IMG-20260205-WA0025

Tragedi Siswa SD di NTT: Ketika Buku dan Bolpoin Menjadi Barang Mewah

Nusa Tenggara Timur — Sebuah peristiwa memilukan kembali mengguncang nurani bangsa. Seorang siswa sekolah dasar kelas empat di Nusa Tenggara Timur dilaporkan mengakhiri hidupnya setelah orang tuanya tidak mampu memenuhi kebutuhan sekolah berupa buku tulis dan bolpoin. Kejadian ini sontak menjadi perhatian publik dan menghadirkan kesedihan mendalam, sekaligus tamparan keras bagi semua pihak tentang masih adanya kemiskinan ekstrem yang bersentuhan langsung dengan dunia pendidikan.

Di tengah berbagai program peningkatan kesejahteraan pelajar seperti makan bergizi gratis bagi anak sekolah, tragedi ini justru menunjukkan ironi besar. Di satu sisi negara berupaya memastikan anak tidak kelaparan, namun di sisi lain masih ada anak yang terhenti langkah pendidikannya hanya karena perlengkapan belajar yang nilainya bahkan tidak mencapai sepuluh ribu rupiah.

Peristiwa ini tidak hanya menjadi tanggung jawab satu pihak. Pemerintah desa, pemerintah kecamatan, pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi hingga pemerintah pusat harus melihat kejadian ini sebagai alarm serius. Keadilan pendidikan bukan sekadar kurikulum, asesmen, atau transformasi digital, tetapi dimulai dari memastikan setiap anak benar-benar bisa bersekolah tanpa beban ekonomi paling dasar.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah selama ini terus mendorong pemerataan akses pendidikan, tata kelola yang adil, serta penguatan layanan bagi seluruh peserta didik. Namun fakta di lapangan menunjukkan masih terdapat celah besar antara kebijakan dan realitas sosial. Masih ada keluarga yang harus memilih antara kebutuhan hidup dan kebutuhan belajar anaknya.

Tragedi ini memperlihatkan bahwa kesenjangan sosial bukan hanya statistik, melainkan kenyataan yang hidup di sekitar kita. Pendidikan belum sepenuhnya menjadi ruang aman bagi semua anak, terutama mereka yang berada di wilayah rentan kemiskinan. Sekolah seharusnya menjadi tempat harapan, bukan tekanan.

Lebih dari sekadar kritik kebijakan, kejadian ini menjadi panggilan moral bagi masyarakat. Lingkungan sekitar — tetangga, guru, tokoh masyarakat, dan organisasi sosial — memiliki peran penting untuk saling memperhatikan. Gotong royong sosial harus kembali dihidupkan agar tidak ada anak yang merasa sendirian menghadapi kesulitan.

Solidaritas sosial menjadi kunci. Kepedulian sederhana seperti meminjamkan buku, membantu alat tulis, atau memastikan anak tetap percaya diri bersekolah dapat menyelamatkan masa depan. Pendidikan bukan hanya urusan negara, tetapi tanggung jawab bersama.

Tragedi ini mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak diukur dari angka kelulusan semata, melainkan dari hadirnya rasa aman dan harapan bagi setiap anak. Tidak boleh ada lagi anak yang merasa putus asa hanya karena kebutuhan dasar pendidikan tidak terpenuhi.

Kita semua diingatkan untuk lebih peka terhadap sekitar. Jangan sampai ada anak lapar, ada anak putus sekolah, atau ada anak kehilangan harapan hanya karena persoalan sederhana yang sebenarnya bisa ditanggung bersama.

Semoga peristiwa ini menjadi momentum refleksi nasional: bahwa masa depan bangsa tidak boleh ditentukan oleh kemampuan membeli buku tulis. Pendidikan harus benar-benar menjadi hak, bukan beban. Dan dari kepedihan ini, lahir kesadaran bersama untuk membangun solidaritas menuju masa depan yang lebih manusiawi dan berkeadilan.

18d76bb6-0cf6-4079-a76a-0391a6300b34

Darul Arqom Madya Nasional di Bangkalan: Kecil Secara Struktur, Besar dalam Gagasan

Bangkalan kembali menunjukkan denyut intelektualnya. Pembukaan Darul Arqom Madya Nasional yang diselenggarakan oleh DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Timur di Aula UPTD SD Muhammadiyah 1 Bangkalan bukan sekadar seremoni kaderisasi, melainkan momentum perjumpaan gagasan lintas daerah. Dari data peserta, hadir kader dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur, bahkan dari luar provinsi seperti Lampung, Bengkulu hingga Sulawesi Tengah (Palu). Ini menjadi bukti bahwa ruang kaderisasi tidak ditentukan oleh ukuran kota, tetapi oleh kualitas gerakan.

