IMG-20260509-WA0013

Kisah Inspiratif: Belajar Kesederhanaan dari Seorang Guru Besar

Perjalanan itu menjadi salah satu pengalaman yang sulit saya lupakan. Siapa sangka, sebuah perjalanan sederhana dari kampus menuju sebuah desa di wilayah Cluring, Banyuwangi, justru menghadirkan pelajaran hidup yang begitu mendalam. Saya berkesempatan mengenal sosok yang luar biasa, seorang guru besar yang telah lama menyandang gelar profesor sejak tahun 2009, yaitu Prof. Dr. Widi Harsono.

Beliau merupakan Direktur Pascasarjana Universitas Bakti Indonesia Banyuwangi⁠�, sosok akademisi yang dihormati banyak mahasiswa dan dosen. Namun, yang paling membekas dalam ingatan saya bukanlah jabatan atau gelar panjang beliau, melainkan kesederhanaannya yang begitu tulus.

Hari itu saya berangkat dari kampus menuju rumah beliau. Perjalanan sekitar 4–5 kilometer terasa begitu menyenangkan. Jalan menuju rumah Prof. Widi dipenuhi pepohonan rindang di kanan dan kiri. Udara desa di kawasan Cluring terasa sejuk dan damai. Semakin mendekati rumah beliau, suasana pedesaan Banyuwangi benar-benar menghadirkan ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Sesampainya di rumah beliau, saya justru terdiam sejenak. Dalam bayangan saya, seorang profesor besar yang sudah lama menyandang gelar akademik tertinggi mungkin tinggal di rumah megah dengan berbagai fasilitas mewah. Namun kenyataannya jauh berbeda. Rumah beliau sangat sederhana. Tidak besar, tidak berlebihan, tetapi terasa hangat dan penuh kehidupan.

Ketika masuk ke dalam rumah, saya melihat banyak foto-foto perjalanan hidup beliau. Ada foto masa kuliah, foto saat pengukuhan guru besar, hingga berbagai kenangan akademik yang tersusun sederhana di dinding rumah. Dari situ saya memahami bahwa kebesaran seseorang ternyata tidak selalu ditunjukkan dengan kemewahan, tetapi dengan perjalanan hidup dan dedikasi yang dijalani dengan ketulusan.

Hal lain yang membuat saya semakin kagum adalah sisi humanis beliau. Di salah satu pojok rumah terdapat ruang sederhana untuk bermain musik. Ternyata Prof. Widi sangat menyukai musik. Beliau bisa bermain gitar, bernyanyi, bahkan memainkan alat musik dengan penuh penghayatan. Rasanya begitu menarik melihat seorang ilmuwan, akademisi, sekaligus guru besar tetap memiliki jiwa seni yang hidup. Kesederhanaan itu membuat beliau terasa dekat dengan siapa saja.

Pertemuan itu benar-benar memberikan pelajaran besar bagi saya. Bahwa ilmu yang tinggi tidak harus membuat seseorang hidup dalam kemewahan atau menjauh dari masyarakat. Justru semakin tinggi ilmunya, semakin sederhana cara hidupnya. Itulah yang saya lihat langsung dari sosok Prof. Widi.

Selain dikenal sebagai akademisi dan ilmuwan, beliau juga dikenal sangat peduli terhadap mahasiswa, khususnya mahasiswa pascasarjana. Banyak mahasiswa yang merasakan bantuan, dukungan, dan kemudahan dalam urusan akademik karena perhatian beliau. Sikap beliau yang selalu membantu tanpa membeda-bedakan membuat banyak mahasiswa merasa dihargai dan dimotivasi untuk terus belajar.

Bagi saya pribadi, pertemanan dan perkenalan dengan Prof. Widi bukan sekadar hubungan akademik biasa. Ini adalah perjumpaan dengan sosok inspiratif yang mengajarkan arti kerendahan hati. Di tengah gelar profesor, jabatan tinggi, dan pengalaman akademik yang luar biasa, beliau tetap hidup sederhana di desa, tetap ramah, tetap dekat dengan musik, dan tetap peduli kepada mahasiswa.

Terima kasih Prof. Widi atas inspirasi yang diberikan kepada kami semua. Semoga beliau selalu diberikan kesehatan, umur panjang, dan terus menjadi cahaya inspirasi bagi mahasiswa pascasarjana, alumni, serta keluarga besar Universitas Bakti Indonesia Banyuwangi⁠�, termasuk kami dari Kabupaten Bangkalan. Kisah sederhana ini menjadi bukti bahwa kebesaran sejati bukan tentang kemewahan, tetapi tentang ketulusan, kesederhanaan, dan manfaat bagi banyak orang.

Tags: No tags

2 Responses

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *