurnaan kerangka berpikir, hingga mematangkan arah penelitian yang sedang disusun. Ada proses bolak-balik menemui dosen pembimbing, berdiskusi panjang, menerima masukan, lalu kembali memperbaiki berbagai bagian penelitian.

Perjalanan ini bukan perjalanan yang ringan. Ada tahapan-tahapan penelitian yang mulai dirangkai secara perlahan. Gambaran awal penelitian dipetakan mulai dari lokus penelitian, variabel-variabel yang dikembangkan, hingga upaya menghadirkan model baru dalam bentuk kebijakan yang nantinya diharapkan dapat memberi kontribusi nyata kepada daerah.

Tema tentang arah kebijakan pendidikan daerah dan dampaknya terhadap peningkatan mutu pembelajaran di sekolah dasar ternyata menuntut proses yang jauh lebih luas dari sekadar menyusun proposal. Ada tuntutan literasi yang besar, membaca banyak referensi, menelaah teori para ilmuwan, serta memahami secara mendalam landasan kebijakan yang menjadi pijakan penelitian.

Dalam proses itu, saya banyak menelaah pemikiran Donald Van Meter dan Carl Van Horn yang teorinya sering dijadikan parameter dalam penelitian kebijakan, khususnya kebijakan pendidikan daerah. Pemikiran mereka menjadi salah satu pijakan penting untuk memahami bahwa kebijakan bukan hanya berhenti pada tahap perumusan, tetapi juga harus dilihat dari implementasi dan dampaknya.

Harapannya sederhana namun besar: penelitian ini dapat memberi kontribusi bagi daerah agar pendidikan di Kabupaten Bangkalan semakin maju melalui pola, strategi, serta tata kelola yang lebih baik.

Karena itu, penyusunan proposal disertasi membutuhkan kajian yang luas, teori yang memadai, serta metode penelitian yang sesuai dengan kompleksitas objek penelitian. Pendekatan mix method dipilih karena mampu memadukan pendekatan kuantitatif dan kualitatif sehingga memperkuat validitas sekaligus orisinalitas penelitian.

Di tengah suasana Malang yang mendung dan dingin, ada energi tersendiri yang justru menghadirkan semangat. Hari-hari itu dipenuhi buku, catatan, diskusi, dan lembar-lembar konsep penelitian yang terus diperbaiki.

Terima kasih saya sampaikan kepada para promotor dan ko-promotor yang dengan penuh kesabaran terus mendampingi, memberikan arahan, masukan, serta pertimbangan ilmiah yang sangat berarti. Semoga seluruh ikhtiar ini berjalan lancar, segera terealisasi, dan mengantarkan pada tahapan berikutnya.

Karena ternyata, “ngampus” bukan hanya soal datang ke kampus. Kadang, ia adalah cerita tentang ketekunan, kesabaran, dan keyakinan bahwa ilmu yang diperjuangkan hari ini akan menjadi manfaat besar di masa depan.

910e1720-955a-416b-85e3-d5564e2dedb3

Semangat Kebersamaan Warnai Rapat Persiapan Idul Adha PCM Burneh, Jumlah Hewan Qurban Diprediksi Meningkat

Pimpinan Cabang Muhammadiyah Burneh menggelar rapat persiapan pelaksanaan Sholat Idul Adha sekaligus penyembelihan hewan qurban yang akan dilaksanakan pada momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Rapat tersebut berlangsung penuh semangat kebersamaan dengan melibatkan panitia, tokoh masyarakat, kader Muhammadiyah, serta warga sekitar Burneh yang selama ini dikenal sangat guyub dalam mendukung kegiatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan.

Kegiatan tahunan ini menjadi salah satu agenda besar PCM Burneh karena setiap tahunnya jumlah hewan qurban yang diterima terus mengalami peningkatan. Banyaknya amanah qurban dari masyarakat umum membuat panitia harus melakukan persiapan secara matang, mulai dari pembentukan kepanitiaan, teknis penyembelihan, distribusi daging qurban, hingga kesiapan tenaga relawan di lapangan.