Menariknya, kegiatan nasional ini berlangsung di IMM Cabang Bangkalan—sebuah cabang yang secara kuantitas mungkin tidak tergolong besar dibanding daerah lain. Namun justru di situlah letak pesannya: eksistensi organisasi tidak selalu diukur dari jumlah anggota, melainkan dari keberanian mengambil peran strategis. Cabang yang sederhana mampu menjadi tuan rumah kaderisasi nasional tingkat madya, sebuah level penting dalam pembentukan ideolog dan intelektual Muhammadiyah di kalangan mahasiswa.

Darul Arqom Madya sendiri bukan sekadar pelatihan formal. Ia adalah ruang transformasi: dari aktivis menjadi kader pemikir, dari penggerak menjadi pengarah gerakan. Ketika kader dari Sumatera hingga Sulawesi duduk bersama di Bangkalan, sesungguhnya yang terjadi bukan hanya pertukaran pengalaman, tetapi juga pertemuan kultur gerakan. Forum seperti ini membangun kesadaran bahwa Muhammadiyah bukan organisasi lokal, melainkan jejaring ide yang hidup di seluruh Indonesia.

Kehadiran peserta lintas provinsi juga memberi dampak psikologis bagi daerah tuan rumah. Bangkalan tidak lagi dipandang sebagai wilayah pinggiran, melainkan titik temu gerakan nasional. Inilah makna penting kaderisasi: membangun rasa percaya diri daerah sekaligus memperkuat jejaring nasional. Dari ruang sekolah dasar di kota kecil, lahir percakapan besar tentang umat, bangsa, dan masa depan peradaban.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Suraji, M.Pd., Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bangkalan. Dalam arahannya, ia menekankan pentingnya karakter mahasiswa Muhammadiyah mengikuti gagasan “tiga ble” yang dicanangkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah: knowledgeable, capable, dan humble. Pesan ini sederhana, tetapi sangat ideologis.

Mahasiswa Muhammadiyah harus knowledgeable — bukan sekadar tahu satu disiplin, tetapi memiliki keluasan wawasan. Di era banjir informasi, kader dituntut mampu membaca realitas sosial, memahami teknologi, sekaligus menguasai nilai keislaman. Tanpa keluasan ilmu, aktivisme hanya menjadi rutinitas tanpa arah.

Kedua, kader harus capable. Aktivis tidak cukup hanya berdiskusi; ia harus mampu bekerja, mengorganisasi, menulis, berbicara, hingga memecahkan masalah masyarakat. Muhammadiyah sejak awal dikenal sebagai gerakan amal usaha — maka kadernya pun harus produktif, bukan hanya retoris.

Ketiga, yang paling menentukan adalah humble. Kerendahan hati menjadi penyeimbang intelektualitas dan kemampuan. Tanpa akhlak, kecerdasan berubah menjadi kesombongan; tanpa etika, kepemimpinan berubah menjadi dominasi. Di sinilah identitas kader Muhammadiyah dibedakan: intelektual yang beradab.

Perpaduan tiga karakter ini melahirkan kader militan yang tidak keras, tetapi kokoh; tidak fanatik sempit, tetapi berprinsip. Darul Arqom Madya menjadi laboratorium pembentukan karakter tersebut. Diskusi, refleksi ideologi, hingga interaksi lintas daerah membentuk perspektif kebangsaan sekaligus keumatan.

Pada akhirnya, kegiatan ini bukan hanya kebanggaan IMM Bangkalan, melainkan kebanggaan daerah. Bangkalan menjadi ruang belajar nasional — tempat mahasiswa dari berbagai penjuru Indonesia saling menguatkan komitmen dakwah intelektual. Dari aula sederhana, lahir harapan besar: kader Muhammadiyah yang berilmu, berdaya, dan berakhlak.

Karena sejatinya, kaderisasi bukan tentang hari pembukaan, tetapi tentang masa depan yang sedang dipersiapkan. Darul Arqom Madya di Bangkalan adalah pengingat bahwa gerakan besar selalu dimulai dari ruang-ruang yang tampak kecil, tetapi dipenuhi gagasan besar.

karya suraji2

Kegiatan pembinaan dan arahan pelaksanaan tugas Korwil

Kegiatan pembinaan dan arahan pelaksanaan tugas Korwil Bidang Pendidikan se-Kabupaten Bangkalan menjadi momentum penting dalam upaya memperkuat tata kelola pendidikan daerah. Kegiatan yang dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Bangkalan Fauzan Jakfar, S.Ag., S.H., M.H, Sekretaris Daerah Kabupaten Bangkalan Ismed, serta Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bangkalan H. Muhammad Muslih Bahri, S.H., M.H ini diikuti oleh para Korwil Pendidikan, perwakilan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S), serta MGMP se-Kabupaten Bangkalan.

Dalam arahannya, Wakil Bupati Bangkalan menyampaikan sejumlah gagasan strategis yang menjadi perhatian besar seluruh peserta. Salah satu poin penting yang disampaikan adalah rencana evaluasi terhadap keberadaan Korwil Bidang Pendidikan, dengan tujuan agar birokrasi pendidikan ke depan dapat berjalan lebih efektif, efisien, dan tepat sasaran. Evaluasi ini dipandang sebagai langkah berani untuk memastikan bahwa struktur pendidikan benar-benar memberikan dampak langsung terhadap peningkatan mutu layanan pendidikan.

Tak kalah penting, Wakil Bupati juga menaruh perhatian serius terhadap kondisi ASN P3K paruh waktu. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah akan mencarikan solusi terbaik, termasuk kemungkinan pengaturan jam mengajar di lembaga swasta apabila diperlukan. Pernyataan ini disambut positif oleh para peserta karena menunjukkan keberpihakan pemerintah terhadap keberlangsungan kesejahteraan dan profesionalitas tenaga pendidik.

Hal yang paling menarik dan menjadi kabar paling menggembirakan bagi para guru adalah penegasan Wakil Bupati terkait efektivitas pembelajaran pada masa libur siswa. Dengan tegas disampaikan bahwa ketika murid libur, maka guru juga semestinya libur sesuai kalender pendidikan. Kebijakan ini, yang Insyaallah akan diterapkan di Kabupaten Bangkalan, dinilai sebagai bentuk keadilan bagi guru sebagai ASN fungsional yang memiliki karakter tugas berbeda dengan ASN struktural. Kebijakan tersebut diharapkan mampu meningkatkan semangat kerja guru serta menjaga keseimbangan antara tugas profesional dan kesehatan mental pendidik.

Selain itu, persoalan presensi guru juga menjadi perhatian khusus. Wakil Bupati menegaskan bahwa mekanisme e-presensi bagi guru selayaknya dibedakan dengan ASN struktural, mengingat tugas guru bersifat fungsional dan berbasis proses pembelajaran. Diferensiasi sistem presensi ini diharapkan tidak memberatkan guru, namun tetap menjamin kedisiplinan dan akuntabilitas kinerja.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bangkalan, H. Muhammad Muslih Bahri, S.H., M.H, dalam arahannya mengingatkan pentingnya disiplin dan kepatuhan terhadap tupoksi masing-masing. Guru diharapkan tetap menjalankan tugas secara normatif sesuai regulasi yang berlaku, serta terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan. Menurutnya, kemajuan pendidikan hanya dapat dirasakan apabila seluruh unsur bekerja profesional, tertib administrasi, dan menjunjung tinggi etika ASN.

Secara umum, berbagai arahan yang disampaikan para narasumber dirasakan sangat bermakna oleh seluruh peserta. Antusiasme dan semangat tampak jelas karena kebijakan-kebijakan tersebut dinilai sebagai terobosan luar biasa dari para pemangku kebijakan di Kabupaten Bangkalan. Kebijakan ini tidak hanya berpihak pada peningkatan kualitas pendidikan, tetapi juga memperjuangkan hak-hak guru secara nyata dan berkeadilan.

Dengan adanya pembinaan dan arahan ini, diharapkan kualitas pendidikan di Kabupaten Bangkalan semakin meningkat, kompetensi tenaga pendidik semakin kuat, serta iklim pembelajaran menjadi lebih sehat dan manusiawi. Seluruh langkah ini sejalan dengan tagline Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah: “Pendidikan Bermutu untuk Semua”, yang kini diharapkan benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh warga pendidikan di Kabupaten Bangkalan.

foto suraji5

Optimisme Tata Kelola Pendidikan Bangkalan Menguat Lewat Diskusi Atraktif di Acara Tasyakuran Pascasarjana UBI

Bangkalan, Jumat, 23 Januari 2026, – Optimisme terhadap perbaikan tata kelola pendidikan di Kabupaten Bangkalan semakin menguat. Hal tersebut tercermin dalam diskusi hangat dan atraktif yang berlangsung cukup lama antara Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bangkalan, Haji Muslih Bahri, SH, MH, Kepala BKPSDM Kabupaten Bangkalan, Bapak Ari, serta Suraji, MPD, pada acara tasyakuran dan penyerahan ijazah alumni Pascasarjana Universitas Bakti Indonesia (UBI) yang digelar di Sky Resto Cafe, Jumat (23/1/2026).

Diskusi yang berlangsung di sela-sela acara tersebut berjalan dalam suasana akrab, santai, namun penuh bobot kajian kebijakan. Berbagai isu strategis pendidikan dibahas secara terbuka, mulai dari tata kelola pendidikan yang ideal, hak libur guru, status P3K dan P3K paruh waktu, sertifikasi guru, hingga pemerataan layanan pendidikan antara lembaga negeri dan swasta.

Dalam perbincangan tersebut, mengemuka pandangan penting tentang perlunya pemetaan pendidikan yang proporsional dan berkeadilan, agar kebijakan yang diambil benar-benar menyentuh kebutuhan riil di lapangan, baik bagi guru maupun peserta didik.

Diskusi semakin menarik ketika salah satu alumni Pascasarjana Universitas Bakti Indonesia mengajukan pertanyaan mengenai pemerataan pendidikan, khususnya terkait guru-guru ASN yang bertugas di lembaga swasta. Menanggapi hal tersebut, baik Kepala Dinas Pendidikan maupun Kepala BKPSDM sepakat bahwa secara regulasi, guru ASN yang mengajar di lembaga swasta memang diperbolehkan sesuai aturan yang berlaku.

Keduanya juga menyampaikan bahwa ke depan, secara teknis akan segera disusun kebijakan-kebijakan lanjutan oleh Dinas Pendidikan dan BKPSDM Kabupaten Bangkalan guna memberikan kepastian hukum, kejelasan mekanisme, serta menciptakan sistem pendidikan yang lebih adil dan merata.

Hal ini disambut dengan penuh optimisme oleh para peserta diskusi, karena dinilai akan menjadi langkah nyata menuju pemerataan dan keadilan pendidikan di Kabupaten Bangkalan.

Selain itu, diskusi juga menyoroti persoalan mutasi dan penempatan calon kepala sekolah. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bangkalan menegaskan bahwa pihaknya akan terus melakukan kajian mendalam, baik dari sisi landasan undang-undang maupun kebijakan teknis, sebelum mengimplementasikan keputusan yang berkaitan dengan penempatan kepala sekolah ke depan.

Meskipun diskusi berlangsung dalam waktu yang relatif singkat, suasana dialog terasa sangat nyaman, terbuka, dan saling menguatkan antar pemangku kebijakan. Seluruh pihak sepakat bahwa pembahasan seperti ini perlu dilanjutkan pada forum-forum berikutnya agar kebijakan pendidikan dapat dirumuskan secara lebih komprehensif.

Sebagai penanggung jawab Pokjar Universitas Bakti Indonesia Kabupaten Bangkalan, Suraji, MPD, menyampaikan rasa optimis yang tinggi terhadap masa depan pendidikan Bangkalan. Menurutnya, dari diskusi yang berlangsung terlihat jelas penguasaan regulasi, pemahaman undang-undang, serta arah kebijakan yang berpihak pada kepentingan pendidikan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kepala BKPSDM.

“Diskusi ini menunjukkan keberpihakan yang kuat kepada guru, siswa, dan layanan pendidikan. Kami optimis pendidikan Bangkalan akan semakin maju di bawah kepemimpinan Kadisdik yang baru bersama Kepala BKPSDM,” ujar Suraji.

Ia juga berharap agar dialog dan kajian seperti ini terus dikembangkan sehingga keluh kesah pendidikan, khususnya yang dirasakan masyarakat bawah, dapat segera direspons melalui kebijakan-kebijakan yang adil, solutif, dan berorientasi pada kepentingan pendidikan jangka panjang.

Di akhir kegiatan, Suraji menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Kepala BKPSDM Kabupaten Bangkalan atas pencerahan luar biasa yang diberikan kepada para alumni Pascasarjana Universitas Bakti Indonesia.

“Semoga pendidikan di Kabupaten Bangkalan semakin maju, berkeadilan, dan memberi harapan besar bagi generasi masa depan,” pungkasnya.

foto suraji4

Konferensi Cabang PGRI Burneh di Kota Batu Berlangsung Guyub dan Penuh Keakraban

Kota Batu (25 Januari 2026) — Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Cabang Burneh, Kabupaten Bangkalan, menggelar kegiatan Konferensi Cabang (Koncab) yang berlangsung dengan suasana hangat, guyub, dan penuh keakraban. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Hotel Royal Orchid, Kota Batu, selama dua hari dan diikuti oleh para guru serta pengurus PGRI dari berbagai ranting di Kecamatan Burneh.
Konferensi cabang ini menjadi momentum penting dalam memperkuat silaturahmi antarpendidik, sekaligus ruang refleksi bersama dalam menyikapi arah baru pendidikan di Kabupaten Bangkalan yang kini dipenuhi optimisme seiring hadirnya Kepala Dinas Pendidikan yang baru, Bapak H. Musleh Bahri, S.H., M.H.
Suasana kebersamaan tampak semakin terasa ketika para guru dan peserta Koncab secara terbuka saling menyampaikan gagasan, masukan, dan harapan. Berbagai isu strategis pendidikan turut menjadi bahan diskusi, mulai dari pemenuhan hak-hak guru, pemerataan pendidikan, hingga keadilan dalam distribusi ASN, baik di lembaga pendidikan negeri maupun swasta.
Dalam forum tersebut, Syamsul Arifin terpilih sebagai Ketua PGRI Cabang Burneh. Dalam sambutannya, ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah berpartisipasi aktif dan menjaga suasana kebersamaan selama kegiatan berlangsung.
“Konferensi ini bukan hanya forum organisasi, tetapi juga menjadi sarana untuk menghilangkan kepenatan para guru yang selama ini telah full menjalankan tugas pokok dan fungsinya di sekolah masing-masing,” ujarnya.
Sementara itu, Saihol Subarjo, selaku Sekretaris PGRI Cabang Burneh terpilih, menegaskan komitmennya bahwa PGRI harus tetap menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan kepentingan guru.
“Walaupun kami berada di tingkat cabang, kami tetap berkomitmen memperjuangkan hak-hak guru dan kepentingan pendidikan. Jika diperlukan, aspirasi tersebut akan kami suarakan hingga ke tingkat pusat,” tegasnya.
Selain agenda Konferensi Cabang PGRI, kegiatan ini juga dirangkai dengan pemilihan pengurus Kwartir Ranting Gerakan Pramuka Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan. Dari hasil musyawarah, Bapak Mustono, M.Pd. terpilih sebagai Ketua Kwartir Ranting. Ia dikenal sebagai kepala sekolah yang kompeten dan memiliki pengalaman panjang di bidang pendidikan.
Dalam kesempatan tersebut, Mustono berharap agar arah baru pendidikan di Bangkalan dapat menjadi harapan cerah dan membawa perubahan positif demi terwujudnya Bangkalan yang lebih maju.
Salah satu peserta kegiatan, Suraji, turut menyampaikan harapannya agar kebersamaan selama dua hari di Kota Batu mampu melahirkan gagasan-gagasan konstruktif bagi kemajuan pendidikan daerah.
“Kepala Dinas Pendidikan yang baru sangat memahami regulasi. Sudah semestinya pendidikan Bangkalan ke depan semakin tertata dan maju,” ungkapnya.
Melalui Konferensi Cabang ini, PGRI Burneh meneguhkan perannya sebagai wadah perjuangan guru sekaligus mitra strategis pemerintah dalam membangun pendidikan Bangkalan yang adil, berkualitas, dan berorientasi pada masa depan.
karya suraji3

Tugas “Baru” Kepala Sekolah dan Guru di Era Budaya Sekolah Aman dan Nyaman

Terbitnya Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman menandai babak baru dalam pengelolaan pendidikan di Indonesia. Regulasi ini tidak hanya menambah daftar aturan administratif, tetapi menghadirkan perubahan mendasar terhadap peran kepala sekolah dan guru dalam membangun iklim pendidikan yang lebih manusiawi dan berkeadaban.

Selama ini, tugas kepala sekolah dan guru sering dipersepsikan sebatas pengelolaan pembelajaran, administrasi, serta pencapaian target kurikulum. Namun, melalui peraturan ini, negara menegaskan bahwa tanggung jawab pendidik jauh melampaui ruang kelas. Sekolah kini dituntut menjadi ruang aman secara fisik, psikologis, sosial, dan digital bagi seluruh warga sekolah.

Bagi kepala sekolah, Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 menghadirkan mandat kepemimpinan yang lebih strategis. Kepala sekolah tidak lagi cukup berperan sebagai manajer administrasi, tetapi harus menjadi pemimpin budaya. Ia dituntut mampu membangun suasana sekolah yang inklusif, mencegah kekerasan sejak dini, serta menciptakan sistem komunikasi yang terbuka antara guru, peserta didik, dan orang tua.

Tugas baru ini menuntut kepala sekolah memiliki sensitivitas sosial dan kecerdasan emosional yang tinggi. Setiap kebijakan sekolah, mulai dari tata tertib hingga pola pembinaan peserta didik, harus berpijak pada prinsip keamanan dan kenyamanan. Pendekatan represif yang selama ini dianggap sebagai bentuk kedisiplinan perlahan harus ditinggalkan, digantikan dengan pembinaan yang edukatif dan bermartabat.

Sementara itu, guru menghadapi pergeseran peran yang tidak kalah penting. Guru tidak hanya bertanggung jawab menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menjadi penjaga iklim kelas yang sehat. Interaksi guru dengan peserta didik kini menjadi bagian dari praktik budaya sekolah aman dan nyaman. Cara berbicara, memberi teguran, hingga menyikapi perbedaan karakter siswa menjadi cerminan nilai yang hidup di sekolah.

Permendikdasmen ini sekaligus menegaskan bahwa kekerasan verbal, tekanan psikologis, dan praktik diskriminatif tidak lagi dapat ditoleransi dalam proses pembelajaran. Guru dituntut menghadirkan keteladanan, empati, dan keadilan dalam setiap aktivitas pendidikan. Kualitas pembelajaran tidak hanya diukur dari hasil akademik, tetapi juga dari rasa aman yang dirasakan peserta didik.

Di era digital, tanggung jawab kepala sekolah dan guru semakin kompleks. Budaya sekolah aman dan nyaman juga mencakup ruang digital, di mana peserta didik sangat rentan terhadap perundungan siber, penyalahgunaan media sosial, dan konten negatif. Sekolah dituntut aktif melakukan edukasi literasi digital, bukan sekadar melarang, tetapi membimbing peserta didik menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Tentu saja, tugas baru ini tidak mudah dijalankan tanpa dukungan sistem. Diperlukan pelatihan berkelanjutan, pendampingan psikososial, serta kebijakan daerah yang sejalan agar kepala sekolah dan guru tidak bekerja sendiri. Tanpa dukungan tersebut, regulasi berisiko menjadi beban tambahan, bukan penguat profesionalisme pendidik.

Namun demikian, jika dijalankan dengan kesadaran dan komitmen bersama, Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 justru dapat mengangkat kembali marwah profesi guru dan kepala sekolah. Mereka tidak hanya dipandang sebagai pengajar, tetapi sebagai penjaga peradaban kecil bernama sekolah—tempat nilai kemanusiaan ditanamkan sejak dini.

Pada akhirnya, tugas baru kepala sekolah dan guru bukanlah beban, melainkan panggilan moral. Pendidikan yang aman dan nyaman adalah fondasi bagi lahirnya generasi yang sehat secara mental, kuat secara karakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Melalui peraturan ini, pemerintah telah membuka arah, kini tinggal bagaimana seluruh insan pendidikan melangkah bersama untuk mewujudkannya.

Link :

https://jdih.kemendikdasmen.go.id/sjdih/siperpu/dokumen/salinan/Salinan%20Permendikdasmen%20Nomor%206%20Tahun%202026%20-%20BSAN%20(JDIH).pdf

foto suraji5

Sederhana dalam Struktur, Kuat dalam Mutu Pendidikan Bangkalan

Terbitnya Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman menandai babak baru dalam pengelolaan pendidikan di Indonesia. Regulasi ini tidak hanya menambah daftar aturan administratif, tetapi menghadirkan perubahan mendasar terhadap peran kepala sekolah dan guru dalam membangun iklim pendidikan yang lebih manusiawi dan berkeadaban.

Selama ini, tugas kepala sekolah dan guru sering dipersepsikan sebatas pengelolaan pembelajaran, administrasi, serta pencapaian target kurikulum. Namun, melalui peraturan ini, negara menegaskan bahwa tanggung jawab pendidik jauh melampaui ruang kelas. Sekolah kini dituntut menjadi ruang aman secara fisik, psikologis, sosial, dan digital bagi seluruh warga sekolah.

Bagi kepala sekolah, Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 menghadirkan mandat kepemimpinan yang lebih strategis. Kepala sekolah tidak lagi cukup berperan sebagai manajer administrasi, tetapi harus menjadi pemimpin budaya. Ia dituntut mampu membangun suasana sekolah yang inklusif, mencegah kekerasan sejak dini, serta menciptakan sistem komunikasi yang terbuka antara guru, peserta didik, dan orang tua.

Tugas baru ini menuntut kepala sekolah memiliki sensitivitas sosial dan kecerdasan emosional yang tinggi. Setiap kebijakan sekolah, mulai dari tata tertib hingga pola pembinaan peserta didik, harus berpijak pada prinsip keamanan dan kenyamanan. Pendekatan represif yang selama ini dianggap sebagai bentuk kedisiplinan perlahan harus ditinggalkan, digantikan dengan pembinaan yang edukatif dan bermartabat.

Sementara itu, guru menghadapi pergeseran peran yang tidak kalah penting. Guru tidak hanya bertanggung jawab menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menjadi penjaga iklim kelas yang sehat. Interaksi guru dengan peserta didik kini menjadi bagian dari praktik budaya sekolah aman dan nyaman. Cara berbicara, memberi teguran, hingga menyikapi perbedaan karakter siswa menjadi cerminan nilai yang hidup di sekolah.

