IMG-20260305-WA0003

Ustadz Safa Sampaikan Kultum Tarawih tentang Makna Taqwa di Masjid At-Taqwa 1 Bangkalan

Bangkalan — Kultum (kuliah tujuh menit) setelah sholat Tarawih di Masjid At-Taqwa 1 Bangkalan pada Rabu, 4 Maret 2026, berlangsung khidmat dengan penyampaian tausiyah oleh Ustadz Safa, pengasuh Pondok Pesantren Babussalam Socah.

Dalam kultumnya, Ustadz Safa menyampaikan materi tentang makna hakiki taqwa yang diibaratkan seperti sebuah pohon yang baik, sebagaimana perumpamaan dalam Al-Qur’an Surah Ibrahim ayat 24–25. Ia menjelaskan bahwa iman dan taqwa harus tumbuh dan memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.

Ustadz Safa menjelaskan bahwa akar pohon melambangkan iman yang kuat yang tertanam dalam hati seorang mukmin. Akar yang kokoh akan membuat seseorang tetap teguh dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Selanjutnya, batang pohon menggambarkan ketaatan kepada Allah, yang tercermin melalui berbagai ibadah seperti sholat, puasa, membaca Al-Qur’an, serta berbagai amal saleh lainnya.

Sementara itu, cabang-cabang pohon melambangkan akhlak mulia, seperti sikap jujur, amanah, saling menolong, serta menjaga hubungan baik dengan sesama.

Adapun buah dari pohon taqwa adalah manfaat yang dirasakan oleh orang lain, berupa kebaikan, keteladanan, serta kontribusi positif bagi kehidupan masyarakat.

“Takwa itu seperti pohon yang hidup. Akarnya adalah iman, batangnya adalah ibadah, cabangnya adalah akhlak, dan buahnya adalah amal saleh yang bermanfaat bagi manusia,” tutur Ustadz Safa dalam kultumnya.

Kultum Tarawih tersebut disimak dengan penuh perhatian oleh para jamaah yang hadir. Melalui penyampaian yang sederhana namun sarat makna, jamaah diajak untuk terus memperkuat iman, meningkatkan kualitas ibadah, serta menebarkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari agar menjadi pribadi muslim yang benar-benar bertakwa kepada Allah SWT.

50600854-1dab-4a2a-8f41-da277b762e65

SAFARI RAMADAN PDM BANGKALAN DI PCM KWANYAR BERLANGSUNG HANGAT DAN PENUH KEAKRABAN

SAFARI RAMADAN PDM BANGKALAN DI PCM KWANYAR BERLANGSUNG HANGAT DAN PENUH KEAKRABAN

Kwanyar, Bangkalan – Kegiatan Safari Ramadan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bangkalan di Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kwanyar berlangsung dengan penuh kehangatan, kekeluargaan, dan suasana yang sumringah. Meskipun sempat diguyur hujan deras sebelum acara dimulai, hal tersebut tidak menyurutkan semangat jamaah untuk hadir dan mengikuti rangkaian kegiatan hingga selesai.

Kegiatan yang bertempat di Masjid Al Muttaqin Kwanyar ini terasa semakin istimewa karena lokasinya yang berada di tepi laut. Semilir angin pantai dan suasana alam yang menenangkan menambah kekhusyukan dan kenyamanan dalam pelaksanaan Safari Ramadan kali ini.

Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bangkalan, Rik Suhadi, S.Th.I., beserta jajaran pimpinan daerah lainnya. Kehadiran beliau disambut antusias oleh warga Muhammadiyah Kwanyar dan para jamaah yang memadati masjid.

Salah satu agenda utama dalam Safari Ramadan ini adalah sosialisasi Kalender Hijriah Global Tunggal yang disampaikan oleh pakar ilmu falak Muhammadiyah Bangkalan, Busiri. Dalam paparannya, beliau menyampaikan penjelasan secara lugas, sistematis, dan mudah dipahami. Materi yang disampaikan tidak hanya memperkaya wawasan jamaah tentang pentingnya penyatuan kalender hijriah secara global, tetapi juga membangun kesadaran akan pentingnya ilmu falak dalam penentuan waktu ibadah.

Antusiasme jamaah terlihat dari keseriusan mereka mengikuti setiap penjelasan, bahkan beberapa di antaranya aktif mengajukan pertanyaan. Diskusi yang terbangun berlangsung hangat dan menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap isu kalender hijriah global tunggal.

Setelah rangkaian acara selesai, kegiatan dilanjutkan dengan buka puasa bersama. Menu khas tepi laut yang disajikan semakin menambah keakraban dan kebersamaan antar jamaah. Suasana kekeluargaan terasa begitu kuat sebelum akhirnya seluruh peserta melaksanakan salat Maghrib berjamaah dengan penuh khusyuk.

Dalam sambutannya, Kyai Rik Suhadi mengapresiasi perkembangan Muhammadiyah Kwanyar yang dinilainya semakin maju dan berkembang pesat. Beliau berharap, semangat dakwah dan gerakan tajdid di Kwanyar terus tumbuh sehingga semakin mencerahkan serta memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

“Kemajuan ini adalah hasil kerja bersama. Semoga Muhammadiyah Kwanyar semakin kokoh, berkemajuan, dan membawa keberkahan untuk umat,” ungkap beliau.

Safari Ramadan ini menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi, memperkuat sinergi organisasi, serta meneguhkan komitmen dakwah Muhammadiyah dalam membangun masyarakat yang berkemajuan dan berlandaskan nilai-nilai Islam yang mencerahkan.

5c7ffc22-3502-4ee9-8c3f-b96f6eaf95c0

Guru Tetap Masuk Saat Siswa Libur, Kebijakan Dipersoalkan

Guru Tetap Masuk Saat Siswa Libur, Kebijakan Dipersoalkan

Perbedaan Tafsir Regulasi Dinilai Abaikan Hakikat Profesi Pendidikan

BANGKALAN — Kebijakan mewajibkan guru tetap masuk sekolah saat siswa libur kembali menjadi sorotan publik pada awal Ramadan tahun ini. Di sejumlah sekolah, ruang kelas kosong tanpa kegiatan belajar mengajar, namun guru tetap hadir untuk memenuhi kewajiban presensi.

Kondisi tersebut terjadi setelah kalender pendidikan menetapkan hari libur siswa, sementara sebagian pemerintah daerah masih menerapkan kehadiran guru mengikuti hari kerja aparatur sipil negara (ASN).

“Guru datang, tidak ada pembelajaran, tidak ada siswa, tetapi tetap harus absen. Ini yang dipertanyakan banyak pihak,” ujar salah satu tenaga pendidik di Bangkalan, Rabu (19/2).

Perbedaan Tafsir Aturan

Pengamat pendidikan menilai persoalan ini muncul karena perbedaan penafsiran regulasi antara sistem kepegawaian dan sistem pendidikan.

Di satu sisi terdapat aturan kepegawaian seperti Undang-Undang ASN dan Peraturan Presiden tentang hari kerja. Di sisi lain ada regulasi khusus profesi guru, yakni Undang-Undang Guru dan Dosen serta aturan pengelolaan pendidikan.

Sebagian daerah memposisikan guru sebagai ASN administratif yang wajib mengikuti hari kerja pemerintahan. Namun daerah lain menganggap guru sebagai ASN profesi yang mengikuti kalender pendidikan.

Secara hukum, berlaku asas lex specialis derogat legi generali — aturan khusus mengalahkan aturan umum. Artinya pengaturan kerja guru seharusnya merujuk pada sistem pendidikan sebagai aturan khusus profesi.

Kebijakan Tidak Seragam

Akibat perbedaan tafsir, kebijakan antar daerah berbeda-beda.

Ada daerah yang meliburkan guru saat siswa libur, ada yang menerapkan kerja dari rumah, dan ada pula yang tetap mewajibkan presensi di sekolah meski tanpa aktivitas pendidikan.

Kondisi ini dinilai menimbulkan ketidakadilan bagi profesi guru karena aturan tidak berlaku seragam secara nasional.

Padahal kalender pendidikan disusun untuk mengatur seluruh ekosistem sekolah, bukan hanya peserta didik.

Kritik dari Lapangan

Kepala UPTD SDN Jambu 2, Suraji, menyebut situasi tersebut berulang setiap tahun, terutama saat Ramadan.

Ia telah menyampaikan masukan tertulis kepada pemerintah daerah agar dilakukan kajian lintas regulasi mengenai status kerja guru.

“Ketika murid libur, tidak ada layanan pendidikan. Kehadiran guru hanya untuk presensi, bukan untuk menjalankan profesinya,” ujarnya.

Menurutnya, guru seharusnya diposisikan sebagai ASN profesi pendidikan, bukan pegawai administrasi kantor.

Bukan Sistem Kerja Kantoran

Praktisi pendidikan menilai sekolah memiliki karakter berbeda dari instansi pemerintahan biasa. Aktivitas guru berbasis proses pembelajaran, bukan jam duduk di ruang kerja.

Karena itu, hari kerja guru dinilai seharusnya mengikuti kalender pendidikan. Tanpa pembelajaran, tidak ada layanan profesional yang diberikan kepada peserta didik.

“Sekolah berubah fungsi menjadi kantor absensi jika guru hadir tanpa kegiatan belajar mengajar,” kata seorang pemerhati pendidikan.

Dorongan Penyeragaman Kebijakan

Sejumlah pihak mendorong pemerintah daerah menyelaraskan kebijakan dengan hukum pendidikan nasional agar tidak terjadi perbedaan perlakuan antar wilayah.

Beberapa rekomendasi yang muncul antara lain menegaskan guru sebagai ASN profesi, menjadikan kalender pendidikan sebagai dasar hari kerja sekolah, serta meniadakan presensi formal ketika tidak ada layanan pendidikan.

Harapan

Masyarakat pendidikan berharap pemerintah segera memberikan kepastian kebijakan. Tujuannya agar tidak lagi terjadi kondisi sekolah kosong namun guru tetap diwajibkan hadir.

Sebab, kehadiran guru tanpa siswa dinilai bukan kegiatan pendidikan, melainkan sekadar aktivitas administratif.

“Sekolah bukan kantor pemerintahan biasa. Guru adalah profesi pendidikan,” ujar seorang tenaga pendidik.

IMG_1124

“Menyambut Ramadhan dengan Ceria, Iman, dan Ukhuwah” Jadi Pesan Pengajian Umum PCM Burneh di Masjid Al-Hudaa

“Menyambut Ramadhan dengan Ceria, Iman, dan Ukhuwah” Jadi Pesan Pengajian Umum PCM Burneh di Masjid Al-Hudaa

Burneh — Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kecamatan Burneh menggelar pengajian umum dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan sekaligus pemanfaatan perdana Masjid Al-Hudaa yang baru selesai dibangun. Kegiatan yang berlangsung khidmat dan meriah ini dihadiri ratusan jamaah dari berbagai ranting Muhammadiyah se-Kecamatan Burneh.

Sejak pagi, masyarakat berbondong-bondong memadati masjid yang berdiri megah hasil gotong royong warga. Antusiasme jamaah terlihat dari penuh sesaknya ruang utama hingga halaman masjid. Momentum ini menjadi sangat istimewa karena untuk pertama kalinya Masjid Al-Hudaa digunakan sebagai pusat kegiatan ibadah dan dakwah.

Pengajian menghadirkan penceramah Dr. Tamar Djaja, M.M. yang menyampaikan tausiyah tentang pentingnya menyambut Ramadhan dengan hati yang ceria, penuh iman, serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Ia menegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan kegembiraan bagi orang beriman, bukan bulan yang disambut dengan rasa berat.

“Ramadhan adalah bulan penuh rahmat dan ampunan, maka sambutlah dengan hati gembira, bukan keluhan. Orang beriman bergembira ketika Ramadhan datang karena di dalamnya ada kesempatan memperbaiki diri,” ujarnya.

Beliau juga menekankan pentingnya menjaga ukhuwah Islamiah sebagai kekuatan umat. Kebersamaan, saling membantu, dan mempererat persaudaraan dinilai menjadi kunci agar ibadah di bulan Ramadhan semakin bermakna serta membawa keberkahan bagi masyarakat.

Selain itu, Dr. Tamar Djaja memberikan apresiasi atas berdirinya Masjid Al-Hudaa yang dibangun dari swadaya dan gotong royong warga. Ia menyebut masjid tersebut sebagai simbol persatuan umat dan diharapkan menjadi pusat kegiatan Islam yang berkemajuan.

“Masjid ini bukan sekadar bangunan, tetapi pusat pembinaan umat. Semoga dari sini lahir generasi beriman, berilmu, dan berakhlak mulia,” tambahnya.

Ketua panitia menyampaikan bahwa pengajian ini menjadi awal rangkaian kegiatan Ramadhan di Masjid Al-Hudaa, seperti kajian rutin, tadarus Al-Qur’an, dan kegiatan sosial kemasyarakatan.

Dengan diresmikannya penggunaan perdana masjid tersebut, warga Muhammadiyah Burneh berharap Masjid Al-Hudaa menjadi pusat ibadah, dakwah, serta penguatan ukhuwah yang memberi manfaat luas bagi masyarakat sekitar.

fd7aaf98-6aa1-4972-b19f-882a7ac3af96

LHKP PWM Jawa Timur Gelar Konsolidasi Politik Kebangsaan, Menko Pangan Zulkifli Hasan Beri Apresiasi

Surabaya — Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur menggelar kegiatan konsolidasi dan koordinasi bertema “Meneguhkan Peran LHKP PWM Jawa Timur dalam Mewujudkan Politik Kebangsaan yang Berkemajuan dan Berkeadaban.”

Kegiatan ini dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Dr. Zulkifli Hasan, yang akrab disapa Bang Zul.

Acara berlangsung dalam suasana hangat dan penuh semangat kebangsaan. Para peserta yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur tampak antusias mengikuti forum yang menekankan pentingnya arah politik kebangsaan yang bermoral, berkemajuan, serta berorientasi pada kemaslahatan umat dan bangsa.

Dalam sambutannya, Bang Zul mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai Muhammadiyah, khususnya melalui LHKP, memiliki peran strategis dalam menjaga kualitas demokrasi Indonesia.

“Kegiatan hari ini sangat penting sebagai forum konsolidasi dan koordinasi politik ke depan. Harus ada program yang berkemajuan dan berkeadaban, sehingga politik tidak hanya soal kekuasaan tetapi juga membawa manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa politik kebangsaan membutuhkan kontribusi pemikiran dari organisasi kemasyarakatan yang memiliki tradisi intelektual dan moral kuat seperti Muhammadiyah.

Sementara itu, perwakilan peserta dari Bangkalan turut hadir dalam forum tersebut. Rombongan dipimpin oleh Salim selaku ketua, bersama Indra Kusuma dan anggota lainnya. Mereka menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi ruang penting untuk menyatukan gagasan serta memperkuat jaringan gerakan kebangsaan di lingkungan Muhammadiyah.

Menurut mereka, LHKP bukan hanya wadah diskusi politik, tetapi juga pusat perumusan gagasan strategis untuk menjawab tantangan bangsa, mulai dari kebijakan publik, tata kelola pemerintahan, hingga pembangunan kesejahteraan masyarakat.

