e7983fdd-251d-4578-b546-3fd406c58ef5

Menikmati Sunyi Malam di Atas Rel: Perjalanan Penuh Makna Menuju Banyuwangi

Perjalanan sering kali bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Ada banyak cerita, pelajaran, dan pengalaman yang tersimpan di setiap langkah, termasuk dalam perjalanan malam saya menuju Banyuwangi untuk menghadiri acara unduh mantu seorang sahabat.

Malam itu saya tiba di Stasiun Gubeng Surabaya tepat pukul 24.00 WIB. Sementara kereta yang akan membawa saya menuju Banyuwangi baru berangkat pukul 01.37 dini hari. Masih ada waktu lebih dari satu jam untuk menunggu. Bagi sebagian orang, menunggu mungkin terasa membosankan, tetapi bagi saya selalu ada cara untuk menikmatinya.

Salah satu kebiasaan yang hampir selalu saya lakukan saat berada di Stasiun Gubeng adalah menikmati kursi pijat elektronik yang tersedia di area stasiun. Duduk santai sambil merasakan pijatan lembut di tengah suasana malam memberikan kenyamanan tersendiri. Lelah perjalanan menuju stasiun perlahan hilang, berganti dengan rasa rileks dan syukur. Di tengah hiruk-pikuk penumpang yang datang dan pergi, saya menikmati waktu sendirian dengan tenang.

Jarum jam terus bergerak hingga akhirnya kereta yang saya tunggu tiba. Dengan penuh semangat saya segera naik dan mencari tempat duduk. Niat awal sebenarnya sederhana, yaitu langsung tidur agar tubuh tetap segar saat tiba di tujuan. Namun ternyata tidur di awal perjalanan tidak semudah yang dibayangkan. Mata terasa mengantuk, tetapi suasana perjalanan membuat saya masih terjaga.

Akhirnya saya mengambil ponsel dan mengisi waktu dengan bermain gim eFootball. Sesekali saya melihat keluar jendela. Di luar sana, malam masih sangat gelap. Lampu-lampu rumah penduduk, jalan raya, dan bangunan yang berjajar di kanan-kiri rel tampak seperti untaian cahaya yang bergerak perlahan mengikuti laju kereta. Ada keindahan tersendiri yang hanya bisa dinikmati dalam perjalanan malam seperti ini.

Kereta terus melaju membelah kegelapan Jawa Timur. Sesekali terdengar suara roda kereta yang beradu dengan rel, menciptakan irama khas yang menemani sepanjang perjalanan. Walaupun sendirian, saya tidak merasa kesepian. Justru ada ruang untuk merenung, mensyukuri nikmat perjalanan, serta memikirkan berbagai hal yang selama ini jarang sempat direnungkan di tengah kesibukan sehari-hari.

Menjelang Subuh, suasana mulai berubah. Setelah melewati Jember dan menunaikan salat Subuh, pemandangan di luar jendela mulai menampilkan wajah aslinya. Kegelapan perlahan digantikan cahaya matahari pagi yang hangat. Inilah bagian perjalanan yang paling saya tunggu.

Hamparan sawah yang menghijau, perbukitan yang menjulang, serta gunung-gunung yang tampak gagah berdiri di kejauhan menjadi suguhan alam yang luar biasa indah. Kabut tipis yang masih menyelimuti beberapa daerah menambah kesan menenangkan. Setiap kali melihat panorama tersebut, saya selalu merasa kagum akan kebesaran Allah SWT yang menciptakan alam begitu indah.

Kereta terus bergerak menuju Banyuwangi sambil menyajikan pemandangan yang seolah tidak ada habisnya. Pepohonan, ladang, sungai kecil, hingga deretan pegunungan silih berganti menghiasi jendela perjalanan. Rasanya seperti menonton film dokumenter alam secara langsung dari kursi kereta.

Perjalanan seorang diri ternyata memberikan banyak pelajaran. Kadang-kadang kita perlu meluangkan waktu untuk menikmati kesendirian agar bisa lebih mengenal diri sendiri. Tidak selalu harus ditemani banyak orang untuk merasakan kebahagiaan. Bahkan dalam kesunyian malam dan panjangnya perjalanan, tersimpan banyak momen berharga yang sulit dilupakan.

Ketika akhirnya Banyuwangi semakin dekat, saya menyadari bahwa perjalanan ini bukan hanya tentang menghadiri undangan unduh mantu seorang teman. Lebih dari itu, perjalanan ini menjadi pengingat bahwa setiap perjalanan hidup memiliki cerita, setiap penantian memiliki makna, dan setiap langkah selalu menyimpan pelajaran yang berharga.

Malam yang dimulai dengan duduk santai di kursi pijat elektronik Stasiun Gubeng, dilanjutkan dengan permainan eFootball di atas kereta, lalu ditutup dengan panorama pagi yang memukau di sepanjang jalur menuju Banyuwangi, menjadi rangkaian pengalaman yang sederhana namun sangat membahagiakan.

Sungguh, perjalanan ini terasa amat menyenangkan, penuh makna, dan menjadi bukti bahwa kebahagiaan sering kali hadir dari hal-hal sederhana yang kita syukuri sepanjang perjalanan hidup.

Semoga perjalanan yang menyenangkan ini menjadi kenangan indah sekaligus menambah semangat dalam menjalin silaturahmi dengan sahabat dan keluarga di Banyuwangi.

Gedung 5 UMM-thumbnail

“Ngampus” — Ketika Dua Hari Menjadi Ruang Ikhtiar yang Lebih Bermakna

“Ngampus” — Ketika Dua Hari Menjadi Ruang Ikhtiar yang Lebih Bermakna

18–19 Mei 2026 menjadi dua hari yang terasa sangat berkesan dalam perjalanan akademik saya. Bukan karena perjalanan “ngampus” ini hanya berlangsung dua hari, sebab proses menuju tahap ini sesungguhnya telah berlangsung jauh sebelumnya melalui rangkaian perkuliahan, diskusi, bimbingan, serta perjalanan panjang yang berulang kali mengantarkan langkah ke kampus. Namun, dua hari tersebut terasa berbeda karena intensitasnya yang jauh lebih padat, lebih fokus, dan lebih maksimal dalam rangka bimbingan proposal disertasi di lingkungan Universitas Muhammadiyah Malang.

Dua hari itu seperti menjadi ruang khusus untuk memaksimalkan ikhtiar akademik. Waktu seakan dipadatkan dalam agenda yang penuh: diskusi, revisi, telaah teori, penyempurnaan kerangka berpikir, hingga mematangkan arah penelitian yang sedang disusun. Ada proses bolak-balik menemui dosen pembimbing, berdiskusi panjang, menerima masukan, lalu kembali memperbaiki berbagai bagian penelitian.

Perjalanan ini bukan perjalanan yang ringan. Ada tahapan-tahapan penelitian yang mulai dirangkai secara perlahan. Gambaran awal penelitian dipetakan mulai dari lokus penelitian, variabel-variabel yang dikembangkan, hingga upaya menghadirkan model baru dalam bentuk kebijakan yang nantinya diharapkan dapat memberi kontribusi nyata kepada daerah.

Tema tentang arah kebijakan pendidikan daerah dan dampaknya terhadap peningkatan mutu pembelajaran di sekolah dasar ternyata menuntut proses yang jauh lebih luas dari sekadar menyusun proposal. Ada tuntutan literasi yang besar, membaca banyak referensi, menelaah teori para ilmuwan, serta memahami secara mendalam landasan kebijakan yang menjadi pijakan penelitian.

Dalam proses itu, saya banyak menelaah pemikiran Donald Van Meter dan Carl Van Horn yang teorinya sering dijadikan parameter dalam penelitian kebijakan, khususnya kebijakan pendidikan daerah. Pemikiran mereka menjadi salah satu pijakan penting untuk memahami bahwa kebijakan bukan hanya berhenti pada tahap perumusan, tetapi juga harus dilihat dari implementasi dan dampaknya.

Harapannya sederhana namun besar: penelitian ini dapat memberi kontribusi bagi daerah agar pendidikan di Kabupaten Bangkalan semakin maju melalui pola, strategi, serta tata kelola yang lebih baik.

Karena itu, penyusunan proposal disertasi membutuhkan kajian yang luas, teori yang memadai, serta metode penelitian yang sesuai dengan kompleksitas objek penelitian. Pendekatan mix method dipilih karena mampu memadukan pendekatan kuantitatif dan kualitatif sehingga memperkuat validitas sekaligus orisinalitas penelitian.

Di tengah suasana Malang yang mendung dan dingin, ada energi tersendiri yang justru menghadirkan semangat. Hari-hari itu dipenuhi buku, catatan, diskusi, dan lembar-lembar konsep penelitian yang terus diperbaiki.

Terima kasih saya sampaikan kepada para promotor dan ko-promotor yang dengan penuh kesabaran terus mendampingi, memberikan arahan, masukan, serta pertimbangan ilmiah yang sangat berarti. Semoga seluruh ikhtiar ini berjalan lancar, segera terealisasi, dan mengantarkan pada tahapan berikutnya.

Karena ternyata, “ngampus” bukan hanya soal datang ke kampus. Kadang, ia adalah cerita tentang ketekunan, kesabaran, dan keyakinan bahwa ilmu yang diperjuangkan hari ini akan menjadi manfaat besar di masa depan.

910e1720-955a-416b-85e3-d5564e2dedb3

Semangat Kebersamaan Warnai Rapat Persiapan Idul Adha PCM Burneh, Jumlah Hewan Qurban Diprediksi Meningkat

Pimpinan Cabang Muhammadiyah Burneh menggelar rapat persiapan pelaksanaan Sholat Idul Adha sekaligus penyembelihan hewan qurban yang akan dilaksanakan pada momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Rapat tersebut berlangsung penuh semangat kebersamaan dengan melibatkan panitia, tokoh masyarakat, kader Muhammadiyah, serta warga sekitar Burneh yang selama ini dikenal sangat guyub dalam mendukung kegiatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan.

Kegiatan tahunan ini menjadi salah satu agenda besar PCM Burneh karena setiap tahunnya jumlah hewan qurban yang diterima terus mengalami peningkatan. Banyaknya amanah qurban dari masyarakat umum membuat panitia harus melakukan persiapan secara matang, mulai dari pembentukan kepanitiaan, teknis penyembelihan, distribusi daging qurban, hingga kesiapan tenaga relawan di lapangan.

Dalam rapat tersebut, panitia juga melakukan evaluasi pelaksanaan tahun sebelumnya yang dinilai berjalan lancar dan penuh kekompakan. Pada tahun lalu, jumlah hewan qurban tercatat mencapai 33 ekor, terdiri dari 25 ekor sapi dan 8 ekor kambing. Jumlah tersebut menjadi salah satu capaian yang membanggakan sekaligus menunjukkan tingginya kepercayaan masyarakat kepada PCM Burneh dalam pengelolaan hewan qurban.

Menariknya, meskipun pelaksanaan Iduladha masih menyisakan waktu cukup panjang, antusiasme masyarakat tahun ini sudah terlihat sangat tinggi. Hingga saat ini, panitia telah mendata sementara sebanyak 16 ekor sapi dan 3 ekor kambing yang dipastikan akan disembelih. Jumlah tersebut diprediksi masih akan terus bertambah mendekati hari pelaksanaan.

Ketua panitia menyampaikan bahwa meningkatnya jumlah hewan qurban dari tahun ke tahun menjadi tanda tumbuhnya kesadaran umat Islam tentang pentingnya berqurban sebagai bagian dari sunnah Nabi Ibrahim AS yang memiliki nilai pengorbanan, kepedulian sosial, dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Selain menjadi ibadah spiritual, momentum qurban di lingkungan Muhammadiyah Burneh juga menjadi sarana memperkuat ukhuwah dan solidaritas masyarakat. Kebersamaan panitia yang terdiri dari berbagai unsur warga sekitar Burneh menjadi pemandangan yang selalu menarik setiap tahunnya. Mulai dari proses persiapan, penyembelihan, hingga pendistribusian daging qurban dilakukan secara gotong royong dengan suasana penuh kekeluargaan.

Semangat kebersamaan tersebut menjadi kekuatan utama PCM Burneh dalam menjaga amanah masyarakat. Dengan koordinasi yang baik dan dukungan warga yang luar biasa, panitia optimistis pelaksanaan Sholat Iduladha dan penyembelihan hewan qurban tahun ini akan kembali berjalan lancar, tertib, dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat sekitar.

IMG-20260509-WA0013

Kisah Inspiratif: Belajar Kesederhanaan dari Seorang Guru Besar

Perjalanan itu menjadi salah satu pengalaman yang sulit saya lupakan. Siapa sangka, sebuah perjalanan sederhana dari kampus menuju sebuah desa di wilayah Cluring, Banyuwangi, justru menghadirkan pelajaran hidup yang begitu mendalam. Saya berkesempatan mengenal sosok yang luar biasa, seorang guru besar yang telah lama menyandang gelar profesor sejak tahun 2009, yaitu Prof. Dr. Widi Harsono.

Beliau merupakan Direktur Pascasarjana Universitas Bakti Indonesia Banyuwangi⁠�, sosok akademisi yang dihormati banyak mahasiswa dan dosen. Namun, yang paling membekas dalam ingatan saya bukanlah jabatan atau gelar panjang beliau, melainkan kesederhanaannya yang begitu tulus.

Hari itu saya berangkat dari kampus menuju rumah beliau. Perjalanan sekitar 4–5 kilometer terasa begitu menyenangkan. Jalan menuju rumah Prof. Widi dipenuhi pepohonan rindang di kanan dan kiri. Udara desa di kawasan Cluring terasa sejuk dan damai. Semakin mendekati rumah beliau, suasana pedesaan Banyuwangi benar-benar menghadirkan ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Sesampainya di rumah beliau, saya justru terdiam sejenak. Dalam bayangan saya, seorang profesor besar yang sudah lama menyandang gelar akademik tertinggi mungkin tinggal di rumah megah dengan berbagai fasilitas mewah. Namun kenyataannya jauh berbeda. Rumah beliau sangat sederhana. Tidak besar, tidak berlebihan, tetapi terasa hangat dan penuh kehidupan.

Ketika masuk ke dalam rumah, saya melihat banyak foto-foto perjalanan hidup beliau. Ada foto masa kuliah, foto saat pengukuhan guru besar, hingga berbagai kenangan akademik yang tersusun sederhana di dinding rumah. Dari situ saya memahami bahwa kebesaran seseorang ternyata tidak selalu ditunjukkan dengan kemewahan, tetapi dengan perjalanan hidup dan dedikasi yang dijalani dengan ketulusan.

Hal lain yang membuat saya semakin kagum adalah sisi humanis beliau. Di salah satu pojok rumah terdapat ruang sederhana untuk bermain musik. Ternyata Prof. Widi sangat menyukai musik. Beliau bisa bermain gitar, bernyanyi, bahkan memainkan alat musik dengan penuh penghayatan. Rasanya begitu menarik melihat seorang ilmuwan, akademisi, sekaligus guru besar tetap memiliki jiwa seni yang hidup. Kesederhanaan itu membuat beliau terasa dekat dengan siapa saja.

Pertemuan itu benar-benar memberikan pelajaran besar bagi saya. Bahwa ilmu yang tinggi tidak harus membuat seseorang hidup dalam kemewahan atau menjauh dari masyarakat. Justru semakin tinggi ilmunya, semakin sederhana cara hidupnya. Itulah yang saya lihat langsung dari sosok Prof. Widi.