Permendikdasmen ini sekaligus menegaskan bahwa kekerasan verbal, tekanan psikologis, dan praktik diskriminatif tidak lagi dapat ditoleransi dalam proses pembelajaran. Guru dituntut menghadirkan keteladanan, empati, dan keadilan dalam setiap aktivitas pendidikan. Kualitas pembelajaran tidak hanya diukur dari hasil akademik, tetapi juga dari rasa aman yang dirasakan peserta didik.

Di era digital, tanggung jawab kepala sekolah dan guru semakin kompleks. Budaya sekolah aman dan nyaman juga mencakup ruang digital, di mana peserta didik sangat rentan terhadap perundungan siber, penyalahgunaan media sosial, dan konten negatif. Sekolah dituntut aktif melakukan edukasi literasi digital, bukan sekadar melarang, tetapi membimbing peserta didik menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Tentu saja, tugas baru ini tidak mudah dijalankan tanpa dukungan sistem. Diperlukan pelatihan berkelanjutan, pendampingan psikososial, serta kebijakan daerah yang sejalan agar kepala sekolah dan guru tidak bekerja sendiri. Tanpa dukungan tersebut, regulasi berisiko menjadi beban tambahan, bukan penguat profesionalisme pendidik.

Namun demikian, jika dijalankan dengan kesadaran dan komitmen bersama, Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 justru dapat mengangkat kembali marwah profesi guru dan kepala sekolah. Mereka tidak hanya dipandang sebagai pengajar, tetapi sebagai penjaga peradaban kecil bernama sekolah—tempat nilai kemanusiaan ditanamkan sejak dini.

Pada akhirnya, tugas baru kepala sekolah dan guru bukanlah beban, melainkan panggilan moral. Pendidikan yang aman dan nyaman adalah fondasi bagi lahirnya generasi yang sehat secara mental, kuat secara karakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Melalui peraturan ini, pemerintah telah membuka arah, kini tinggal bagaimana seluruh insan pendidikan melangkah bersama untuk mewujudkannya

foto suraji

Pengawas Sekolah Laksanakan Supervisi di UPTD SDN Jambu 2, Dorong Pendidikan yang Maju dan Berkeadilan

Burneh, 30 Januari 2026 — Pengawas Sekolah Dasar Kecamatan Burneh terus menunjukkan komitmennya dalam membangun pendidikan yang lebih maju dan berkeadilan melalui kegiatan supervisi rutin di lembaga binaan. Salah satu kegiatan tersebut dilaksanakan di UPTD SDN Jambu 2, Kecamatan Burneh, pada pekan ini.
Dalam kegiatan supervisi tersebut, Amyasun selaku pengawas sekolah tampak antusias melakukan wawancara dan dialog langsung dengan Suraji, Kepala UPTD SDN Jambu 2. Supervisi ini merupakan bagian dari agenda rutin pengawas sekolah dalam rangka pembinaan, pendampingan, serta peningkatan mutu layanan pendidikan di sekolah dasar.
Pada kesempatan tersebut, Amyasun selaku pengawas sekolah menyampaikan sejumlah pertanyaan strategis kepada kepala sekolah, khususnya yang berkaitan dengan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat). Pengawas menekankan pentingnya pemetaan kekuatan dan kelemahan sekolah sebagai dasar perumusan program pengembangan sekolah ke depan.
Menanggapi hal tersebut, Suraji dengan tegas menjelaskan bahwa salah satu kekuatan utama UPTD SDN Jambu 2 terletak pada penguatan kerja sama antara lingkungan sekolah dengan lingkungan masyarakat. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus dibangun melalui korelasi yang kuat antara sekolah, orang tua, dan masyarakat sekitar.
“Sinergi antara sekolah dan masyarakat menjadi kunci utama terciptanya pembelajaran yang nyaman, aman, dan bermakna. Hal inilah yang terus kami bangun di SDN Jambu 2,” ungkap Suraji.
Ia menambahkan bahwa upaya tersebut telah memberikan dampak positif, di antaranya meningkatnya dukungan masyarakat terhadap sekolah, proses pembelajaran yang berjalan dengan cukup baik, serta peningkatan layanan fasilitas pendidikan. Beberapa fasilitas pendukung seperti gedung UKS dan toilet baru kini telah tersedia, sehingga memberikan kenyamanan dan pelayanan yang lebih optimal bagi peserta didik.
Dengan kondisi tersebut, pihak sekolah berharap dapat terus memperbaiki berbagai kelemahan yang masih ada serta meningkatkan segala potensi kebaikan demi terwujudnya peningkatan mutu pembelajaran dan prestasi siswa yang semakin maju.
Di akhir kegiatan, Kepala UPTD SDN Jambu 2 menyampaikan ucapan terima kasih kepada pengawas sekolah yang selama ini terus memberikan pembinaan, arahan, dan pendampingan secara berkelanjutan demi kemajuan sekolah.
“Kami sangat berterima kasih atas bimbingan dan pembinaan yang terus diberikan. Semoga kolaborasi ini dapat membawa SDN Jambu 2 menjadi sekolah yang semakin berkualitas,” pungkasnya.
karya suraji2