Forum ini juga menegaskan bahwa politik yang diperjuangkan Muhammadiyah adalah politik nilai — bukan politik praktis kekuasaan — melainkan politik yang menjunjung etika, keadaban, dan kemajuan peradaban.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, LHKP PWM Jawa Timur diharapkan mampu melahirkan program-program konkret yang mendorong hadirnya kebijakan publik yang adil, berkemajuan, dan berpihak pada kepentingan rakyat luas.

IMG-20260211-WA0005

Menimba Ilmu dan Gagasan di Kampus Wisata: Catatan Akademik dari Universitas Muhammadiyah Malang

Hari ini menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan akademik saya. Bertempat di lingkungan akademik yang inspiratif, kegiatan bimbingan disertasi dilaksanakan di Kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang selama ini dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi swasta terbaik di Indonesia. Dengan ribuan mahasiswa dari berbagai daerah bahkan mancanegara, UMM bukan sekadar kampus, melainkan ruang intelektual yang hidup — sebuah wisata kampus yang memadukan atmosfer pendidikan, budaya, dan inovasi.

Sejak memasuki area kampus, suasana akademik terasa begitu kuat. Gedung-gedung modern berdiri berdampingan dengan ruang terbuka hijau yang tertata rapi. Aktivitas mahasiswa yang dinamis, diskusi di sudut-sudut taman, serta interaksi dosen dan mahasiswa mencerminkan ekosistem pembelajaran yang aktif. Inilah gambaran nyata perguruan tinggi sebagai pusat peradaban ilmu pengetahuan.

Di tempat inilah proses bimbingan disertasi saya berlangsung. Disertasi yang sedang disusun berjudul:
“Implementasi Kebijakan Pendidikan Daerah Kabupaten Bangkalan dan Implikasinya terhadap Mutu Pembelajaran di Sekolah Dasar.”

Topik ini memiliki nilai novelty yang cukup kuat karena tidak hanya membahas praktik pembelajaran di kelas, tetapi juga meneliti bagaimana regulasi daerah — berupa kebijakan pendidikan — benar-benar berdampak terhadap kualitas pendidikan itu sendiri. Artinya, penelitian ini tidak berhenti pada tataran pedagogik, tetapi masuk pada ranah kebijakan publik pendidikan (education policy research).

Selama proses bimbingan, banyak hal didiskusikan secara mendalam:
bagaimana kebijakan daerah diterjemahkan oleh sekolah, bagaimana kepala sekolah dan guru menafsirkannya, serta sejauh mana kebijakan tersebut mampu meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah dasar. Diskusi berkembang bukan hanya metodologis, tetapi juga filosofis — bahwa kualitas pendidikan tidak semata ditentukan oleh kurikulum, tetapi oleh keberpihakan kebijakan terhadap peserta didik dan guru.

Menariknya, kajian ini mendapatkan perhatian dan apresiasi karena memberikan perspektif baru: mutu pendidikan daerah sangat ditentukan oleh arah kebijakan, bukan hanya oleh kompetensi guru. Jika kebijakan tepat → ekosistem belajar sehat → pembelajaran berkualitas → mutu pendidikan meningkat.

Harapan besar tentu tertuju pada Kabupaten Bangkalan. Penelitian ini diharapkan menjadi referensi akademik sekaligus bahan refleksi bagi pemangku kebijakan agar arah pembangunan pendidikan semakin jelas dan berdampak nyata. Target akhirnya bukan sekadar laporan ilmiah atau artikel jurnal, tetapi perubahan nyata: peningkatan kualitas pendidikan dan indeks pembangunan manusia (IPM) Bangkalan agar tidak lagi berada pada posisi bawah.

Bimbingan hari ini terasa berbeda karena bukan hanya memperbaiki tulisan ilmiah, tetapi juga mempertegas tujuan penelitian: menghadirkan ilmu yang memberi manfaat. Kampus UMM menjadi saksi bahwa penelitian bukan hanya kewajiban akademik, melainkan bagian dari ikhtiar memperbaiki masa depan pendidikan daerah.

