Suraji.my.id | Bangkalan — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menempati posisi teratas dalam daftar 10 menteri dengan penilaian kinerja terbaik berdasarkan survei Arawicaksa Institute yang dirilis pada Selasa (13/10/2026). Abdul Mu’ti memperoleh skor 8,1 dari skala 0–10, mengungguli sembilan menteri lainnya.
Hasil survei tersebut menjadi salah satu potret penilaian publik terhadap kinerja pemerintah. Bagi dunia pendidikan, capaian ini menarik dicermati karena sektor pendidikan tengah menjalani berbagai agenda transformasi, mulai dari perbaikan infrastruktur sekolah, penguatan digitalisasi, hingga pembaruan pendekatan pembelajaran di ruang kelas.
Dikutip dari pemberitaan RMOL, survei Arawicaksa Institute dilaksanakan pada 3–8 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.200 responden yang mewakili seluruh provinsi di Indonesia. Survei menggunakan wawancara tatap muka dengan metode multistage random sampling, margin of error ±2,89 persen, dan tingkat kepercayaan 95 persen.
Revitalisasi Sekolah Menjadi Fondasi Pendidikan Bermutu
Menanggapi hasil survei tersebut, Suraji, M.Pd., praktisi pendidikan yang juga Kepala UPTD SDN Jambu 2, Kabupaten Bangkalan, menilai bahwa perhatian publik terhadap kinerja Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah tidak dapat dilepaskan dari berbagai program yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan sekolah.
“Pendidikan bukan hanya soal kebijakan di atas kertas. Dampaknya harus benar-benar dirasakan oleh kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, dan masyarakat. Ketika gedung sekolah yang rusak diperbaiki, fasilitas pembelajaran ditingkatkan, serta guru mendapatkan dukungan untuk berinovasi, di situlah kebijakan pendidikan mulai dirasakan manfaatnya,” ujar Suraji.
Menurutnya, program revitalisasi sekolah melalui mekanisme swakelola memiliki arti penting karena mendorong keterlibatan satuan pendidikan dan masyarakat dalam memperbaiki lingkungan belajar. Pendekatan tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan bangunan yang lebih layak, tetapi juga memperkuat rasa memiliki, transparansi, dan tanggung jawab bersama terhadap fasilitas pendidikan.
Suraji menambahkan, keberhasilan revitalisasi tidak semestinya diukur hanya dari jumlah gedung yang selesai dibangun atau diperbaiki. Ukuran yang lebih substantif adalah sejauh mana ruang belajar menjadi aman, nyaman, sehat, dan mampu mendukung proses pembelajaran yang berkualitas.
“Gedung sekolah yang baik merupakan fondasi. Namun, fondasi itu harus dilanjutkan dengan pembelajaran yang bermakna. Jangan sampai bangunannya sudah bagus, tetapi proses pembelajarannya masih berjalan dengan pola lama yang kurang memberi ruang bagi kreativitas dan potensi peserta didik,” tegasnya.
Laptop dan Papan Interaktif Digital Percepat Transformasi Pembelajaran
Selain pembangunan dan perbaikan infrastruktur, bantuan perangkat teknologi berupa laptop dan Papan Interaktif Digital (PID) menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat ekosistem digital pendidikan.
Menurut Suraji, kehadiran perangkat tersebut membuka peluang lebih luas bagi guru untuk menghadirkan pembelajaran yang interaktif, kontekstual, dan sesuai dengan perkembangan zaman. Materi pelajaran dapat disajikan melalui visualisasi, video pembelajaran, simulasi, maupun berbagai sumber belajar digital yang membantu peserta didik memahami konsep secara lebih mendalam.
Namun, ia mengingatkan bahwa keberadaan perangkat digital tidak otomatis meningkatkan kualitas pendidikan apabila tidak disertai kesiapan sumber daya manusia dan perubahan strategi pembelajaran.