Hampir Setahun Tanpa Korwil Pendidikan: Bukti Efektivitas Birokrasi Pendidikan di Kecamatan Burneh

Sudah hampir satu tahun Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan, berjalan tanpa keberadaan Koordinator Wilayah (Korwil) Bidang Pendidikan. Namun menariknya, kondisi tersebut justru menunjukkan situasi yang relatif kondusif, stabil, dan efektif, baik dalam pelayanan administrasi pendidikan maupun dalam proses pembelajaran di satuan pendidikan.

Selama masa tanpa Korwil bidang pendidikan tersebut, pelayanan administrasi bagi ASN guru tetap berjalan sebagaimana mestinya. Proses pengelolaan data, koordinasi kegiatan sekolah, hingga pelaksanaan program pendidikan tidak mengalami hambatan berarti. Bahkan, dalam praktiknya, banyak pihak menilai pelayanan menjadi lebih sederhana, cepat, dan tidak berbelit.

Fakta ini menjadi bukti empiris bahwa keberadaan Korwil bidang pendidikan di tingkat kecamatan sejatinya bukan satu-satunya penentu kelancaran tata kelola pendidikan. Justru, tanpa lapisan birokrasi tambahan, berbagai urusan dapat diselesaikan secara lebih efisien dan terukur.

Kondisi di Kecamatan Burneh ini secara tidak langsung sejalan dengan wacana dan rencana Pemerintah Kabupaten Bangkalan yang mengarah pada penghapusan Korwil bidang pendidikan di setiap kecamatan. Apa yang terjadi di Burneh dapat dijadikan parameter dan bahan evaluasi nyata bagi kecamatan lain yang hingga kini masih memiliki struktur Korwil pendidikan.

Dari perspektif administrasi kependidikan, penghapusan Korwil dinilai sangat relevan dengan semangat reformasi birokrasi. Pemangkasan jalur koordinasi terbukti mampu mengurangi tumpang tindih kewenangan serta mempercepat proses pengambilan keputusan di tingkat satuan pendidikan.

Ke depan, apabila Korwil bidang pendidikan benar-benar ditiadakan, maka peran strategis akan berada pada Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) untuk jenjang SD dan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) untuk jenjang SMP. Kedua forum ini sejatinya telah memiliki legitimasi, pengalaman, serta kedekatan langsung dengan kebutuhan riil sekolah.

Optimalisasi peran K3S dan MKKS menjadi kunci penting agar arah kebijakan pendidikan tetap berjalan terkoordinasi, partisipatif, dan berbasis kebutuhan lapangan. Dengan demikian, pola kepemimpinan kolektif dan kolaboratif antar kepala sekolah akan semakin menguat.

Di sisi lain, keberadaan Dewan Pendidikan Kabupaten Bangkalan juga patut diapresiasi, khususnya karena hingga saat ini Bupati Bangkalan belum melakukan seleksi ulang. Namun demikian, keberadaan Dewan Pendidikan juga perlu dikaji ulang secara objektif, mengingat masa kerja yang telah berakhir sejak Desember 2025.

Evaluasi tersebut penting dilakukan dalam rangka efektivitas dan efisiensi anggaran daerah, agar alokasi pembiayaan dapat dimaksimalkan pada sektor-sektor yang lebih langsung menyentuh mutu layanan pendidikan.

Dengan hadirnya kepala dinas pendidikan yang baru, arah baru pembangunan pendidikan di Kabupaten Bangkalan diharapkan semakin jelas dan progresif. Pemangkasan birokrasi, efisiensi anggaran, serta penguatan peran pelaku pendidikan di lapangan harus menjadi prioritas utama

Pada akhirnya, kebijakan ini diharapkan mampu mendorong kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, serta seluruh stakeholder pendidikan di Bangkalan untuk berlomba-lomba menghadirkan inovasi, meningkatkan mutu, dan menumbuhkan budaya kompetisi yang sehat dalam koridor nilai-nilai positif.

Jika dikelola dengan tepat, langkah ini bukan sekadar penghapusan struktur, melainkan transformasi tata kelola pendidikan menuju Bangkalan yang lebih maju, efektif, dan berdaya saing.