Dari Malang, gagasan tentang pendidikan Bangkalan terus dirumuskan — semoga kelak kembali sebagai solusi.

Screenshot_20260209_183331_WhatsApp

Pembangunan Masjid Al Huda Burneh Capai 95 Persen, Ditargetkan Siap Digunakan Saat Ramadan

Burneh — Perkembangan pembangunan Masjid Al Huda di Kecamatan Burneh menunjukkan progres yang sangat menggembirakan. Hingga saat ini, pembangunan masjid yang didirikan dari semangat gotong royong masyarakat, jamaah, para donatur, dan simpatisan telah mencapai sekitar 95 persen, sehingga dapat dikatakan telah memasuki tahap akhir pengerjaan.

Masjid megah yang dibangun dengan kebutuhan anggaran cukup besar tersebut merupakan buah dari kepedulian umat. Dukungan yang luar biasa dari berbagai pihak menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan berdirinya rumah ibadah ini. Warga Persyarikatan Muhammadiyah khususnya di wilayah Kecamatan Burneh merasa bangga dan bersyukur karena segera memiliki masjid representatif yang diharapkan menjadi pusat ibadah dan pembinaan umat.
Pimpinan proyek pembangunan, H. Suparman, dikenal sangat total dalam mengawal proses pembangunan. Ia terus memantau dan memimpin jalannya pekerjaan siang maupun malam demi memastikan masjid berdiri dengan baik dan berkualitas.

Menurutnya, kemegahan masjid tidak hanya diukur dari luas bangunan, tetapi juga dari arsitektur dan keindahan interior yang nyaman bagi jamaah. Ia berharap Masjid Al Huda nantinya benar-benar menjadi pilihan utama masyarakat untuk beribadah sekaligus pusat kegiatan keislaman.

“Masjid bukan hanya tempat salat, tetapi juga majelis ilmu dan pusat pembinaan umat. Di sinilah generasi muda dididik menjadi insan berakhlakul karimah, cerdas, dan cinta Al-Qur’an,” ungkap H. Suparman.

Sementara itu, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kecamatan Burneh, H. Muhammad Afandi, terus memberikan motivasi kepada seluruh pihak agar pembangunan segera tuntas. Ia berharap Masjid Al Huda sudah dapat dimanfaatkan untuk salat tarawih pada bulan suci Ramadan mendatang.

Ia juga mengajak masyarakat untuk terus berpartisipasi dalam penyelesaian pembangunan melalui amal jariyah.
“Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para donatur dan simpatisan yang telah membantu. Semoga Allah membalas semua kebaikan dan masjid ini segera dapat dimanfaatkan oleh umat,” ujarnya.

Dengan progres yang telah mencapai 95 persen, masyarakat optimistis Masjid Al Huda Burneh akan segera berdiri sempurna dan menjadi pusat ibadah, dakwah, serta pendidikan Islam bagi generasi masa depan.Pembangunan Masjid Al Huda Burneh Capai 95 Persen, Ditargetkan Siap Digunakan Saat Ramadan

IMG-20260209-WA0005

Turnamen Tenis Meja Divisi 5 Se-Jawa Timur Meriah di Bangkalan Plaza

Bangkalan — Turnamen tenis meja Divisi 5 se-Jawa Timur berlangsung meriah di Bangkalan Plaza pada Minggu, 8 Februari 2026. Kejuaraan yang memperebutkan Piala Dokter Prima Cup 1 Tahun 2026 tersebut diikuti banyak peserta dan menghadirkan petenis meja terbaik dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur.

Sejak pagi hari arena pertandingan sudah dipadati atlet dan penonton. Puluhan atlet saling beradu strategi dan teknik, sementara gemuruh tepuk tangan serta sorak sorai para suporter menambah semarak jalannya pertandingan. Atmosfer kompetisi terasa hangat namun tetap menjunjung tinggi sportivitas.