Selain dikenal sebagai akademisi dan ilmuwan, beliau juga dikenal sangat peduli terhadap mahasiswa, khususnya mahasiswa pascasarjana. Banyak mahasiswa yang merasakan bantuan, dukungan, dan kemudahan dalam urusan akademik karena perhatian beliau. Sikap beliau yang selalu membantu tanpa membeda-bedakan membuat banyak mahasiswa merasa dihargai dan dimotivasi untuk terus belajar.

Bagi saya pribadi, pertemanan dan perkenalan dengan Prof. Widi bukan sekadar hubungan akademik biasa. Ini adalah perjumpaan dengan sosok inspiratif yang mengajarkan arti kerendahan hati. Di tengah gelar profesor, jabatan tinggi, dan pengalaman akademik yang luar biasa, beliau tetap hidup sederhana di desa, tetap ramah, tetap dekat dengan musik, dan tetap peduli kepada mahasiswa.

Terima kasih Prof. Widi atas inspirasi yang diberikan kepada kami semua. Semoga beliau selalu diberikan kesehatan, umur panjang, dan terus menjadi cahaya inspirasi bagi mahasiswa pascasarjana, alumni, serta keluarga besar Universitas Bakti Indonesia Banyuwangi⁠�, termasuk kami dari Kabupaten Bangkalan. Kisah sederhana ini menjadi bukti bahwa kebesaran sejati bukan tentang kemewahan, tetapi tentang ketulusan, kesederhanaan, dan manfaat bagi banyak orang.

50600854-1dab-4a2a-8f41-da277b762e65

SAFARI RAMADAN PDM BANGKALAN DI PCM KWANYAR BERLANGSUNG HANGAT DAN PENUH KEAKRABAN

SAFARI RAMADAN PDM BANGKALAN DI PCM KWANYAR BERLANGSUNG HANGAT DAN PENUH KEAKRABAN

Kwanyar, Bangkalan – Kegiatan Safari Ramadan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bangkalan di Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kwanyar berlangsung dengan penuh kehangatan, kekeluargaan, dan suasana yang sumringah. Meskipun sempat diguyur hujan deras sebelum acara dimulai, hal tersebut tidak menyurutkan semangat jamaah untuk hadir dan mengikuti rangkaian kegiatan hingga selesai.

Kegiatan yang bertempat di Masjid Al Muttaqin Kwanyar ini terasa semakin istimewa karena lokasinya yang berada di tepi laut. Semilir angin pantai dan suasana alam yang menenangkan menambah kekhusyukan dan kenyamanan dalam pelaksanaan Safari Ramadan kali ini.

Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bangkalan, Rik Suhadi, S.Th.I., beserta jajaran pimpinan daerah lainnya. Kehadiran beliau disambut antusias oleh warga Muhammadiyah Kwanyar dan para jamaah yang memadati masjid.

Salah satu agenda utama dalam Safari Ramadan ini adalah sosialisasi Kalender Hijriah Global Tunggal yang disampaikan oleh pakar ilmu falak Muhammadiyah Bangkalan, Busiri. Dalam paparannya, beliau menyampaikan penjelasan secara lugas, sistematis, dan mudah dipahami. Materi yang disampaikan tidak hanya memperkaya wawasan jamaah tentang pentingnya penyatuan kalender hijriah secara global, tetapi juga membangun kesadaran akan pentingnya ilmu falak dalam penentuan waktu ibadah.

Antusiasme jamaah terlihat dari keseriusan mereka mengikuti setiap penjelasan, bahkan beberapa di antaranya aktif mengajukan pertanyaan. Diskusi yang terbangun berlangsung hangat dan menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap isu kalender hijriah global tunggal.

Setelah rangkaian acara selesai, kegiatan dilanjutkan dengan buka puasa bersama. Menu khas tepi laut yang disajikan semakin menambah keakraban dan kebersamaan antar jamaah. Suasana kekeluargaan terasa begitu kuat sebelum akhirnya seluruh peserta melaksanakan salat Maghrib berjamaah dengan penuh khusyuk.

