Perjalanan malam itu dimulai dari Surabaya dengan suasana yang tak biasa—sunyi, sedikit tergesa, tapi juga penuh harap. Saya menaiki kereta eksekutif Wijaya Kusuma menuju Banyuwangi, sebuah perjalanan yang sudah saya tahu akan panjang, namun ternyata menyimpan cerita tersendiri.
Begitu duduk di kursi, satu hal langsung terasa: dingin. AC di gerbong eksekutif benar-benar “niat”—menusuk sampai ke tulang. Sayangnya, saya datang dengan persiapan yang kurang matang. Jaket tertinggal. Awalnya mencoba bertahan, tapi semakin malam, hawa dingin semakin tak bersahabat. Akhirnya, dengan sedikit rasa pasrah, saya memutuskan menyewa selimut dari petugas kereta. Sebuah keputusan kecil yang terasa seperti penyelamat malam itu.
Kereta melaju perlahan meninggalkan Surabaya, membawa saya ke arah timur pulau Jawa. Perjalanan sekitar lima jam menuju Banyuwangi memang bukan waktu yang sebentar. Tapi justru di situlah letak keistimewaannya. Di dalam ruang terbatas itu, waktu seakan melambat—memberi ruang untuk berpikir, merenung, dan menyelesaikan hal-hal yang selama ini tertunda.
Saya mulai membuka buku, mencoba membaca beberapa halaman. Lalu beralih ke gadget, mengecek pekerjaan yang belum selesai. Bahkan sempat mengedit jurnal yang sudah lama menunggu revisi. Aneh tapi nyata, di tengah dinginnya kabin dan gemuruh rel, justru fokus terasa lebih tajam. Tidak ada distraksi berlebihan—hanya saya, pekerjaan, dan perjalanan.
Sesekali, suasana dihangatkan oleh wedang jahe yang dijual di kereta. Hangatnya merambat perlahan, menyeimbangkan dinginnya AC yang tak kunjung kompromi. Perpaduan sederhana, tapi cukup membuat malam itu terasa lebih bersahabat.
Perjalanan kali ini saya jalani sendiri. Rombongan lain sudah berangkat lebih dulu. Saya hanya menyusul, mendampingi teman-teman mahasiswa UBI yang akan menjalani momen penting: yudisium. Meski sendiri, perjalanan ini justru memberi ruang refleksi yang lebih dalam. Tentang perjuangan, tentang proses, dan tentang bagaimana setiap langkah kecil tetap berarti.
Dan benar saja, lima jam yang terasa panjang itu ternyata sangat produktif. Tugas-tugas yang menumpuk perlahan terselesaikan. Hal-hal yang tertunda akhirnya menemukan titik akhir. Seolah perjalanan ini bukan hanya perpindahan tempat, tapi juga penyelesaian tanggung jawab.
Akhirnya, kereta tiba di Banyuwangi. Malam mulai berganti menuju pagi. Ada rasa lega, ada rasa syukur, dan tentu saja—ada cerita yang akan selalu diingat.
Selamat untuk teman-teman yang hari ini melaksanakan yudisium. Semoga gelar master yang diraih bukan sekadar titel, tetapi menjadi jalan untuk meningkatkan kompetensi, memperluas manfaat, dan memberikan kontribusi nyata bagi banyak orang.


Add a Comment