Ketua Umum PTMSI Kabupaten Bangkalan, dr. Prima Nugroho, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah bertanding secara fair play. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada panitia, sponsor, dan seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam menyukseskan kegiatan tersebut.

“Kami mengapresiasi seluruh atlet dari berbagai daerah di Jawa Timur yang telah bertanding dengan sportif. Terima kasih kepada panitia dan sponsorship yang telah mendukung terselenggaranya turnamen ini. Semoga kegiatan ini menjadi wadah lahirnya bibit-bibit atlet muda terbaik, khususnya dari Kabupaten Bangkalan,” ujarnya.

Setelah melalui pertandingan sengit, berikut daftar pemenang:

Juara 1: Untoro Montero (Surabaya)

Juara 2: Thomas (Surabaya)

Juara 3: Wawan ( Bangkalan ) & sandy ( surabaya)

 

Turnamen Dokter Prima Cup 1 Tahun 2026 diharapkan menjadi agenda rutin pembinaan prestasi tenis meja di Bangkalan serta memperkuat silaturahmi antar atlet se-Jawa Timur.

Screenshot_20260206_055534_WhatsApp

Rapat Koordinasi Ramadan PDM Bangkalan Berlangsung Hangat, Singkong Keju dan Bebek Terong Jadi Sorotan

Bangkalan — Suasana berbeda tampak dalam rapat koordinasi persiapan bulan suci Ramadan yang digelar oleh Korp Mubaligh Muhammadiyah bersama Majelis Tarjih dan Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Bangkalan. Rapat yang biasanya identik dengan pembahasan serius kali ini berlangsung sangat kondusif namun penuh keakraban, diwarnai senda gurau para peserta yang sebagian besar merupakan para senior Muhammadiyah.

Meski suasana hangat terasa, pembahasan tetap berjalan fokus dan produktif. Agenda utama adalah merumuskan berbagai program dakwah selama bulan suci Ramadan 1447 H. Berbagai kegiatan mulai dari pengajian, safari dakwah, kajian tarjih, hingga pembinaan umat dibahas secara matang agar pelaksanaannya dapat menjangkau seluruh warga persyarikatan Muhammadiyah di Kabupaten Bangkalan.

Kabar ini menjadi angin segar bagi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bangkalan karena dalam waktu dekat berbagai program Ramadan akan segera dirilis dan disosialisasikan kepada seluruh amal usaha dan warga Muhammadiyah. Program-program tersebut diharapkan mampu memperkuat semangat ibadah, dakwah, serta ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.

Salah satu hal yang mencuri perhatian dalam rapat ini adalah sajian konsumsi yang cukup unik. Peserta disuguhi menu singkong keju dan bebek terong khas Galis. Kombinasi ini menimbulkan suasana cair karena para peserta langsung menikmati hidangan tanpa menunggu nasi. Bahkan beberapa peserta tampak menikmati bebek sebagai “lauk singkong”, memunculkan gelak tawa yang mewarnai jalannya rapat.

Keakraban tersebut justru mempererat kebersamaan antar mubaligh dan pengurus majelis. Suasana rapat menjadi bukti bahwa koordinasi organisasi tidak selalu harus kaku, tetapi tetap dapat berjalan serius dalam balutan kekeluargaan.

Wakil Ketua PDM Bangkalan yang membidangi Tabligh dan Majelis Tarjih, Dr. Doni Burhan, menyampaikan komitmennya untuk terus mengoordinasikan seluruh kegiatan Ramadan agar berjalan efektif dan terarah. Ia menegaskan bahwa tahun 1447 H harus menjadi momentum penguatan dakwah Muhammadiyah di Bangkalan.

Melalui koordinasi intensif ini, PDM Bangkalan optimistis seluruh program Ramadan dapat terselenggara dengan baik serta memberikan manfaat luas bagi umat. Dalam waktu dekat, rincian kegiatan akan segera diumumkan kepada seluruh warga persyarikatan Muhammadiyah Kabupaten Bangkalan.