Dalam sambutannya, Kyai Rik Suhadi mengapresiasi perkembangan Muhammadiyah Kwanyar yang dinilainya semakin maju dan berkembang pesat. Beliau berharap, semangat dakwah dan gerakan tajdid di Kwanyar terus tumbuh sehingga semakin mencerahkan serta memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

“Kemajuan ini adalah hasil kerja bersama. Semoga Muhammadiyah Kwanyar semakin kokoh, berkemajuan, dan membawa keberkahan untuk umat,” ungkap beliau.

Safari Ramadan ini menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi, memperkuat sinergi organisasi, serta meneguhkan komitmen dakwah Muhammadiyah dalam membangun masyarakat yang berkemajuan dan berlandaskan nilai-nilai Islam yang mencerahkan.

IMG_1124

“Menyambut Ramadhan dengan Ceria, Iman, dan Ukhuwah” Jadi Pesan Pengajian Umum PCM Burneh di Masjid Al-Hudaa

“Menyambut Ramadhan dengan Ceria, Iman, dan Ukhuwah” Jadi Pesan Pengajian Umum PCM Burneh di Masjid Al-Hudaa

Burneh — Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kecamatan Burneh menggelar pengajian umum dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan sekaligus pemanfaatan perdana Masjid Al-Hudaa yang baru selesai dibangun. Kegiatan yang berlangsung khidmat dan meriah ini dihadiri ratusan jamaah dari berbagai ranting Muhammadiyah se-Kecamatan Burneh.

Sejak pagi, masyarakat berbondong-bondong memadati masjid yang berdiri megah hasil gotong royong warga. Antusiasme jamaah terlihat dari penuh sesaknya ruang utama hingga halaman masjid. Momentum ini menjadi sangat istimewa karena untuk pertama kalinya Masjid Al-Hudaa digunakan sebagai pusat kegiatan ibadah dan dakwah.

Pengajian menghadirkan penceramah Dr. Tamar Djaja, M.M. yang menyampaikan tausiyah tentang pentingnya menyambut Ramadhan dengan hati yang ceria, penuh iman, serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Ia menegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan kegembiraan bagi orang beriman, bukan bulan yang disambut dengan rasa berat.

“Ramadhan adalah bulan penuh rahmat dan ampunan, maka sambutlah dengan hati gembira, bukan keluhan. Orang beriman bergembira ketika Ramadhan datang karena di dalamnya ada kesempatan memperbaiki diri,” ujarnya.

Beliau juga menekankan pentingnya menjaga ukhuwah Islamiah sebagai kekuatan umat. Kebersamaan, saling membantu, dan mempererat persaudaraan dinilai menjadi kunci agar ibadah di bulan Ramadhan semakin bermakna serta membawa keberkahan bagi masyarakat.

Selain itu, Dr. Tamar Djaja memberikan apresiasi atas berdirinya Masjid Al-Hudaa yang dibangun dari swadaya dan gotong royong warga. Ia menyebut masjid tersebut sebagai simbol persatuan umat dan diharapkan menjadi pusat kegiatan Islam yang berkemajuan.

“Masjid ini bukan sekadar bangunan, tetapi pusat pembinaan umat. Semoga dari sini lahir generasi beriman, berilmu, dan berakhlak mulia,” tambahnya.

Ketua panitia menyampaikan bahwa pengajian ini menjadi awal rangkaian kegiatan Ramadhan di Masjid Al-Hudaa, seperti kajian rutin, tadarus Al-Qur’an, dan kegiatan sosial kemasyarakatan.

Dengan diresmikannya penggunaan perdana masjid tersebut, warga Muhammadiyah Burneh berharap Masjid Al-Hudaa menjadi pusat ibadah, dakwah, serta penguatan ukhuwah yang memberi manfaat luas bagi masyarakat sekitar.