IMG-20260504-WA0001

“Di Antara Rel dan Bahasa: Kisah Perjalanan Pulang yang Menyatukan Indonesia dan Aljazair”

Perjalanan pulang itu terasa berbeda. Sore 2 Mei 2026, selepas mengikuti wisuda tahap kedua pascasarjana dan kegiatan Kemendikdasmen di Taman Blambangan, saya melangkah menuju stasiun di Banyuwangi dengan hati penuh syukur sekaligus lelah yang terbayar. Hari itu bukan sekadar penutup rangkaian kegiatan akademik mahasiswa saya, tetapi juga awal dari sebuah perjalanan reflektif menuju Surabaya.

Kereta yang saya naiki, rangkaian Blambangan Express, berangkat tepat pukul 16.15 WIB. Saya duduk di kursi yang sudah ditentukan, bersiap menikmati perjalanan sekitar lima jam. Namun, perjalanan ini ternyata bukan sekadar perpindahan dari satu kota ke kota lain—melainkan perjalanan lintas budaya dan perspektif.

Di samping saya duduk seorang guru asal Aljazair bernama Mr. Houari Boum. Ia baru dua minggu berada di Indonesia. Dari awal perkenalan, kami langsung menyadari satu hal: bahasa akan menjadi jembatan sekaligus tantangan. Ia berbicara dalam bahasa Inggris dengan cukup fasih, sementara saya berusaha menyesuaikan kemampuan saya yang tidak sefasih beliau. Namun justru di situlah letak keindahannya—kami sama-sama belajar, saling memahami, dan saling menghargai keterbatasan.

Percakapan kami mengalir dari hal sederhana hingga mendalam. Ia bercerita tentang kehidupan sosial di Aljazair, tentang bagaimana masyarakatnya memegang teguh nilai budaya dan agama. Saya pun berbagi tentang Indonesia—tentang keberagaman, gotong royong, hingga dinamika pendidikan. Kami juga menyentuh topik politik luar negeri, membandingkan bagaimana kedua negara memandang dunia dan perannya masing-masing.

Di tengah perjalanan, saya menunjukkan sebuah video YouTube tentang kerapan sapi Madura. Matanya berbinar melihat tradisi yang begitu unik dan penuh semangat. Ia tampak sangat tertarik, bahkan beberapa kali bertanya detail tentang makna budaya di balik perlombaan tersebut. Dari situ, saya merasa bahwa budaya lokal yang sering kita anggap biasa ternyata mampu memukau mata dunia.

Yang paling mengesankan bukan hanya isi percakapan kami, tetapi suasana kebersamaan yang terbangun. Dua orang dari latar belakang berbeda, bahasa berbeda, bahkan benua berbeda—duduk berdampingan dalam satu gerbong kereta, berbagi cerita, tawa, dan pemahaman baru. Perjalanan yang awalnya terasa panjang justru terasa singkat karena dipenuhi makna.

Saat kereta mulai mendekati Surabaya sekitar pukul 21.30 WIB, saya menyadari bahwa perjalanan ini telah memberi lebih dari sekadar perpindahan fisik. Ia memberi pelajaran tentang keterbukaan, keberanian berkomunikasi, dan pentingnya menjalin hubungan lintas budaya.

Kadang, inspirasi tidak datang dari panggung besar atau forum resmi, tetapi justru dari kursi kereta yang sederhana—dari percakapan tulus antara dua insan yang ingin saling belajar.
Dan malam itu, saya pulang bukan hanya membawa gelar dan pengalaman akademik, tetapi juga membawa cerita yang akan terus hidup dalam ingatan.

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *