Screenshot

Di Tengah Gemerlap Dunia, Mereka Memilih Hidup Sederhana

Kesederhanaan yang Menginspirasi: Teladan Pemimpin Muhammadiyah untuk Bangsa

Di tengah zaman ketika kemewahan sering dipamerkan di media sosial, masyarakat Indonesia justru dibuat kagum oleh sosok-sosok pemimpin yang memilih hidup sederhana. Dari lingkungan Muhammadiyah, muncul teladan yang tidak hanya berbicara tentang ilmu dan kepemimpinan, tetapi juga tentang akhlak, ketulusan, dan kesahajaan hidup. Dua sosok yang kini banyak diperbincangkan masyarakat adalah Prof. Dr. Haedar Nashir dan Abdul Mu’ti.

Nama Prof. Dr. Haedar Nashir beberapa waktu terakhir menjadi perbincangan hangat karena kesederhanaannya yang begitu nyata. Banyak masyarakat merasa takjub melihat seorang ketua umum organisasi besar dengan aset yang disebut mencapai ratusan triliun rupiah tetap menjalani kehidupan yang sangat sederhana. Di tengah posisi yang sangat tinggi, beliau tetap memilih bepergian dengan kereta api, duduk bersama masyarakat umum, ikut mengantre tanpa meminta perlakuan istimewa, dan membawa tas atau koper lama yang sudah bertahun-tahun digunakan.

Pemandangan seperti itu terasa langka di masa kini. Sebagian orang mungkin mengira bahwa seorang pemimpin besar harus selalu tampil mewah, menggunakan fasilitas mahal, kendaraan eksklusif, dan pengawalan berlebihan. Namun, yang tampak pada diri Prof. Dr. Haedar Nashir justru sebaliknya. Kesederhanaannya bukan dibuat-buat untuk pencitraan, melainkan lahir dari cara pandang hidup yang menempatkan amanah di atas kemewahan.

Beliau seolah ingin mengajarkan kepada masyarakat bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh mahalnya pakaian, besarnya kendaraan, atau mewahnya fasilitas. Kemuliaan justru hadir dari keteladanan, kejujuran, dan pengabdian kepada umat. Tas lama yang terus dipakai itu bukan sekadar barang biasa, melainkan simbol bahwa hidup tidak perlu dipenuhi gengsi. Bahwa seorang pemimpin besar tetap bisa tampil sederhana tanpa kehilangan kehormatan.

Kesederhanaan itu juga terlihat pada sosok Abdul Mu’ti. Sebagai Sekretaris Umum PP Muhammadiyah sekaligus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, beliau memiliki jabatan yang sangat tinggi dan terhormat. Namun kehidupan pribadinya justru memperlihatkan ketenangan dan kesahajaan yang luar biasa.

Rumah beliau yang berada di gang kecil dan sederhana menjadi perbincangan banyak orang karena dipenuhi buku-buku layaknya perpustakaan kecil. Tidak tampak kemewahan berlebihan. Yang terlihat justru suasana ilmu pengetahuan, budaya membaca, dan kecintaan terhadap pendidikan. Rumah itu seakan menjadi gambaran bahwa orang besar tidak selalu hidup dengan kemegahan, tetapi dengan kedalaman ilmu dan keluasan wawasan.

Di tengah budaya hedonisme yang semakin kuat, keteladanan seperti ini terasa sangat menyejukkan. Banyak orang berlomba memperlihatkan kekayaan, tetapi tokoh-tokoh Muhammadiyah ini justru memperlihatkan bahwa jabatan tinggi tidak harus diiringi gaya hidup mewah. Mereka mengajarkan bahwa semakin tinggi ilmu dan kedudukan seseorang, seharusnya semakin rendah hati pula sikapnya.

Kesederhanaan para tokoh Muhammadiyah ini juga menjadi pelajaran penting bagi generasi muda. Bahwa sukses bukan berarti harus hidup berlebihan. Bahwa kehormatan tidak lahir dari barang bermerek, melainkan dari manfaat yang diberikan kepada sesama. Dan bahwa seorang pemimpin sejati adalah mereka yang tetap dekat dengan rakyat, tidak menjaga jarak dengan masyarakat kecil, serta tetap hidup apa adanya meskipun memiliki kesempatan menikmati berbagai kemewahan.

Apa yang ditunjukkan oleh Prof. Dr. Haedar Nashir dan Abdul Mu’ti sesungguhnya merupakan cermin nilai luhur bangsa Indonesia: hidup sederhana, rendah hati, dan mengutamakan pengabdian. Mereka membuktikan bahwa kekuatan terbesar seorang pemimpin bukan terletak pada kemewahan yang dimiliki, melainkan pada keteladanan yang diwariskan.

Di era modern ini, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi juga membutuhkan figur yang mampu menjadi contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dan kesederhanaan para tokoh Muhammadiyah tersebut telah menjadi cahaya yang mengingatkan kita semua bahwa hidup yang penuh makna tidak harus dipenuhi kemewahan. Kadang, justru dari kesederhanaanlah lahir ketulusan, kewibawaan, dan penghormatan yang sesungguhnya.

IMG-20260512-WA0027

Menulis di Tengah Kesibukan Belajar Lingkungan di Santera Batu

Menulis di Tengah Kesibukan Belajar Lingkungan di Santera Batu

Pagi itu udara Kota Batu terasa begitu sejuk. Kabut tipis masih menyelimuti perbukitan ketika rombongan siswa mulai memenuhi area wisata edukasi Santera Batu. Suara tawa anak-anak terdengar bersahutan, berpadu dengan aroma bunga yang bermekaran di berbagai sudut taman. Di tengah hiruk-pikuk kegiatan belajar luar kelas itu, ada satu hal menarik yang mungkin jarang disadari banyak orang: semangat untuk terus menulis ternyata bisa tumbuh di sela-sela kesibukan mendampingi murid belajar.

Sebagian orang mungkin berpikir bahwa menulis membutuhkan tempat sunyi, meja rapi, dan waktu panjang tanpa gangguan. Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Kadang inspirasi justru hadir di tengah langkah-langkah kecil mendampingi anak-anak mengenal lingkungan. Saat para siswa sibuk mengamati bunga berwarna merah yang tegak mekar di taman, memperhatikan aneka tumbuhan ekologis, hingga berlarian penuh kegembiraan menuju wahana permainan, di situlah cerita kehidupan mulai terkumpul sedikit demi sedikit.

Menulis bukan hanya tentang duduk diam di depan layar. Menulis adalah kemampuan menangkap makna dari setiap perjalanan hidup. Di Santera Batu, setiap sudut taman seolah mengajarkan bahwa belajar dapat hadir di mana saja. Anak-anak yang awalnya hanya ingin bermain ternyata mulai bertanya tentang nama tanaman, cara bunga tumbuh, hingga bagaimana menjaga kelestarian lingkungan. Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu menjadi bahan renungan yang sangat berharga.

Di sela mendampingi murid, terkadang tangan mulai membuka catatan kecil di ponsel. Beberapa kalimat ditulis cepat sebelum momen itu hilang. Ada tentang keceriaan siswa yang begitu polos. Ada tentang semangat guru yang tetap sabar mengarahkan anak-anak. Ada pula tentang keindahan alam yang seakan menjadi ruang kelas tanpa dinding. Semua itu perlahan berubah menjadi tulisan yang hidup.

Kesibukan ternyata bukan alasan untuk berhenti berkarya. Justru di tengah aktivitas itulah seseorang belajar mengelola waktu, menjaga semangat, dan menghargai setiap inspirasi kecil. Menulis di tengah kegiatan belajar lingkungan seperti di Santera Batu bukan sekadar menghasilkan cerita, tetapi juga menjadi cara mengabadikan pengalaman berharga agar tidak hilang begitu saja.

Yang paling menginspirasi adalah melihat bagaimana anak-anak sebenarnya juga sedang mengajarkan sesuatu kepada orang dewasa. Mereka mengajarkan rasa ingin tahu, semangat mencoba, dan kemampuan menikmati hal-hal sederhana. Ketika seorang murid tersenyum bahagia melihat bunga bermekaran atau tertawa saat mengenal tanaman baru, di situlah muncul kesadaran bahwa pendidikan terbaik sering lahir dari pengalaman nyata.

Santera Batu pada akhirnya bukan hanya menjadi tempat wisata edukasi. Tempat itu menjadi ruang refleksi bahwa menulis dapat dilakukan kapan saja selama hati masih mau memperhatikan kehidupan. Bahkan di tengah padatnya mendampingi murid belajar, inspirasi tetap bisa tumbuh seperti bunga-bunga yang mekar indah di taman pegunungan Kota Batu.

Karena sesungguhnya, tulisan yang paling menyentuh bukan lahir dari suasana sempurna, melainkan dari ketulusan seseorang dalam merekam makna perjalanan hidupnya.

4fc24f64-6445-435d-9ec9-6e9caf5400e4

Turnamen Tenis Meja Ganda Putra Bangkalan Berlangsung Meriah, Jurda dan Fikar Raih Juara Pertama

BANGKALAN – Turnamen Tenis Meja Ganda Putra tingkat Kabupaten Bangkalan yang digelar di Bangkalan Plaza pada Minggu, 10 Mei 2026 berlangsung meriah dan penuh semangat sportivitas. Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB hingga selesai tersebut diikuti oleh banyak atlet tenis meja terbaik dari berbagai wilayah di Kabupaten Bangkalan.

Turnamen ini menjadi salah satu ajang bergengsi bagi para pecinta olahraga tenis meja di Bangkalan karena hampir seluruh petenis meja terbaik turut ambil bagian dalam kompetisi tersebut. Antusiasme peserta maupun penonton menambah semarak jalannya pertandingan sejak babak awal hingga partai final.

Pasangan Jurda dan Fikar berhasil tampil impresif dan keluar sebagai juara pertama setelah menunjukkan permainan yang solid dan konsisten sepanjang turnamen. Sementara posisi juara kedua diraih oleh pasangan Puji dan Rohim yang juga tampil sangat kompetitif. Adapun juara ketiga berhasil diraih pasangan ganda putra asal wilayah timur Kabupaten Bangkalan, yakni dari Blega, yaitu Haji Syukron CS.

Ketatnya persaingan antar peserta membuat turnamen kali ini berlangsung sangat menarik. Banyak pertandingan berlangsung sengit dan menghibur sehingga mendapat apresiasi dari para peserta maupun penonton yang hadir.

Ketua Umum PTMSI Kabupaten Bangkalan, dr. Prima Nugroho, menyampaikan apresiasi kepada seluruh atlet yang telah berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Ia juga mengucapkan selamat kepada para pemenang yang telah menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam turnamen kali ini.

“Terima kasih kepada seluruh atlet yang telah ikut berpartisipasi dan menjaga sportivitas selama pertandingan berlangsung. Selamat kepada para juara yang berhasil meraih prestasi terbaik,” ujarnya.

Sementara itu, panitia pelaksana, Husnul Yakin, turut menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan membantu menyukseskan kegiatan tersebut.

Ia berharap turnamen tenis meja di Kabupaten Bangkalan ke depan akan semakin berkembang dan semakin menarik, terlebih dalam beberapa minggu mendatang akan digelar turnamen antarklub tingkat Kabupaten Bangkalan yang diprediksi berlangsung lebih bergengsi dan kompetitif.

Turnamen ini sekaligus menjadi ajang pemanasan dan persiapan para atlet menjelang kompetisi antarklub yang akan datang, serta menjadi bukti bahwa olahraga tenis meja masih sangat diminati masyarakat dan atlet di Kabupaten Bangkalan.

IMG-20260509-WA0013

Kisah Inspiratif: Belajar Kesederhanaan dari Seorang Guru Besar

Perjalanan itu menjadi salah satu pengalaman yang sulit saya lupakan. Siapa sangka, sebuah perjalanan sederhana dari kampus menuju sebuah desa di wilayah Cluring, Banyuwangi, justru menghadirkan pelajaran hidup yang begitu mendalam. Saya berkesempatan mengenal sosok yang luar biasa, seorang guru besar yang telah lama menyandang gelar profesor sejak tahun 2009, yaitu Prof. Dr. Widi Harsono.

Beliau merupakan Direktur Pascasarjana Universitas Bakti Indonesia Banyuwangi⁠�, sosok akademisi yang dihormati banyak mahasiswa dan dosen. Namun, yang paling membekas dalam ingatan saya bukanlah jabatan atau gelar panjang beliau, melainkan kesederhanaannya yang begitu tulus.

Hari itu saya berangkat dari kampus menuju rumah beliau. Perjalanan sekitar 4–5 kilometer terasa begitu menyenangkan. Jalan menuju rumah Prof. Widi dipenuhi pepohonan rindang di kanan dan kiri. Udara desa di kawasan Cluring terasa sejuk dan damai. Semakin mendekati rumah beliau, suasana pedesaan Banyuwangi benar-benar menghadirkan ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Sesampainya di rumah beliau, saya justru terdiam sejenak. Dalam bayangan saya, seorang profesor besar yang sudah lama menyandang gelar akademik tertinggi mungkin tinggal di rumah megah dengan berbagai fasilitas mewah. Namun kenyataannya jauh berbeda. Rumah beliau sangat sederhana. Tidak besar, tidak berlebihan, tetapi terasa hangat dan penuh kehidupan.

Ketika masuk ke dalam rumah, saya melihat banyak foto-foto perjalanan hidup beliau. Ada foto masa kuliah, foto saat pengukuhan guru besar, hingga berbagai kenangan akademik yang tersusun sederhana di dinding rumah. Dari situ saya memahami bahwa kebesaran seseorang ternyata tidak selalu ditunjukkan dengan kemewahan, tetapi dengan perjalanan hidup dan dedikasi yang dijalani dengan ketulusan.

Hal lain yang membuat saya semakin kagum adalah sisi humanis beliau. Di salah satu pojok rumah terdapat ruang sederhana untuk bermain musik. Ternyata Prof. Widi sangat menyukai musik. Beliau bisa bermain gitar, bernyanyi, bahkan memainkan alat musik dengan penuh penghayatan. Rasanya begitu menarik melihat seorang ilmuwan, akademisi, sekaligus guru besar tetap memiliki jiwa seni yang hidup. Kesederhanaan itu membuat beliau terasa dekat dengan siapa saja.

Pertemuan itu benar-benar memberikan pelajaran besar bagi saya. Bahwa ilmu yang tinggi tidak harus membuat seseorang hidup dalam kemewahan atau menjauh dari masyarakat. Justru semakin tinggi ilmunya, semakin sederhana cara hidupnya. Itulah yang saya lihat langsung dari sosok Prof. Widi.

Selain dikenal sebagai akademisi dan ilmuwan, beliau juga dikenal sangat peduli terhadap mahasiswa, khususnya mahasiswa pascasarjana. Banyak mahasiswa yang merasakan bantuan, dukungan, dan kemudahan dalam urusan akademik karena perhatian beliau. Sikap beliau yang selalu membantu tanpa membeda-bedakan membuat banyak mahasiswa merasa dihargai dan dimotivasi untuk terus belajar.

Bagi saya pribadi, pertemanan dan perkenalan dengan Prof. Widi bukan sekadar hubungan akademik biasa. Ini adalah perjumpaan dengan sosok inspiratif yang mengajarkan arti kerendahan hati. Di tengah gelar profesor, jabatan tinggi, dan pengalaman akademik yang luar biasa, beliau tetap hidup sederhana di desa, tetap ramah, tetap dekat dengan musik, dan tetap peduli kepada mahasiswa.

Terima kasih Prof. Widi atas inspirasi yang diberikan kepada kami semua. Semoga beliau selalu diberikan kesehatan, umur panjang, dan terus menjadi cahaya inspirasi bagi mahasiswa pascasarjana, alumni, serta keluarga besar Universitas Bakti Indonesia Banyuwangi⁠�, termasuk kami dari Kabupaten Bangkalan. Kisah sederhana ini menjadi bukti bahwa kebesaran sejati bukan tentang kemewahan, tetapi tentang ketulusan, kesederhanaan, dan manfaat bagi banyak orang.

IMG-20260504-WA0001

“Di Antara Rel dan Bahasa: Kisah Perjalanan Pulang yang Menyatukan Indonesia dan Aljazair”

Perjalanan pulang itu terasa berbeda. Sore 2 Mei 2026, selepas mengikuti wisuda tahap kedua pascasarjana dan kegiatan Kemendikdasmen di Taman Blambangan, saya melangkah menuju stasiun di Banyuwangi dengan hati penuh syukur sekaligus lelah yang terbayar. Hari itu bukan sekadar penutup rangkaian kegiatan akademik mahasiswa saya, tetapi juga awal dari sebuah perjalanan reflektif menuju Surabaya.

Kereta yang saya naiki, rangkaian Blambangan Express, berangkat tepat pukul 16.15 WIB. Saya duduk di kursi yang sudah ditentukan, bersiap menikmati perjalanan sekitar lima jam. Namun, perjalanan ini ternyata bukan sekadar perpindahan dari satu kota ke kota lain—melainkan perjalanan lintas budaya dan perspektif.

Di samping saya duduk seorang guru asal Aljazair bernama Mr. Houari Boum. Ia baru dua minggu berada di Indonesia. Dari awal perkenalan, kami langsung menyadari satu hal: bahasa akan menjadi jembatan sekaligus tantangan. Ia berbicara dalam bahasa Inggris dengan cukup fasih, sementara saya berusaha menyesuaikan kemampuan saya yang tidak sefasih beliau. Namun justru di situlah letak keindahannya—kami sama-sama belajar, saling memahami, dan saling menghargai keterbatasan.

Percakapan kami mengalir dari hal sederhana hingga mendalam. Ia bercerita tentang kehidupan sosial di Aljazair, tentang bagaimana masyarakatnya memegang teguh nilai budaya dan agama. Saya pun berbagi tentang Indonesia—tentang keberagaman, gotong royong, hingga dinamika pendidikan. Kami juga menyentuh topik politik luar negeri, membandingkan bagaimana kedua negara memandang dunia dan perannya masing-masing.

Di tengah perjalanan, saya menunjukkan sebuah video YouTube tentang kerapan sapi Madura. Matanya berbinar melihat tradisi yang begitu unik dan penuh semangat. Ia tampak sangat tertarik, bahkan beberapa kali bertanya detail tentang makna budaya di balik perlombaan tersebut. Dari situ, saya merasa bahwa budaya lokal yang sering kita anggap biasa ternyata mampu memukau mata dunia.

Yang paling mengesankan bukan hanya isi percakapan kami, tetapi suasana kebersamaan yang terbangun. Dua orang dari latar belakang berbeda, bahasa berbeda, bahkan benua berbeda—duduk berdampingan dalam satu gerbong kereta, berbagi cerita, tawa, dan pemahaman baru. Perjalanan yang awalnya terasa panjang justru terasa singkat karena dipenuhi makna.

Saat kereta mulai mendekati Surabaya sekitar pukul 21.30 WIB, saya menyadari bahwa perjalanan ini telah memberi lebih dari sekadar perpindahan fisik. Ia memberi pelajaran tentang keterbukaan, keberanian berkomunikasi, dan pentingnya menjalin hubungan lintas budaya.

Kadang, inspirasi tidak datang dari panggung besar atau forum resmi, tetapi justru dari kursi kereta yang sederhana—dari percakapan tulus antara dua insan yang ingin saling belajar.
Dan malam itu, saya pulang bukan hanya membawa gelar dan pengalaman akademik, tetapi juga membawa cerita yang akan terus hidup dalam ingatan.

IMG-20260502-WA0018

Wisuda Tahap II Universitas Bakti Indonesia Banyuwangi Berlangsung Khidmat dan Penuh Kebahagiaan

Wisuda Tahap II Universitas Bakti Indonesia Banyuwangi Berlangsung Khidmat dan Penuh Kebahagiaan

Banyuwangi, 2 Mei 2026 — Universitas Bakti Indonesia Banyuwangi kembali menggelar prosesi wisuda tahap II yang berlangsung dengan penuh khidmat dan suasana haru bahagia. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 2 Mei 2026, bertempat di Hotel Aston Banyuwangi, dimulai pukul 07.00 WIB hingga selesai.

Acara wisuda ini menjadi momen istimewa bagi para wisudawan dan wisudawati yang telah berhasil menyelesaikan perjalanan akademiknya. Tampak raut wajah sumringah dan kebahagiaan yang terpancar dari para peserta wisuda, sebagai bentuk rasa syukur atas perjuangan panjang dalam menyelesaikan beban studi yang selama ini menjadi tanggung jawab mereka.

Prosesi berjalan lancar dengan dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas, dosen, serta keluarga wisudawan yang turut memberikan dukungan dan kebanggaan atas capaian tersebut. Momentum ini tidak hanya menjadi seremoni akademik, tetapi juga simbol keberhasilan, kedewasaan, dan kesiapan untuk melangkah ke jenjang kehidupan berikutnya.

Dalam kesempatan ini, disampaikan ucapan selamat kepada seluruh wisudawan Universitas Bakti Indonesia Banyuwangi. Diharapkan ilmu yang telah diperoleh dapat memberikan manfaat luas bagi masyarakat serta mampu berkontribusi dalam memajukan dunia pendidikan dan pembangunan bangsa.

Dengan semangat baru dan bekal ilmu yang dimiliki, para lulusan diharapkan terus berkembang, berinovasi, dan menjadi agen perubahan yang membawa kemajuan di berbagai bidang. Selamat kepada para wisudawan, semoga sukses selalu menyertai langkah ke depan dan semakin maju dalam berkarya untuk negeri.

b74bb111-25a0-434f-84e7-6e263d598d1c

Langkah Sederhana yang Menggerakkan Harapan Besar

Langkah Sederhana yang Menggerakkan Harapan Besar

Pada pagi yang cerah, Jumat, 1 Mei 2026 pukul 10.00 WIB, Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan menjadi saksi sebuah peristiwa yang tak sekadar seremoni, tetapi penuh makna dan inspirasi. Ratusan warga, siswa, dan santri berkumpul dengan penuh antusias menyambut kedatangan Abdul Mu’ti.

Namun, yang membuat momen ini begitu istimewa bukan hanya peresmian Masjid Al Huda Muhammadiyah, melainkan langkah sederhana yang sarat keteladanan.

Dari rumah Haji Suparman, sang menteri memilih berjalan kaki sejauh kurang lebih 300 meter menuju masjid. Di tengah iringan Kyai Rik Suhadi, jajaran pimpinan Muhammadiyah, serta Forkopimda Kabupaten Bangkalan, langkah itu menjadi simbol kedekatan seorang pemimpin dengan rakyatnya.

Sepanjang perjalanan, suasana terasa begitu hidup. Siswa-siswi Madrasah Al Huda, santri dan santriwati Pondok Pesantren Babussalam, serta keluarga besar perguruan Muhammadiyah berdiri berjejer dengan wajah ceria. Tangan-tangan kecil terulur penuh harap.

Dan di situlah keistimewaannya.

Sang menteri tidak sekadar melambaikan tangan. Ia berhenti, menyalami hampir setiap orang yang menyambutnya. Senyum hangatnya menyapa, menjadikan jarak antara pemimpin dan rakyat seakan hilang begitu saja.

Doa-doa pun mengalir tulus dari anak-anak.

“Pak Menteri, doakan saya agar bisa jadi menteri pendidikan nanti…”

Kalimat polos itu menggambarkan betapa kehadiran seorang pemimpin mampu menumbuhkan mimpi besar di hati generasi muda.

Langkah kaki sepanjang 300 meter itu bukan sekadar perjalanan fisik. Itu adalah perjalanan nilai—tentang kerendahan hati, kepedulian, dan komitmen terhadap pendidikan.

Hari itu, di Burneh, pendidikan tidak hanya dibicarakan, tetapi benar-benar dirasakan.

Dari jabat tangan, dari senyuman, dari doa-doa kecil yang terucap, lahir harapan besar: bahwa pendidikan Indonesia akan terus maju, merata, dan memberi kesempatan kepada setiap anak bangsa untuk bermimpi setinggi-tingginya.

Terima kasih, Bapak Menteri.
Langkah sederhana Anda di pagi hari itu telah menyalakan cahaya besar bagi masa depan pendidikan Indonesia.

Pendidikan Bermutu untuk Semua.

8ca857c9-72d7-4804-a1a6-03c1edd888e3

Saat Kereta Mengajarkan Kesabaran dan Keteguhan

Perjalanan pulang itu dimulai dari Stasiun Rogojampi, tepat pukul 16.16 WIB. Kereta KA Blambangan Ekspres kelas eksekutif perlahan bergerak meninggalkan Banyuwangi, membawa bukan hanya tubuh yang lelah, tetapi juga pikiran yang penuh cerita.

Langit sore tampak mendung. Awan gelap menggantung rendah, seolah ikut menemani suasana hati yang belum sepenuhnya tenang. Perjalanan kali ini memang tidak berjalan semulus rencana. Ada dinamika di kampus yang sempat menguji kesabaran—hal yang sebenarnya biasa dalam kehidupan, tetapi tetap saja menyisakan ruang untuk merenung.

Namun justru di situlah maknanya.

Saat kereta mulai melaju lebih cepat, pemandangan berubah menjadi terapi yang tak ternilai. Hamparan persawahan terbentang luas, pegunungan berdiri kokoh di kejauhan, dan langit yang perlahan berubah dari abu-abu menjadi gelap. Semua seperti mengingatkan bahwa kehidupan selalu memiliki dua sisi: tantangan dan keindahan.

Di dalam kabin eksekutif yang nyaman, perjalanan lima jam terasa seperti perjalanan batin. Dari sore menuju malam, dari terang menuju gelap, lalu nanti kembali ke cahaya. Setiap detik membawa pesan: bahwa kesabaran bukan sekadar menahan, tetapi juga memahami.

Sesekali, lampu-lampu kecil di desa yang dilewati mulai menyala. Seperti harapan-harapan kecil yang muncul di tengah gelapnya perjalanan. Di momen itu, hati mulai lebih lapang. Apa yang terjadi sebelumnya tidak lagi terasa berat, melainkan menjadi pelajaran berharga.

Kereta terus melaju menuju Surabaya, dengan estimasi tiba pukul 21.30 WIB. Malam menyambut dengan tenang, seolah memberi penegasan bahwa setiap perjalanan pasti sampai pada tujuannya.

Dan dari perjalanan ini, ada satu hal yang semakin kuat tertanam:

bahwa hidup bukan tentang seberapa mulus jalan yang kita tempuh, tetapi tentang bagaimana kita tetap tegak lurus pada kebenaran, tetap sabar dalam ujian, dan tetap bergerak maju meski dalam kondisi tidak sempurna.

Perjalanan panjang ini bukan sekadar perpindahan dari Banyuwangi ke Surabaya, tetapi juga perjalanan menuju kedewasaan berpikir.

Terus berkarya, terus melangkah, dan terus menyalakan cahaya dalam diri—karena masa depan yang lebih bersinar tidak datang begitu saja, tetapi dibangun dari perjalanan-perjalanan seperti ini.

bdeeee0f-a0a1-4fb3-8157-191dd40a8a48

Yudisium Tahap II Universitas Bakti Indonesia Banyuwangi Berlangsung Khidmat, Diikuti Ratusan Peserta

Banyuwangi, 25 April 2026 – Universitas Bakti Indonesia (UBI) Banyuwangi kembali menyelenggarakan Yudisium Gelombang II atau Tahap II Tahun Akademik 2025–2026 pada Sabtu (25/4). Kegiatan ini berlangsung di aula Gedung Universitas Bakti Indonesia Banyuwangi mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai, dengan suasana yang khidmat dan penuh haru.

Acara yudisium tersebut diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai program studi, baik diploma, sarjana, maupun pascasarjana. Prosesi ini menjadi momentum penting sebagai penanda kelulusan mahasiswa sebelum memasuki tahap wisuda.

Menariknya, pada yudisium kali ini, jumlah peserta terbanyak berasal dari program sarjana, khususnya Program Studi Administrasi Pendidikan. Hal ini menunjukkan tingginya minat serta komitmen mahasiswa dalam bidang pendidikan.

Selain itu, yudisium juga diikuti oleh mahasiswa dari berbagai daerah, termasuk tujuh mahasiswa asal Bangkalan dan satu mahasiswa dari Kabupaten Sampang yang turut hadir dan dinyatakan lulus dalam prosesi tersebut.

Salah satu peserta yudisium, Musdalifah, mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaannya karena dapat menyelesaikan studi hingga tahap akhir. Ia menyampaikan bahwa proses perkuliahan yang dijalaninya menggunakan sistem blended learning, yakni perpaduan antara pembelajaran daring dan luring.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa menyelesaikan perkuliahan dan mengikuti yudisium di UBI Banyuwangi. Prosesnya tidak mudah, karena harus menempuh jarak yang jauh serta membagi waktu, tenaga, dan pikiran. Namun dengan kesabaran dan ketekunan, semua bisa dilalui,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa masa studi yang ditempuh selama dua tahun menjadi pengalaman berharga yang penuh perjuangan, terutama dalam menyesuaikan diri dengan sistem pembelajaran berbasis teknologi.

Sementara itu, peserta yudisium lainnya, Ibu Ely, turut menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada seluruh pihak kampus.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada para dosen, rektor, dan yayasan yang telah memfasilitasi kami untuk bisa berkuliah secara profesional dan serius. Semua ini demi kemajuan pendidikan yang lebih baik,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh lulusan mampu mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh selama masa studi dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam menjalankan tugas sebagai pendidik yang profesional, berintegritas, dan berdaya saing.

Yudisium ini tidak hanya menjadi seremoni akademik, tetapi juga menjadi simbol keberhasilan, perjuangan, dan awal pengabdian para lulusan kepada masyarakat.

5d312647-cb9d-4c1f-9e18-ae4296941d16

Wedang Jahe dan Deadline: Kisah Perjalanan yang Tak Biasa

Perjalanan malam itu dimulai dari Surabaya dengan suasana yang tak biasa—sunyi, sedikit tergesa, tapi juga penuh harap. Saya menaiki kereta eksekutif Wijaya Kusuma menuju Banyuwangi, sebuah perjalanan yang sudah saya tahu akan panjang, namun ternyata menyimpan cerita tersendiri.

Begitu duduk di kursi, satu hal langsung terasa: dingin. AC di gerbong eksekutif benar-benar “niat”—menusuk sampai ke tulang. Sayangnya, saya datang dengan persiapan yang kurang matang. Jaket tertinggal. Awalnya mencoba bertahan, tapi semakin malam, hawa dingin semakin tak bersahabat. Akhirnya, dengan sedikit rasa pasrah, saya memutuskan menyewa selimut dari petugas kereta. Sebuah keputusan kecil yang terasa seperti penyelamat malam itu.

Kereta melaju perlahan meninggalkan Surabaya, membawa saya ke arah timur pulau Jawa. Perjalanan sekitar lima jam menuju Banyuwangi memang bukan waktu yang sebentar. Tapi justru di situlah letak keistimewaannya. Di dalam ruang terbatas itu, waktu seakan melambat—memberi ruang untuk berpikir, merenung, dan menyelesaikan hal-hal yang selama ini tertunda.

Saya mulai membuka buku, mencoba membaca beberapa halaman. Lalu beralih ke gadget, mengecek pekerjaan yang belum selesai. Bahkan sempat mengedit jurnal yang sudah lama menunggu revisi. Aneh tapi nyata, di tengah dinginnya kabin dan gemuruh rel, justru fokus terasa lebih tajam. Tidak ada distraksi berlebihan—hanya saya, pekerjaan, dan perjalanan.

Sesekali, suasana dihangatkan oleh wedang jahe yang dijual di kereta. Hangatnya merambat perlahan, menyeimbangkan dinginnya AC yang tak kunjung kompromi. Perpaduan sederhana, tapi cukup membuat malam itu terasa lebih bersahabat.

Perjalanan kali ini saya jalani sendiri. Rombongan lain sudah berangkat lebih dulu. Saya hanya menyusul, mendampingi teman-teman mahasiswa UBI yang akan menjalani momen penting: yudisium. Meski sendiri, perjalanan ini justru memberi ruang refleksi yang lebih dalam. Tentang perjuangan, tentang proses, dan tentang bagaimana setiap langkah kecil tetap berarti.

Dan benar saja, lima jam yang terasa panjang itu ternyata sangat produktif. Tugas-tugas yang menumpuk perlahan terselesaikan. Hal-hal yang tertunda akhirnya menemukan titik akhir. Seolah perjalanan ini bukan hanya perpindahan tempat, tapi juga penyelesaian tanggung jawab.

Akhirnya, kereta tiba di Banyuwangi. Malam mulai berganti menuju pagi. Ada rasa lega, ada rasa syukur, dan tentu saja—ada cerita yang akan selalu diingat.

Selamat untuk teman-teman yang hari ini melaksanakan yudisium. Semoga gelar master yang diraih bukan sekadar titel, tetapi menjadi jalan untuk meningkatkan kompetensi, memperluas manfaat, dan memberikan kontribusi nyata bagi banyak orang.