Dalam rapat tersebut, panitia juga melakukan evaluasi pelaksanaan tahun sebelumnya yang dinilai berjalan lancar dan penuh kekompakan. Pada tahun lalu, jumlah hewan qurban tercatat mencapai 33 ekor, terdiri dari 25 ekor sapi dan 8 ekor kambing. Jumlah tersebut menjadi salah satu capaian yang membanggakan sekaligus menunjukkan tingginya kepercayaan masyarakat kepada PCM Burneh dalam pengelolaan hewan qurban.

Menariknya, meskipun pelaksanaan Iduladha masih menyisakan waktu cukup panjang, antusiasme masyarakat tahun ini sudah terlihat sangat tinggi. Hingga saat ini, panitia telah mendata sementara sebanyak 16 ekor sapi dan 3 ekor kambing yang dipastikan akan disembelih. Jumlah tersebut diprediksi masih akan terus bertambah mendekati hari pelaksanaan.

Ketua panitia menyampaikan bahwa meningkatnya jumlah hewan qurban dari tahun ke tahun menjadi tanda tumbuhnya kesadaran umat Islam tentang pentingnya berqurban sebagai bagian dari sunnah Nabi Ibrahim AS yang memiliki nilai pengorbanan, kepedulian sosial, dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Selain menjadi ibadah spiritual, momentum qurban di lingkungan Muhammadiyah Burneh juga menjadi sarana memperkuat ukhuwah dan solidaritas masyarakat. Kebersamaan panitia yang terdiri dari berbagai unsur warga sekitar Burneh menjadi pemandangan yang selalu menarik setiap tahunnya. Mulai dari proses persiapan, penyembelihan, hingga pendistribusian daging qurban dilakukan secara gotong royong dengan suasana penuh kekeluargaan.

Semangat kebersamaan tersebut menjadi kekuatan utama PCM Burneh dalam menjaga amanah masyarakat. Dengan koordinasi yang baik dan dukungan warga yang luar biasa, panitia optimistis pelaksanaan Sholat Iduladha dan penyembelihan hewan qurban tahun ini akan kembali berjalan lancar, tertib, dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat sekitar.

Screenshot

Di Tengah Gemerlap Dunia, Mereka Memilih Hidup Sederhana

Kesederhanaan yang Menginspirasi: Teladan Pemimpin Muhammadiyah untuk Bangsa

Di tengah zaman ketika kemewahan sering dipamerkan di media sosial, masyarakat Indonesia justru dibuat kagum oleh sosok-sosok pemimpin yang memilih hidup sederhana. Dari lingkungan Muhammadiyah, muncul teladan yang tidak hanya berbicara tentang ilmu dan kepemimpinan, tetapi juga tentang akhlak, ketulusan, dan kesahajaan hidup. Dua sosok yang kini banyak diperbincangkan masyarakat adalah Prof. Dr. Haedar Nashir dan Abdul Mu’ti.

Nama Prof. Dr. Haedar Nashir beberapa waktu terakhir menjadi perbincangan hangat karena kesederhanaannya yang begitu nyata. Banyak masyarakat merasa takjub melihat seorang ketua umum organisasi besar dengan aset yang disebut mencapai ratusan triliun rupiah tetap menjalani kehidupan yang sangat sederhana. Di tengah posisi yang sangat tinggi, beliau tetap memilih bepergian dengan kereta api, duduk bersama masyarakat umum, ikut mengantre tanpa meminta perlakuan istimewa, dan membawa tas atau koper lama yang sudah bertahun-tahun digunakan.

Pemandangan seperti itu terasa langka di masa kini. Sebagian orang mungkin mengira bahwa seorang pemimpin besar harus selalu tampil mewah, menggunakan fasilitas mahal, kendaraan eksklusif, dan pengawalan berlebihan. Namun, yang tampak pada diri Prof. Dr. Haedar Nashir justru sebaliknya. Kesederhanaannya bukan dibuat-buat untuk pencitraan, melainkan lahir dari cara pandang hidup yang menempatkan amanah di atas kemewahan.