IMG-20260205-WA0025

Tragedi Siswa SD di NTT: Ketika Buku dan Bolpoin Menjadi Barang Mewah

Nusa Tenggara Timur — Sebuah peristiwa memilukan kembali mengguncang nurani bangsa. Seorang siswa sekolah dasar kelas empat di Nusa Tenggara Timur dilaporkan mengakhiri hidupnya setelah orang tuanya tidak mampu memenuhi kebutuhan sekolah berupa buku tulis dan bolpoin. Kejadian ini sontak menjadi perhatian publik dan menghadirkan kesedihan mendalam, sekaligus tamparan keras bagi semua pihak tentang masih adanya kemiskinan ekstrem yang bersentuhan langsung dengan dunia pendidikan.

Di tengah berbagai program peningkatan kesejahteraan pelajar seperti makan bergizi gratis bagi anak sekolah, tragedi ini justru menunjukkan ironi besar. Di satu sisi negara berupaya memastikan anak tidak kelaparan, namun di sisi lain masih ada anak yang terhenti langkah pendidikannya hanya karena perlengkapan belajar yang nilainya bahkan tidak mencapai sepuluh ribu rupiah.

Peristiwa ini tidak hanya menjadi tanggung jawab satu pihak. Pemerintah desa, pemerintah kecamatan, pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi hingga pemerintah pusat harus melihat kejadian ini sebagai alarm serius. Keadilan pendidikan bukan sekadar kurikulum, asesmen, atau transformasi digital, tetapi dimulai dari memastikan setiap anak benar-benar bisa bersekolah tanpa beban ekonomi paling dasar.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah selama ini terus mendorong pemerataan akses pendidikan, tata kelola yang adil, serta penguatan layanan bagi seluruh peserta didik. Namun fakta di lapangan menunjukkan masih terdapat celah besar antara kebijakan dan realitas sosial. Masih ada keluarga yang harus memilih antara kebutuhan hidup dan kebutuhan belajar anaknya.

Tragedi ini memperlihatkan bahwa kesenjangan sosial bukan hanya statistik, melainkan kenyataan yang hidup di sekitar kita. Pendidikan belum sepenuhnya menjadi ruang aman bagi semua anak, terutama mereka yang berada di wilayah rentan kemiskinan. Sekolah seharusnya menjadi tempat harapan, bukan tekanan.

Lebih dari sekadar kritik kebijakan, kejadian ini menjadi panggilan moral bagi masyarakat. Lingkungan sekitar — tetangga, guru, tokoh masyarakat, dan organisasi sosial — memiliki peran penting untuk saling memperhatikan. Gotong royong sosial harus kembali dihidupkan agar tidak ada anak yang merasa sendirian menghadapi kesulitan.

Solidaritas sosial menjadi kunci. Kepedulian sederhana seperti meminjamkan buku, membantu alat tulis, atau memastikan anak tetap percaya diri bersekolah dapat menyelamatkan masa depan. Pendidikan bukan hanya urusan negara, tetapi tanggung jawab bersama.

Tragedi ini mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak diukur dari angka kelulusan semata, melainkan dari hadirnya rasa aman dan harapan bagi setiap anak. Tidak boleh ada lagi anak yang merasa putus asa hanya karena kebutuhan dasar pendidikan tidak terpenuhi.

Kita semua diingatkan untuk lebih peka terhadap sekitar. Jangan sampai ada anak lapar, ada anak putus sekolah, atau ada anak kehilangan harapan hanya karena persoalan sederhana yang sebenarnya bisa ditanggung bersama.

Semoga peristiwa ini menjadi momentum refleksi nasional: bahwa masa depan bangsa tidak boleh ditentukan oleh kemampuan membeli buku tulis. Pendidikan harus benar-benar menjadi hak, bukan beban. Dan dari kepedihan ini, lahir kesadaran bersama untuk membangun solidaritas menuju masa depan yang lebih manusiawi dan berkeadilan.