“Laptop dan PID jangan hanya menjadi pajangan di ruang kelas. Keduanya harus menjadi alat untuk meningkatkan kualitas interaksi antara guru dan peserta didik. Teknologi harus membantu anak berpikir, bertanya, berdiskusi, bereksperimen, dan menghasilkan karya, bukan sekadar memindahkan materi dari buku ke layar,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pemerataan pemanfaatan teknologi di seluruh satuan pendidikan, termasuk sekolah di daerah terpencil dan wilayah yang masih menghadapi keterbatasan jaringan internet. Pemerataan pendidikan digital, menurutnya, bukan sekadar membagikan perangkat, melainkan memastikan semua sekolah memiliki kesempatan yang setara untuk memanfaatkannya.
Pembelajaran Mendalam Harus Hadir di Ruang Kelas
Di sisi lain, Suraji menilai penguatan Pembelajaran Mendalam atau Deep Learning menjadi agenda strategis dalam menjawab tantangan pendidikan masa kini.
Pendekatan ini menekankan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Peserta didik tidak hanya diarahkan untuk menghafal materi, tetapi juga memahami konsep, menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan sehari-hari, berpikir kritis, berkolaborasi, serta mampu menerapkan apa yang dipelajari dalam situasi nyata.
Menurutnya, Pembelajaran Mendalam akan semakin kuat apabila didukung oleh lingkungan sekolah yang memadai, guru yang kompeten, kepemimpinan sekolah yang adaptif, dan pemanfaatan teknologi secara tepat.
“Revitalisasi sekolah, bantuan laptop, PID, dan Pembelajaran Mendalam tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Semuanya harus terhubung dalam satu ekosistem pendidikan. Infrastruktur menyediakan ruang belajar yang layak, teknologi memperkaya pengalaman belajar, sedangkan guru memastikan proses pembelajaran benar-benar membangun kompetensi dan karakter peserta didik,” ungkapnya.
Ia menambahkan, keberhasilan transformasi pendidikan juga perlu dilihat dari perkembangan kemampuan literasi, numerasi, karakter, kreativitas, dan kemandirian peserta didik. Karena itu, evaluasi kebijakan pendidikan harus dilakukan secara berkelanjutan dengan memperhatikan kondisi nyata sekolah serta capaian belajar anak.
Pendidikan Bermutu untuk Semua Bukan Sekadar Tagline
Suraji menegaskan bahwa semangat “Pendidikan Bermutu untuk Semua” harus menjadi komitmen bersama, bukan hanya tagline dalam program pemerintah. Prinsip tersebut menuntut agar setiap anak, tanpa memandang latar belakang sosial, kondisi ekonomi, maupun lokasi tempat tinggal, memperoleh kesempatan belajar yang berkualitas.
Ia mengapresiasi berbagai upaya pemerintah dalam memperkuat infrastruktur dan digitalisasi pendidikan. Namun, ia juga mengingatkan bahwa tantangan pendidikan Indonesia masih besar, terutama dalam pemerataan mutu antarsekolah, penguatan kompetensi guru, pemanfaatan teknologi secara efektif, serta peningkatan kemampuan dasar peserta didik.
“Apabila kebijakan revitalisasi sekolah, digitalisasi, dan Pembelajaran Mendalam dilaksanakan secara konsisten serta saling menguatkan, manfaatnya akan dirasakan lebih luas oleh pelaku pendidikan di seluruh Tanah Air. Yang paling penting, anak-anak Indonesia harus memperoleh pengalaman belajar yang lebih baik dan memiliki bekal untuk menghadapi masa depan,” katanya.
Ia berharap hasil survei terhadap kinerja para menteri dapat menjadi momentum untuk memperkuat komitmen, sekaligus mendorong evaluasi yang objektif terhadap pelaksanaan program pemerintah. Apresiasi publik, menurutnya, perlu diikuti dengan konsistensi kerja, keterbukaan terhadap masukan, dan keberanian memperbaiki berbagai kekurangan.
“Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari popularitas pejabat atau banyaknya program yang diluncurkan. Ukuran utamanya adalah apakah anak-anak kita semakin cerdas, berkarakter, kreatif, dan memiliki kesempatan yang adil untuk meraih masa depan. Itulah makna sesungguhnya dari pendidikan bermutu untuk semua,” pungkas Suraji.
Sumber: RMOL, “Ini 10 Menteri Terbaik Versi Survei Arawicaksa Institute”, 13 Oktober 2026.
Penulis: Redaksi Suraji.my.id


Add a Comment