Beliau seolah ingin mengajarkan kepada masyarakat bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh mahalnya pakaian, besarnya kendaraan, atau mewahnya fasilitas. Kemuliaan justru hadir dari keteladanan, kejujuran, dan pengabdian kepada umat. Tas lama yang terus dipakai itu bukan sekadar barang biasa, melainkan simbol bahwa hidup tidak perlu dipenuhi gengsi. Bahwa seorang pemimpin besar tetap bisa tampil sederhana tanpa kehilangan kehormatan.

Kesederhanaan itu juga terlihat pada sosok Abdul Mu’ti. Sebagai Sekretaris Umum PP Muhammadiyah sekaligus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, beliau memiliki jabatan yang sangat tinggi dan terhormat. Namun kehidupan pribadinya justru memperlihatkan ketenangan dan kesahajaan yang luar biasa.

Rumah beliau yang berada di gang kecil dan sederhana menjadi perbincangan banyak orang karena dipenuhi buku-buku layaknya perpustakaan kecil. Tidak tampak kemewahan berlebihan. Yang terlihat justru suasana ilmu pengetahuan, budaya membaca, dan kecintaan terhadap pendidikan. Rumah itu seakan menjadi gambaran bahwa orang besar tidak selalu hidup dengan kemegahan, tetapi dengan kedalaman ilmu dan keluasan wawasan.

Di tengah budaya hedonisme yang semakin kuat, keteladanan seperti ini terasa sangat menyejukkan. Banyak orang berlomba memperlihatkan kekayaan, tetapi tokoh-tokoh Muhammadiyah ini justru memperlihatkan bahwa jabatan tinggi tidak harus diiringi gaya hidup mewah. Mereka mengajarkan bahwa semakin tinggi ilmu dan kedudukan seseorang, seharusnya semakin rendah hati pula sikapnya.

Kesederhanaan para tokoh Muhammadiyah ini juga menjadi pelajaran penting bagi generasi muda. Bahwa sukses bukan berarti harus hidup berlebihan. Bahwa kehormatan tidak lahir dari barang bermerek, melainkan dari manfaat yang diberikan kepada sesama. Dan bahwa seorang pemimpin sejati adalah mereka yang tetap dekat dengan rakyat, tidak menjaga jarak dengan masyarakat kecil, serta tetap hidup apa adanya meskipun memiliki kesempatan menikmati berbagai kemewahan.

Apa yang ditunjukkan oleh Prof. Dr. Haedar Nashir dan Abdul Mu’ti sesungguhnya merupakan cermin nilai luhur bangsa Indonesia: hidup sederhana, rendah hati, dan mengutamakan pengabdian. Mereka membuktikan bahwa kekuatan terbesar seorang pemimpin bukan terletak pada kemewahan yang dimiliki, melainkan pada keteladanan yang diwariskan.

Di era modern ini, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi juga membutuhkan figur yang mampu menjadi contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dan kesederhanaan para tokoh Muhammadiyah tersebut telah menjadi cahaya yang mengingatkan kita semua bahwa hidup yang penuh makna tidak harus dipenuhi kemewahan. Kadang, justru dari kesederhanaanlah lahir ketulusan, kewibawaan, dan penghormatan yang sesungguhnya.

IMG-20260512-WA0027

Menulis di Tengah Kesibukan Belajar Lingkungan di Santera Batu

Menulis di Tengah Kesibukan Belajar Lingkungan di Santera Batu

Pagi itu udara Kota Batu terasa begitu sejuk. Kabut tipis masih menyelimuti perbukitan ketika rombongan siswa mulai memenuhi area wisata edukasi Santera Batu. Suara tawa anak-anak terdengar bersahutan, berpadu dengan aroma bunga yang bermekaran di berbagai sudut taman. Di tengah hiruk-pikuk kegiatan belajar luar kelas itu, ada satu hal menarik yang mungkin jarang disadari banyak orang: semangat untuk terus menulis ternyata bisa tumbuh di sela-sela kesibukan mendampingi murid belajar.

Sebagian orang mungkin berpikir bahwa menulis membutuhkan tempat sunyi, meja rapi, dan waktu panjang tanpa gangguan. Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Kadang inspirasi justru hadir di tengah langkah-langkah kecil mendampingi anak-anak mengenal lingkungan. Saat para siswa sibuk mengamati bunga berwarna merah yang tegak mekar di taman, memperhatikan aneka tumbuhan ekologis, hingga berlarian penuh kegembiraan menuju wahana permainan, di situlah cerita kehidupan mulai terkumpul sedikit demi sedikit.

Menulis bukan hanya tentang duduk diam di depan layar. Menulis adalah kemampuan menangkap makna dari setiap perjalanan hidup. Di Santera Batu, setiap sudut taman seolah mengajarkan bahwa belajar dapat hadir di mana saja. Anak-anak yang awalnya hanya ingin bermain ternyata mulai bertanya tentang nama tanaman, cara bunga tumbuh, hingga bagaimana menjaga kelestarian lingkungan. Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu menjadi bahan renungan yang sangat berharga.

Di sela mendampingi murid, terkadang tangan mulai membuka catatan kecil di ponsel. Beberapa kalimat ditulis cepat sebelum momen itu hilang. Ada tentang keceriaan siswa yang begitu polos. Ada tentang semangat guru yang tetap sabar mengarahkan anak-anak. Ada pula tentang keindahan alam yang seakan menjadi ruang kelas tanpa dinding. Semua itu perlahan berubah menjadi tulisan yang hidup.

Kesibukan ternyata bukan alasan untuk berhenti berkarya. Justru di tengah aktivitas itulah seseorang belajar mengelola waktu, menjaga semangat, dan menghargai setiap inspirasi kecil. Menulis di tengah kegiatan belajar lingkungan seperti di Santera Batu bukan sekadar menghasilkan cerita, tetapi juga menjadi cara mengabadikan pengalaman berharga agar tidak hilang begitu saja.

Yang paling menginspirasi adalah melihat bagaimana anak-anak sebenarnya juga sedang mengajarkan sesuatu kepada orang dewasa. Mereka mengajarkan rasa ingin tahu, semangat mencoba, dan kemampuan menikmati hal-hal sederhana. Ketika seorang murid tersenyum bahagia melihat bunga bermekaran atau tertawa saat mengenal tanaman baru, di situlah muncul kesadaran bahwa pendidikan terbaik sering lahir dari pengalaman nyata.

Santera Batu pada akhirnya bukan hanya menjadi tempat wisata edukasi. Tempat itu menjadi ruang refleksi bahwa menulis dapat dilakukan kapan saja selama hati masih mau memperhatikan kehidupan. Bahkan di tengah padatnya mendampingi murid belajar, inspirasi tetap bisa tumbuh seperti bunga-bunga yang mekar indah di taman pegunungan Kota Batu.

Karena sesungguhnya, tulisan yang paling menyentuh bukan lahir dari suasana sempurna, melainkan dari ketulusan seseorang dalam merekam makna perjalanan hidupnya.

4fc24f64-6445-435d-9ec9-6e9caf5400e4

Turnamen Tenis Meja Ganda Putra Bangkalan Berlangsung Meriah, Jurda dan Fikar Raih Juara Pertama

BANGKALAN – Turnamen Tenis Meja Ganda Putra tingkat Kabupaten Bangkalan yang digelar di Bangkalan Plaza pada Minggu, 10 Mei 2026 berlangsung meriah dan penuh semangat sportivitas. Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB hingga selesai tersebut diikuti oleh banyak atlet tenis meja terbaik dari berbagai wilayah di Kabupaten Bangkalan.

Turnamen ini menjadi salah satu ajang bergengsi bagi para pecinta olahraga tenis meja di Bangkalan karena hampir seluruh petenis meja terbaik turut ambil bagian dalam kompetisi tersebut. Antusiasme peserta maupun penonton menambah semarak jalannya pertandingan sejak babak awal hingga partai final.

