AIR MATA RAJA MESIR DAN PELAJARAN BESAR UNTUK UMAT
Catatan Suraji MPD
Pemerhati Olahraga dan Gerakan Kemajuan Islam
Sepak bola sering dipahami hanya sebatas pertandingan: menang atau kalah, trofi atau kegagalan, gol atau statistik. Padahal dalam sejarahnya, sepak bola kerap melahirkan tokoh yang melampaui batas lapangan hijau. Ada yang sekadar menjadi pemain hebat, tetapi ada pula yang berubah menjadi simbol nilai, inspirasi, dan peradaban.
Muhammad Salah termasuk kategori yang kedua.
Perpisahan Mohamed Salah di Anfield bukan hanya kisah seorang pemain meninggalkan klubnya setelah sembilan tahun pengabdian. Lebih dari itu, dunia sedang menyaksikan berakhirnya satu babak penting tentang bagaimana seorang muslim menaklukkan panggung dunia tanpa kehilangan identitasnya.
Ketika jutaan pasang mata menyaksikan air mata Salah menetes di stadion Anfield, sesungguhnya yang sedang menangis bukan hanya seorang pemain bola. Yang tampak di hadapan dunia adalah seorang ayah, seorang suami, seorang muslim, dan seorang manusia biasa yang menyimpan cinta sangat besar kepada tempat yang membesarkannya.
Kalimatnya begitu sederhana namun menghantam hati:
“Saya menangis lebih banyak hari ini dibanding sepanjang hidup saya.”
Kalimat itu membuat dunia sadar bahwa legenda pun tetap manusia. Di balik tubuh atletis, rekor demi rekor, dan ratusan gol spektakuler, ada hati yang rapuh ketika harus berpisah.
Sebagai pemerhati olahraga, saya melihat Salah bukan sekadar pemain sayap yang memiliki kecepatan luar biasa atau naluri mencetak gol yang tajam. Saya melihat ada narasi yang jauh lebih besar.
Ia datang dari desa kecil di Mesir.
Bukan anak akademi elite Eropa.
Bukan pangeran sepak bola yang sejak kecil dikelilingi fasilitas mewah.
Ia tumbuh dari keterbatasan, perjuangan, disiplin, dan pengorbanan panjang.
Di era ketika banyak anak muda ingin hasil instan, ingin cepat terkenal, cepat viral, dan cepat sukses, Salah menghadirkan pelajaran berbeda.
Kesuksesan tidak datang dari jalan pintas.
Kesuksesan lahir dari kerja keras yang panjang.
Bakat memang penting. Tetapi disiplin dan konsistensi sering kali jauh lebih menentukan.
Karena itu saya memahami mengapa masyarakat Liverpool begitu mencintainya.
Kota Liverpool adalah kota pekerja. Kota pelabuhan. Kota yang menghargai kerja keras.
Dan Salah datang membawa karakter itu.
Ia bekerja seperti orang yang takut kehilangan kesempatan.
Setiap musim ia memperbaiki diri.
Setiap tahun ia menambah kualitas.
Setiap hari ia berusaha menjadi lebih baik.
Hasilnya luar biasa.
Ratusan gol.
Puluhan penghargaan.
Trofi bergengsi.
Rekor demi rekor.
Namun anehnya, yang paling membuat orang jatuh cinta bukan statistik itu.
Justru sikapnya.
Salah membuktikan kepada dunia bahwa seorang muslim dapat menjadi tokoh global tanpa harus menanggalkan identitas keislamannya.
Ia tetap menjadi ayah yang dekat dengan keluarga.
Ia tetap menjadi suami yang menjaga rumah tangga.
Ia tetap menjaga akhlak.
Ia tetap menunjukkan identitas Islam secara tenang dan elegan.
Tanpa pidato panjang.
Tanpa kemarahan.
Tanpa pertunjukan.
Dunia melihat Islam melalui keteladanan.
Dan kadang keteladanan jauh lebih kuat daripada seribu pidato.
Sebagai masyarakat Islam yang peduli terhadap kemajuan peradaban Islam dunia, saya melihat Muhammad Salah telah melakukan dakwah yang mungkin tidak ia sadari besarnya.
Ia tidak naik mimbar.
Ia tidak berdebat di televisi.
Ia tidak membawa slogan besar.
Tetapi jutaan orang Eropa melihat seorang muslim yang ramah, disiplin, rendah hati, berprestasi, dan dicintai banyak orang.
Inilah dakwah akhlak.
Inilah dakwah keteladanan.
Dan mungkin inilah bahasa yang paling mudah dipahami dunia modern.
Di tengah maraknya islamofobia, stereotip negatif, dan berbagai prasangka terhadap umat Islam, sosok seperti Salah menjadi wajah yang menyejukkan.
Ia menunjukkan bahwa Islam tidak menghalangi seseorang menjadi besar.
Justru nilai Islam mampu melahirkan manusia besar.
Perpisahan di Anfield akhirnya mengajarkan pelajaran yang sangat penting.
Hidup bukan tentang berapa lama seseorang berada di suatu tempat.
Tetapi seberapa dalam jejak yang ia tinggalkan.
Mohamed Salah meninggalkan Liverpool.
Tetapi ia meninggalkan sesuatu yang jauh lebih mahal daripada trofi.
Ia meninggalkan keteladanan.
Meninggalkan loyalitas.
Meninggalkan inspirasi.
Meninggalkan keyakinan bahwa anak desa pun dapat mengguncang dunia.
Dan terutama, ia meninggalkan pesan sederhana yang seharusnya menjadi pegangan kita semua:
“Yang terpenting, saya telah memberikan segalanya.”
Mungkin itulah definisi paling jujur tentang seorang legenda.
Suraji MPD
Pemerhati Olahraga dan Gerakan Kemajuan Islam Dunia


Add a Comment