Pasangan Jurda dan Fikar berhasil tampil impresif dan keluar sebagai juara pertama setelah menunjukkan permainan yang solid dan konsisten sepanjang turnamen. Sementara posisi juara kedua diraih oleh pasangan Puji dan Rohim yang juga tampil sangat kompetitif. Adapun juara ketiga berhasil diraih pasangan ganda putra asal wilayah timur Kabupaten Bangkalan, yakni dari Blega, yaitu Haji Syukron CS.

Ketatnya persaingan antar peserta membuat turnamen kali ini berlangsung sangat menarik. Banyak pertandingan berlangsung sengit dan menghibur sehingga mendapat apresiasi dari para peserta maupun penonton yang hadir.

Ketua Umum PTMSI Kabupaten Bangkalan, dr. Prima Nugroho, menyampaikan apresiasi kepada seluruh atlet yang telah berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Ia juga mengucapkan selamat kepada para pemenang yang telah menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam turnamen kali ini.

“Terima kasih kepada seluruh atlet yang telah ikut berpartisipasi dan menjaga sportivitas selama pertandingan berlangsung. Selamat kepada para juara yang berhasil meraih prestasi terbaik,” ujarnya.

Sementara itu, panitia pelaksana, Husnul Yakin, turut menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan membantu menyukseskan kegiatan tersebut.

Ia berharap turnamen tenis meja di Kabupaten Bangkalan ke depan akan semakin berkembang dan semakin menarik, terlebih dalam beberapa minggu mendatang akan digelar turnamen antarklub tingkat Kabupaten Bangkalan yang diprediksi berlangsung lebih bergengsi dan kompetitif.

Turnamen ini sekaligus menjadi ajang pemanasan dan persiapan para atlet menjelang kompetisi antarklub yang akan datang, serta menjadi bukti bahwa olahraga tenis meja masih sangat diminati masyarakat dan atlet di Kabupaten Bangkalan.

IMG-20260509-WA0013

Kisah Inspiratif: Belajar Kesederhanaan dari Seorang Guru Besar

Perjalanan itu menjadi salah satu pengalaman yang sulit saya lupakan. Siapa sangka, sebuah perjalanan sederhana dari kampus menuju sebuah desa di wilayah Cluring, Banyuwangi, justru menghadirkan pelajaran hidup yang begitu mendalam. Saya berkesempatan mengenal sosok yang luar biasa, seorang guru besar yang telah lama menyandang gelar profesor sejak tahun 2009, yaitu Prof. Dr. Widi Harsono.

Beliau merupakan Direktur Pascasarjana Universitas Bakti Indonesia Banyuwangi⁠�, sosok akademisi yang dihormati banyak mahasiswa dan dosen. Namun, yang paling membekas dalam ingatan saya bukanlah jabatan atau gelar panjang beliau, melainkan kesederhanaannya yang begitu tulus.

Hari itu saya berangkat dari kampus menuju rumah beliau. Perjalanan sekitar 4–5 kilometer terasa begitu menyenangkan. Jalan menuju rumah Prof. Widi dipenuhi pepohonan rindang di kanan dan kiri. Udara desa di kawasan Cluring terasa sejuk dan damai. Semakin mendekati rumah beliau, suasana pedesaan Banyuwangi benar-benar menghadirkan ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Sesampainya di rumah beliau, saya justru terdiam sejenak. Dalam bayangan saya, seorang profesor besar yang sudah lama menyandang gelar akademik tertinggi mungkin tinggal di rumah megah dengan berbagai fasilitas mewah. Namun kenyataannya jauh berbeda. Rumah beliau sangat sederhana. Tidak besar, tidak berlebihan, tetapi terasa hangat dan penuh kehidupan.

Ketika masuk ke dalam rumah, saya melihat banyak foto-foto perjalanan hidup beliau. Ada foto masa kuliah, foto saat pengukuhan guru besar, hingga berbagai kenangan akademik yang tersusun sederhana di dinding rumah. Dari situ saya memahami bahwa kebesaran seseorang ternyata tidak selalu ditunjukkan dengan kemewahan, tetapi dengan perjalanan hidup dan dedikasi yang dijalani dengan ketulusan.

Hal lain yang membuat saya semakin kagum adalah sisi humanis beliau. Di salah satu pojok rumah terdapat ruang sederhana untuk bermain musik. Ternyata Prof. Widi sangat menyukai musik. Beliau bisa bermain gitar, bernyanyi, bahkan memainkan alat musik dengan penuh penghayatan. Rasanya begitu menarik melihat seorang ilmuwan, akademisi, sekaligus guru besar tetap memiliki jiwa seni yang hidup. Kesederhanaan itu membuat beliau terasa dekat dengan siapa saja.

Pertemuan itu benar-benar memberikan pelajaran besar bagi saya. Bahwa ilmu yang tinggi tidak harus membuat seseorang hidup dalam kemewahan atau menjauh dari masyarakat. Justru semakin tinggi ilmunya, semakin sederhana cara hidupnya. Itulah yang saya lihat langsung dari sosok Prof. Widi.

Selain dikenal sebagai akademisi dan ilmuwan, beliau juga dikenal sangat peduli terhadap mahasiswa, khususnya mahasiswa pascasarjana. Banyak mahasiswa yang merasakan bantuan, dukungan, dan kemudahan dalam urusan akademik karena perhatian beliau. Sikap beliau yang selalu membantu tanpa membeda-bedakan membuat banyak mahasiswa merasa dihargai dan dimotivasi untuk terus belajar.

Bagi saya pribadi, pertemanan dan perkenalan dengan Prof. Widi bukan sekadar hubungan akademik biasa. Ini adalah perjumpaan dengan sosok inspiratif yang mengajarkan arti kerendahan hati. Di tengah gelar profesor, jabatan tinggi, dan pengalaman akademik yang luar biasa, beliau tetap hidup sederhana di desa, tetap ramah, tetap dekat dengan musik, dan tetap peduli kepada mahasiswa.

Terima kasih Prof. Widi atas inspirasi yang diberikan kepada kami semua. Semoga beliau selalu diberikan kesehatan, umur panjang, dan terus menjadi cahaya inspirasi bagi mahasiswa pascasarjana, alumni, serta keluarga besar Universitas Bakti Indonesia Banyuwangi⁠�, termasuk kami dari Kabupaten Bangkalan. Kisah sederhana ini menjadi bukti bahwa kebesaran sejati bukan tentang kemewahan, tetapi tentang ketulusan, kesederhanaan, dan manfaat bagi banyak orang.

IMG-20260504-WA0001

“Di Antara Rel dan Bahasa: Kisah Perjalanan Pulang yang Menyatukan Indonesia dan Aljazair”

Perjalanan pulang itu terasa berbeda. Sore 2 Mei 2026, selepas mengikuti wisuda tahap kedua pascasarjana dan kegiatan Kemendikdasmen di Taman Blambangan, saya melangkah menuju stasiun di Banyuwangi dengan hati penuh syukur sekaligus lelah yang terbayar. Hari itu bukan sekadar penutup rangkaian kegiatan akademik mahasiswa saya, tetapi juga awal dari sebuah perjalanan reflektif menuju Surabaya.

Kereta yang saya naiki, rangkaian Blambangan Express, berangkat tepat pukul 16.15 WIB. Saya duduk di kursi yang sudah ditentukan, bersiap menikmati perjalanan sekitar lima jam. Namun, perjalanan ini ternyata bukan sekadar perpindahan dari satu kota ke kota lain—melainkan perjalanan lintas budaya dan perspektif.

Di samping saya duduk seorang guru asal Aljazair bernama Mr. Houari Boum. Ia baru dua minggu berada di Indonesia. Dari awal perkenalan, kami langsung menyadari satu hal: bahasa akan menjadi jembatan sekaligus tantangan. Ia berbicara dalam bahasa Inggris dengan cukup fasih, sementara saya berusaha menyesuaikan kemampuan saya yang tidak sefasih beliau. Namun justru di situlah letak keindahannya—kami sama-sama belajar, saling memahami, dan saling menghargai keterbatasan.

Percakapan kami mengalir dari hal sederhana hingga mendalam. Ia bercerita tentang kehidupan sosial di Aljazair, tentang bagaimana masyarakatnya memegang teguh nilai budaya dan agama. Saya pun berbagi tentang Indonesia—tentang keberagaman, gotong royong, hingga dinamika pendidikan. Kami juga menyentuh topik politik luar negeri, membandingkan bagaimana kedua negara memandang dunia dan perannya masing-masing.

Di tengah perjalanan, saya menunjukkan sebuah video YouTube tentang kerapan sapi Madura. Matanya berbinar melihat tradisi yang begitu unik dan penuh semangat. Ia tampak sangat tertarik, bahkan beberapa kali bertanya detail tentang makna budaya di balik perlombaan tersebut. Dari situ, saya merasa bahwa budaya lokal yang sering kita anggap biasa ternyata mampu memukau mata dunia.

Yang paling mengesankan bukan hanya isi percakapan kami, tetapi suasana kebersamaan yang terbangun. Dua orang dari latar belakang berbeda, bahasa berbeda, bahkan benua berbeda—duduk berdampingan dalam satu gerbong kereta, berbagi cerita, tawa, dan pemahaman baru. Perjalanan yang awalnya terasa panjang justru terasa singkat karena dipenuhi makna.

Saat kereta mulai mendekati Surabaya sekitar pukul 21.30 WIB, saya menyadari bahwa perjalanan ini telah memberi lebih dari sekadar perpindahan fisik. Ia memberi pelajaran tentang keterbukaan, keberanian berkomunikasi, dan pentingnya menjalin hubungan lintas budaya.

Kadang, inspirasi tidak datang dari panggung besar atau forum resmi, tetapi justru dari kursi kereta yang sederhana—dari percakapan tulus antara dua insan yang ingin saling belajar.
Dan malam itu, saya pulang bukan hanya membawa gelar dan pengalaman akademik, tetapi juga membawa cerita yang akan terus hidup dalam ingatan.

IMG-20260502-WA0018

Wisuda Tahap II Universitas Bakti Indonesia Banyuwangi Berlangsung Khidmat dan Penuh Kebahagiaan

Wisuda Tahap II Universitas Bakti Indonesia Banyuwangi Berlangsung Khidmat dan Penuh Kebahagiaan

Banyuwangi, 2 Mei 2026 — Universitas Bakti Indonesia Banyuwangi kembali menggelar prosesi wisuda tahap II yang berlangsung dengan penuh khidmat dan suasana haru bahagia. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 2 Mei 2026, bertempat di Hotel Aston Banyuwangi, dimulai pukul 07.00 WIB hingga selesai.

Acara wisuda ini menjadi momen istimewa bagi para wisudawan dan wisudawati yang telah berhasil menyelesaikan perjalanan akademiknya. Tampak raut wajah sumringah dan kebahagiaan yang terpancar dari para peserta wisuda, sebagai bentuk rasa syukur atas perjuangan panjang dalam menyelesaikan beban studi yang selama ini menjadi tanggung jawab mereka.

Prosesi berjalan lancar dengan dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas, dosen, serta keluarga wisudawan yang turut memberikan dukungan dan kebanggaan atas capaian tersebut. Momentum ini tidak hanya menjadi seremoni akademik, tetapi juga simbol keberhasilan, kedewasaan, dan kesiapan untuk melangkah ke jenjang kehidupan berikutnya.

Dalam kesempatan ini, disampaikan ucapan selamat kepada seluruh wisudawan Universitas Bakti Indonesia Banyuwangi. Diharapkan ilmu yang telah diperoleh dapat memberikan manfaat luas bagi masyarakat serta mampu berkontribusi dalam memajukan dunia pendidikan dan pembangunan bangsa.

Dengan semangat baru dan bekal ilmu yang dimiliki, para lulusan diharapkan terus berkembang, berinovasi, dan menjadi agen perubahan yang membawa kemajuan di berbagai bidang. Selamat kepada para wisudawan, semoga sukses selalu menyertai langkah ke depan dan semakin maju dalam berkarya untuk negeri.